Oleh: Ali Mustofa Akbar
Baru saja, dunia kembali menyaksikan tragedi yang menyayat hati. Tiga Muslim gugur syahid dalam penembakan di San Diego, tepatnya di Islamic Center of San Diego, salah satu masjid terbesar di wilayah tersebut. Di antara para korban terdapat seorang petugas keamanan bernama Amin Abdullah, yang dengan heroik menghadang pelaku dan menyelamatkan banyak anak yang berada di kompleks masjid. MasyaAllah!
Beberapa hari lalu, Amin sempat membuat status di Facebooknya:
“Apa itu kesuksesan?. Bagi banyak orang, kesuksesan berarti kestabilan finansial, reputasi yang baik (di mata manusia), kecantikan, dan berbagai pencapaian duniawi lainnya. Adapun bagi saya, demi Allah, demi Allah sekali lagi, kesuksesan sejati adalah kembali kepada Allah, Sang Khaliq kita, dengan membawa jiwa yang tetap suci sebagaimana Dia titipkan kepada saya sejak lahir. Kesuksesan adalah ketika para malaikat Allah Ta‘ala berkata: “Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati. Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu oleh Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Semoga Allah Ta‘ala menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah. Aamiin”
Padahal, mereka tidak membawa senjata untuk menyerang siapa pun. Mereka sedang berada di rumah Allah, pada hari-hari mulia bulan Dzulhijjah. Namun, Islamofobia yang dipelihara oleh propaganda dan hipokrisi merenggut nyawa mereka.
Hipokrisi Barat dalam Term Terorisme
Peristiwa ini sekali lagi memperlihatkan standar ganda yang telah lama mengakar dalam wacana global. Bukan hanya di San Diego, tapi juga di beberapa tempat lain di Barat.
Ketika pelaku kekerasan adalah seorang Muslim, istilah “terorisme” segera mendominasi tajuk berita. Identitas agama diangkat ke permukaan, komunitas muslim dipaksa menjelaskan diri, dan Islam sebagai ajaran ikut dicurigai.
Namun ketika korbannya adalah muslim dan pelakunya didorong oleh kebencian anti-Islam, media dan elite politik sering memilih istilah yang lebih lunak: “lone wolf”, “disturbed teenager,” atau, “hate incident.”
Ini bukan sekadar persoalan penggunaan istilah. Ini adalah persoalan struktur kekuasaan dan bias peradaban. Definisi terorisme ternyata tidak selalu ditentukan oleh tindakan, melainkan oleh siapa yang menjadi pelaku dan siapa yang menjadi korban.
Padahal secara objektif, menembaki jamaah di tempat ibadah karena identitas agama mereka adalah terorisme dalam bentuk paling nyata.
Peradaban modern Barat sering membanggakan pluralisme, hak asasi manusia, dan toleransi. Namun realitas menunjukkan sebaliknya.
Penyerangan masjid, muslim diserang, perempuan berhijab dilecehkan. Simbol-simbol Islam dijadikan sasaran kebencian. Pada saat yang sama, dunia diminta percaya bahwa sistem ini adalah puncak kemajuan manusia.
Bukti Kegagalan Kapitalisme
Tragedi di San Diego menunjukkan bahwa toleransi yang dibanggakan itu kerap rapuh. Ia mudah runtuh ketika propaganda, politik identitas, dan dehumanisasi terhadap Muslim dibiarkan atas nama kebebasan individu.
Namun ironisnya, dunia sering menuduh Islam tidak kompatibel dengan pluralitas. Padahal tuduhan ini bertolak belakang dengan fakta.
Selama berabad-abad, peradaban Islam menaungi masyarakat multiagama dan multi-etnis. Kaum Yahudi, Nasrani, dan kelompok lain hidup berdampingan di bawah pemerintahan Islam. Mereka memiliki hak beribadah, perlindungan jiwa, harta, dan kehormatan.
Sebagai contoh, Convivencia di Andalusia bagaimana komunitas Muslim, Yahudi, dan Kristen berkembang bersama dalam lingkungan intelektual dan sosial yang relatif stabil. Jerusalem di bawah pemerintahan Islam juga memberikan jaminan keamanan bagi pemeluk agama yang berbeda.
Bahkan pada masa kini, banyak negeri mayoritas muslim, meskipun belum menerapkan Islam secara sempurna sebagai sistem peradaban namun Islam tetap di emban oleh individu-individilu, menunjukkan pola kehidupan sosial yang relatif toleran di tengah kemajemukam. Rumah ibadah berdiri berdampingan, dan komunitas minoritas hidup sebagai bagian dari masyarakat.
Syuhada yang Mengungkap Wajah Dunia
Tiga muslim yang gugur di San Diego tidak hanya menjadi korban kebencian. Mereka menjadi saksi hidup, dan kini saksi di hadapan Allah, atas kontradiksi dunia modern.
Mereka memperlihatkan bahwa; muslim masih menjadi sasaran kebencian global. Retorika toleransi tidak selalu diikuti keadilan nyata. Tuduhan bahwa Islam mengancam kemajemukan justru dipatahkan oleh fakta.
Tragedi ini seharusnya mendorong refleksi mendalam bahwa kemajemukan tidak cukup dijaga oleh slogan belaka. Ia membutuhkan sistem yang kokoh. Islam telah membuktikan, baik secara normatif maupun historis, bahwa masyarakat majemuk dapat hidup dalam keadilan ketika hukum ditegakkan dengan baik.
Semoga Allah menerima ketiga saudara kita sebagai syuhada, melapangkan kubur mereka, dan menempatkan mereka di surga terbaik.*
Penulis adalah dosen dan pembelajar sejarah




