Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Ahmad
Terakhir diupdate: 13 Mei 2026 11:22 11:22 am
Ahmad
Dipublikasikan 13 Mei 2026 11:22
Bagikan
Bagikan

Perbedaan pendapat akan menjadi rahmat bila dikelola dengan ilmu, adab, dan hati yang lapang, bukan dengan ego dan fanatisme

Oleh: Ridwan Ma’ruf

Hidayatullah.com | PERBEDAAN PENDAPAT dalam Islam bukanlah sesuatu yang asing. Sejak generasi sahabat, para ulama telah mengenal adanya ikhtilaf dalam memahami persoalan syariat. Namun, yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan perbedaan itu sendiri, melainkan bagaimana cara mengelolanya. Di sinilah pentingnya memahami “manajemen ikhtilaf” sebagai bagian dari kedewasaan intelektual dan kematangan spiritual umat.

Dalam ilmu manajemen modern, dikenal istilah Essentials of Management, yakni prinsip-prinsip dasar untuk mengelola organisasi secara efektif dan efisien.

Dalam konteks syariat Islam, prinsip serupa juga berlaku dalam mengelola perbedaan pendapat. Tujuannya bukan sekadar mencari titik temu, melainkan menjaga persatuan umat agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Islam memandang perbedaan sebagai sunnatullah—ketetapan Allah yang memang akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Karena itu, ikhtilaf harus dihadapi dengan ilmu, adab, dan kejernihan hati. Jika dikelola dengan benar, perbedaan justru melahirkan keluasan wawasan, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali ‘Imran: 105)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa dakwah terbesar bukan hanya menyeru kepada kebaikan, tetapi juga menjaga kesejukan hati sesama Muslim. Sebaik-baik ajakan adalah mengajak umat berpegang teguh kepada tali Allah—Al-Qur’an dan As-Sunnah al-Maqbulah—serta menjauhi perselisihan yang merusak ukhuwah.

Mencari Kebenaran, Bukan Memenangkan Ego

Hakikat diskusi dalam Islam adalah tafaqquh, yakni upaya bersama mencari kebenaran berdasarkan dalil yang paling kuat. Karena itu, dialog harus dibangun di atas ilmu dan data, bukan emosi atau ambisi pribadi.

Ketika ego mendominasi, diskusi berubah menjadi arena pembuktian diri. Kritik dianggap serangan pribadi, sementara lawan bicara diposisikan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Akibatnya, tujuan mencari kebenaran hilang, digantikan keinginan memperoleh pengakuan dan pujian.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa perdebatan yang tidak dilandasi ilmu dan adab hanya akan menumbuhkan permusuhan. Sebaliknya, diskusi yang sehat menuntut kerendahan hati dan kesediaan menerima kemungkinan bahwa pendapat sendiri bisa saja kurang tepat.

Kelapangan Hati sebagai Tanda Kedewasaan

Mengelola ikhtilaf memerlukan kesabaran dan kelapangan dada. Orang yang lapang hati tidak mudah tersinggung ketika pendapatnya dibantah. Ia memahami bahwa tujuan diskusi adalah menemukan kebenaran bersama, bukan mempertahankan gengsi pribadi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Setinggi apa pun ilmu manusia, tetap hanya setetes dibanding luasnya ilmu Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap terbuka terhadap pandangan orang lain serta mencegah seseorang merasa paling benar sendiri.

Bahaya Ta‘ashub dan Fanatisme Kelompok

Salah satu penyakit terbesar dalam perbedaan pendapat adalah ta‘ashub—fanatisme buta terhadap kelompok atau golongan sendiri. Sikap ini membuat seseorang sulit menerima kebenaran jika datang dari pihak yang berbeda.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang ashabiyah, lalu beliau menjawab:

أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

“Engkau menolong kaummu dalam kezaliman.” (HR. Abu Dawud)

Fanatisme melahirkan kesombongan intelektual. Orang tidak lagi menilai pendapat berdasarkan dalil, melainkan berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Akibatnya, ruang dialog tertutup dan persaudaraan menjadi rusak.

Padahal, para ulama terdahulu memberikan teladan berbeda. Mereka bisa berselisih tajam dalam masalah fiqih, tetapi tetap saling menghormati dan menjaga persaudaraan. Perbedaan tidak menghalangi mereka untuk saling mendoakan, belajar, bahkan memuji keilmuan satu sama lain.

Menjadikan Perbedaan sebagai Rahmat

Di tengah derasnya perdebatan di media sosial dan menguatnya polarisasi umat, kemampuan mengelola ikhtilaf menjadi kebutuhan mendesak. Perbedaan tidak harus dihapuskan, tetapi harus diarahkan agar tetap berada dalam koridor ilmu, adab, dan persaudaraan.

Menghormati pandangan yang berbeda—selama dibangun di atas argumentasi ilmiah—merupakan tanda kedewasaan berpikir dan kebesaran jiwa. Sebab, tujuan utama seorang Muslim bukan memenangkan perdebatan, melainkan menjaga persatuan dan mencari ridha Allah Ta’ala. Wallahu a‘lam bish-shawab.*

Ketua Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Kabupaten Sidoarjo (2024–2029), Anggota MPP Wakaf PD Muhammadiyah Sidoarjo (2022–2027)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:egofanatismeHeadlineikhtilafperbedaan pendapatrahmat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aparat Keamanan Turki Turki Bongkar Jaringan Dana ISIS, Bekuk 43 Tersangka
Tulisan selanjutnya Atlet hingga Selebriti Irlandia Kompak Desak Boikot Laga Lawan ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni

Berita
27 September 2026 16:44
Lebih dari 160 Atlet Irlandia Serukan Boikot Laga Lawan ‘Israel’
Hari Solidaritas Hijab, Muslimat Hidayatullah Jaksel Ajak Muslimah Bangga Berhijab
LPH Hidayatullah Hadir di MIHAS 2026, Perkuat Jejaring Halal Internasional
Saudi Jatuhkan 2 Drone dan 2 Misil Houthi

Terbaru

  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
  • Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri
  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
  • Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing
  • Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang
  • Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti
  • Patuhi Sanksi Amerika, UEA Larang Penerbangan Iran
  • Menentang Wajib Militer Para Pelajar Jerman Mogok Sekolah

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?