Hidayatullah.com – Sejumlah dokumen rahasia Hamas yang diperoleh situs ‘Israel’ OSINT613 menyangkal salah satu narasi utama Zionis tentang operasi Thufan Al-Aqsha bahwa: serangan itu adalah operasi yang dikordinasikan erat dan direncanakan bersama Iran dan Hizbullah.
Dokumen-dokumen tersebut, pertama kali dipublikasikan koresponden Radio Angkatan Darat ‘Israel’ Doron Kadosh dan dianalisis oleh Pusat Informasi Intelijen dan Terorisme Meir Amit, disajikan oleh sumber-sumber Israel sebagai bukti kontak bertahun-tahun antara Hamas, Hizbullah dan Iran.
Namun, materi yang sama menunjukkan bahwa baik Hizbullah maupun Iran tidak diberitahu sebelumnya tentang waktu atau peluncuran operasional serangan Thufan Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023.
Menurut situs OSINT613, Hamas telah bertahun-tahun berupaya melancarkan serangan multi-front dengan ‘Israel’ dan berulang kali mencoba membujuk Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah untuk bergabung dalam serangan serentak dari Lebanon. Hamas juga mencari dukungan dari Iran, sementara dokumen internal menggambarkan pertukaran intelijen dan diskusi strategis yang melibatkan Hamas, Hizbullah, dan Garda Revolusi Iran selama putaran pertempuran sebelumnya.
Namun, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan kesenjangan besar antara harapan Hamas dan kenyataan pada tanggal 7 Oktober. OSINT613 melaporkan bahwa, segera setelah serangan dimulai pukul 6:29 pagi, pemimpin Hamas Yahya Sinwar mengirim pesan darurat kepada Nasrallah, meminta maaf karena tidak memberitahunya sebelumnya dan meminta Hizbullah untuk campur tangan melalui serangan roket dan serangan darat besar-besaran. Permintaan maaf Sinwar atas kurangnya pemberitahuan sebelumnya dipandang sebagai indikasi kuat bahwa Hizbullah tidak diberi informasi operasional sebelum serangan diluncurkan.
Serangan darat yang diminta tidak pernah terjadi. Hizbullah kemudian membuka front utara dengan roket, rudal, dan drone, tetapi tidak mengirim Pasukan Radwan ke Galilea seperti yang diharapkan Hamas. Menurut laporan ‘Israel’, kegagalan untuk meluncurkan serangan utara secara bersamaan ini secara fundamental mengubah skala konflik dan mencegah serangan terkoordinasi yang lebih luas di ‘Israel’ utara.
Laporan ‘Israel’ juga menunjukkan bahwa Hamas tidak mengharapkan Iran untuk memasuki perang secara langsung. Sebaliknya, rencana itu membayangkan Hizbullah dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran lainnya membuka front tambahan sementara Teheran tetap berada di belakang layar. Detail ini mempersulit klaim ‘Israel’ bahwa Iran secara langsung mengelola atau bersama-sama melaksanakan operasi 7 Oktober.
Dokumen tersebut juga mengungkap bahwa pada tahun 2019, Ismail Haniyah menulis surat kepada Hasan Nasrallah dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei untuk meminta koordinasi militer yang lebih erat.
Selama serangan Israel ke Gaza pada tahun 2021, Hamas, Hizbullah, dan Garda Revolusi Iran dilaporkan mendirikan ruang operasi intelijen gabungan di Beirut, dengan Hizbullah memberikan intelijen tentang pergerakan pasukan Israel, operasi udara, dan pengawasan.
Namun, pengungkapan yang paling penting melemahkan klaim Israel bahwa serangan 7 Oktober adalah operasi regional yang terkoordinasi dengan ketat. Hamas tampaknya percaya bahwa Hizbullah akan bergabung dalam “pertempuran strategis besar” di masa depan, tetapi penilaian internal Hamas juga memperingatkan bahwa Hizbullah tetap ragu-ragu untuk memasuki perang skala penuh dengan Israel. OSINT613 melaporkan bahwa dokumen intelijen Hamas menggambarkan Hizbullah menghadapi “hambatan psikologis”, yang tampaknya merujuk pada keraguannya setelah perang Lebanon 2006.
Tanggapan Nasrallah sendiri terhadap permintaan Hamas juga menunjukkan keraguan. Menurut dokumen-dokumen tersebut, ia mempertanyakan apa tujuan strategis Hamas dan bertanya apakah tujuannya adalah untuk memaksa Israel runtuh atau hanya mencegah serangan ke Masjid Al-Aqsa. Hamas dilaporkan mengakui bahwa mereka belum sepenuhnya mendefinisikan tujuannya.
Para analis berpendapat bahwa desakan ‘Israel’ untuk menghubungkan Iran secara langsung dengan serangan 7 Oktober memiliki tujuan politik yang lebih luas: untuk menginternasionalisasi serangan terhadap Gaza, membingkai perang sebagai bagian dari konfrontasi yang lebih luas dengan Teheran, dan mendorong Washington menuju sikap regional yang lebih agresif.
Pejabat ‘Israel’ berulang kali menyebut Iran dan sekutunya bahkan ketika hubungan tersebut di luar konteks, mencerminkan upaya ‘Israel’ yang sejak lama ingin menarik AS ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran.
Dokumen-dokumen yang bersumber dari ‘Israel’ sekarang tampaknya melemahkan garis propaganda tersebut. Meskipun menunjukkan bahwa Hamas mempertahankan kontak dengan Iran dan Hizbullah, dokumen-dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa baik Teheran maupun Hizbullah tidak memiliki pengetahuan operasional sebelumnya tentang serangan Thufan Al-Aqsha pada 7 Oktober.*




