oleh: Ahmad Rohim
Hidayatullah.com – Di tengah dunia yang semakin maju dengan berbagai kemudahan dan pencapaian, manusia justru menghadapi pertanyaan mendasar yang sering terlupakan: untuk apa kita hidup dan ke mana arah perjalanan ini berakhir? Sebab manusia tidak hanya membutuhkan harta, teknologi, dan kesuksesan dunia, tetapi membutuhkan petunjuk yang menghubungkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ketika manusia kehilangan Allah sebagai pusat kehidupan, ia akan kehilangan arah meskipun memiliki segalanya.
Maka pada khutbah hari ini, marilah kita kembali merenungi makna tauhid, bukan hanya sebagai kalimat yang diucapkan, tetapi sebagai keyakinan yang mengarahkan seluruh langkah, amal, dan kehidupan kita.
Khutbah Jumat Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ، ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنَجِّينَا مِنْ عَذَابِهِ وَتُدْخِلُنَا فِي رَحْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَكَشَفَ اللَّهُ بِهِ الْغُمَّةَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di antara pertanyaan terbesar yang dihadapi manusia sepanjang sejarah adalah: untuk apa kita hidup? Ke mana arah perjalanan kita? Dan di atas fondasi apa kehidupan ini harus dibangun?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang tegas. Kehidupan ini bukanlah kebetulan, bukan pula perjalanan tanpa tujuan. Manusia diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena itu, seluruh aspek kehidupan harus berporos kepada-Nya.
Inilah makna tauhid.
Tauhid bukan hanya kalimat yang diucapkan oleh lisan, melainkan keyakinan yang menghidupkan hati, menggerakkan akal, dan mengarahkan seluruh aktivitas kehidupan. Tauhid adalah pandangan hidup yang menjadikan Allah sebagai pusat orientasi berpikir, bersikap, dan bertindak.
Karena itu para nabi tidak memulai dakwah mereka dengan membangun ekonomi, politik, atau kekuatan militer. Mereka memulai semuanya dari tauhid.
Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata:
﴿ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ ﴾
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” (QS. Al-A’raf: 59)
Demikian pula Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Syu’aib, hingga Nabi Muhammad SAW. Semua membawa misi yang sama: mengembalikan manusia kepada tauhid.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini dunia menyaksikan kemajuan yang luar biasa. Teknologi berkembang dengan cepat. Kecerdasan buatan mampu mengerjakan banyak hal yang dahulu hanya dapat dilakukan manusia. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah. Sistem komunikasi semakin canggih.
Namun di balik semua kemajuan itu, manusia justru menghadapi krisis yang semakin dalam.
Krisis keluarga.
Krisis moral.
Krisis kejujuran.
Krisis ketenangan jiwa.
Krisis makna hidup.
Banyak orang kaya tetapi tidak bahagia.
Banyak orang terkenal tetapi gelisah.
Banyak orang berkuasa tetapi jiwanya rapuh, hampa tak bermakna.
Mengapa?
Karena manusia tidak cukup hidup dengan roti, uang, dan teknologi. Hati manusia membutuhkan hubungan dengan Allah.
Ketika manusia menjauh dari Tuhan, maka sesungguhnya ia sedang kehilangan pusat gravitasi kehidupannya. Ia berjalan, tetapi tidak tahu ke mana arah yang dituju. Ia bekerja keras, tetapi tidak memahami untuk apa semua itu dilakukan.
Allah SWT mengingatkan:
﴿ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا ﴾
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit bukan selalu berarti miskin harta. Banyak orang bergelimang kekayaan namun hidup dalam kecemasan. Banyak yang memiliki fasilitas lengkap tetapi kehilangan kedamaian.
Inilah akibat ketika tauhid melemah dalam kehidupan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tauhid tidak hanya membangun hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membangun karakter dan peradaban.
Tauhid melahirkan kejujuran karena seseorang sadar bahwa Allah Maha Melihat.
Tauhid melahirkan amanah karena seseorang yakin bahwa setiap amanah tanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban.
Tauhid melahirkan keberanian karena seseorang hanya takut kepada Allah.
Tauhid melahirkan keadilan karena seseorang memahami bahwa seluruh manusia adalah makhluk Allah.
Perhatikan generasi sahabat Rasulullah SAW.
Sebelum Islam datang, mereka hidup dalam masyarakat dalam kebodohan, mereka terpecah orientasinya, akibatnya sering terjadi peperangan, memuliakan keduniawian, penyembahan berhala, dan ketidakadilan. Namun ketika tauhid meresap ke dalam hati mereka, lahirlah generasi yang mengubah sejarah.
Bilal bin Rabah yang dahulu seorang budak menjadi simbol kemuliaan.
Umar bin Khattab yang dahulu keras menjadi pemimpin yang adil.
Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi teladan kejujuran dan pengorbanan.
Apa rahasia perubahan mereka?
Bukan karena kekayaan.
Bukan karena teknologi.
Bukan karena kekuatan senjata.
Tetapi karena tauhid telah mengubah hati mereka. Tauhid menjadi poros hidupnya.
Dari hati yang bertauhid lahirlah akhlak.
Dari akhlak lahirlah kepercayaan.
Dari kepercayaan lahirlah peradaban.
Jamaah yang berbahagia,
Sebaliknya, ketika tauhid ditinggalkan, manusia akan mencari sesembahan-sesembahan baru.
Ada yang menyembah uang.
Ada yang menyembah jabatan.
Ada yang menyembah popularitas.
Ada yang menyembah hawa nafsu.
Padahal Allah SWT berfirman:
﴿ أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ ﴾
“Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Maka tugas kita hari ini adalah memperbarui tauhid dalam diri kita.
Tauhid dalam ibadah.
Tauhid dalam keluarga.
Tauhid dalam pendidikan.
Tauhid dalam ekonomi.
Tauhid dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Karena hanya dengan tauhid manusia menemukan arah hidup yang benar, dan hanya dengan tauhid peradaban dapat berdiri kokoh menghadapi perubahan zaman.
Allah SWT berfirman:
﴿ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ﴾
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buah pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24–25)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu makna “kalimat yang baik” dalam ayat ini adalah kalimat tauhid: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ. Akarnya menghunjam kuat dalam hati, cabangnya menjulang dalam amal saleh, dan buahnya adalah keberkahan bagi kehidupan manusia.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas tauhid hingga akhir hayat.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Jumat Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tauhid bukan hanya menyelamatkan individu, tetapi juga menjadi fondasi tegaknya masyarakat yang adil dan bermartabat. Ketika tauhid hidup dalam hati umat, maka lahirlah pemimpin yang amanah, pedagang yang jujur, ulama yang ikhlas, dan masyarakat yang saling menghormati.
Allah SWT berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan hati. Dan perubahan hati dimulai dari pemurnian tauhid.
Maka marilah kita jadikan kalimat tauhid sebagai ruh kehidupan, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, dan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.
Doa
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ الْخَالِصِ، وَمِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Arsip lain terkait Khutbah Jumat bisa diklik di SINI. Artikel lain tentang keislaman bisa dibuka www.hidayatullah.com.




