Hidayatullah.com— Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memberitahukan Kongres AS tentang rencana untuk menutup lima misi asingnya, menurut orang-orang yang mengetahui perihal itu seperti dilansir Reuters Selasa (4/8/2026).
Dalam surat pemberitahuan yang dikirim ke sejumlah komite di Kongres AS akhir pekan lalu, Departemen Luar Negeri mengatakan pihaknya berencana untuk menutup misi diplomatik yang berada di kota St. George (Grenada), Nagoya (Jepang), Medan (Indonesia), Douala (Kamerun), serta Winnipeg (Kanada).
Orang-orang yang mengetahui perihal surat pemberitahuan itu berbicara tanpa bersedia identitasnya disebut karena masalah itu tidak diungkap ke publik.
Misi diplomatik AS di St. George merupakan kedutaan besar. Pos yang ditutup di Medan, Winnipeg dan Nagoya merupakan konsulat, sementara pos di Douala merupakan kantor cabang kedutaan besar. Konsulat dan kantor cabang biasanya mewakili kepentingan AS di daerah di luar ibu kota negara tuan rumah.
Rencana penutupan itu, yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan, merupakan tindakan yang sangat jarang dilakukan oleh AS atas sejumlah misi diplomatik terutama yang berada di wilayah yang tidak mengalami kejadian geopolitik.
Tahun lalu, di bulan-bulan awal pemerintahan Presiden Donald Trump, Departemen Luar Negeri memulai persiapan penutupan misi diplomatik yang dianggap tidak sejalan dengan agenda “America First” besutannya.
White House Office of Management and Budget bahkan memiliki program penutupan yang lebih ambisius, memasang target penutupan hingga 30 misi diplomatik AS di luar negeri dengan alasan tidak esensial dan untuk kepentingan penghematan anggaran.
Saat dimintai komentar pada hari Ahad (2/8/2026) oleh Reuters, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan sebuah pernyataan yang tidak mengkonfirmasi penutupan tersebut, tetapi mengatakan pihaknya sedang mengupayakan jejak diplomatik yang efisien dan efektif.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kebijakan pemangkasan itu diperlukan supaya misi diplomatik AS memiliki besaran yang tepat, yang menurut sebagian politisi Partai Republik selama ini terlalu gendut dan birokratis.*




