Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Nakal Itu Ada Tahapnya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2014 14:55 2:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2014 14:55
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

AWALNYA perilaku tidak patut atau “sekedar” perilaku yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, misalnya mengantuk saat pelajaran sedang berlangsung. Ini tampaknya biasa, tetapi jika tidak segera memperoleh penanganan yang memadai dapat berkembang menjadi perilaku yang mengganggu atau berubah menjadi kenakalan. Ini dua arah yang mungkin akan terjadi manakala perilaku tidak patut (inappropriate behavior) dibiarkan terjadi, yakni menjadi perilaku mengganggu (disturbing behavior) yang arahnya kepada penyimpangan atau perilaku nakal (challenging behavior) yang jika dibiarkan dapat menjadi bibit kriminalitas.

Mengantuk tampaknya merupakan hal yang sangat lumrah ketika kita sudah benar-benar perlu tidur. Tetapi mengantuk di kelas adalah hal yang sangat berbeda. Kita tidak dapat serta-merta menganggapnya wajar. Ada banyak kemungkinan yang menyebabkan anak mengantuk di kelas; boleh jadi karena kurang tidur, boleh jadi karena ada problem emosi, persoalan dengan teman sekelas atau berbagai kemungkinan lain yang harus digali dulu oleh guru untuk memastikan sebabnya. Bahkan seandainya anak mengantuk karena kurang tidur, bukan berarti masalah telah selesai. Kita perlu telusuri atas sebab apa anak kurang tidur. Jika sebabnya merupakan hal yang dapat dimaklumi, maka sekolah perlu memastikan agar masalah tersebut (mengantuk di kelas) tidak berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Dengan demikian, masalah tidak perlu berkembang lebih parah dan menular ke teman-temannya.

Contoh terbaik tentang mengatasi masalah sejak masih berupa gejala itu kita dapati pada diri Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita ingat sejenak hadis berikut ini:

Dari ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Dulu aku adalah anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Ketika makan, tanganku berpindah-pindah ke sana kemari di atas piring. Maka beliau bersabda kepadaku:

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai Anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita perhatikan hadis ini. Ada hal yang tidak patut, meskipun wajar dilakukan oleh anak-anak, tetapi segera diluruskan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Kekeliruan segera diperbaiki tanpa mencela sehingga tidak perlu berlarut-larut dan menulari yang lain. Kekeliruan itu memang wajar dan kita menyadari hal tersebut. Justru di situlah terdapat kewajiban untuk segera memperbaiki sebagai salah satu tugas pendidik.

Jika sekolah dan khususnya guru sigap menangani perilaku tidak patut yang ditunjukkan siswa sejak awal kemunculannya, maka tidak perlu terjadi situasi memusingkan akibat banyaknya anak yang harus ditangani setiap hari. Pembelajaran juga lebih kondusif sehingga guru tidak sampai kelelahan menangani anak-anak yang kehilangan gairah belajar maupun para siswa yang bertingkah menjengkelkan. Penanganan lebih awal juga memungkinkan terciptanya iklim belajar yang menyejukkan hati dan menjadikan siswa maupun guru senantiasa rindu untuk hadir di kelas.

Pembicaraan tentang perilaku tidak patut ini sebenarnya bukan hanya untuk guru sebab beragam perilaku tidak patut dapat terjadi baik di sekolah maupun di rumah. Saya membahasnya dari sisi seorang guru semata karena contoh yang saya gunakan, yakni mengantuk, lebih mudah mudah membayangkan sebagai hal tak wajar di kelas. Tetapi perilaku tidak patut itu dapat beragam bentuknya.

Apa yang terjadi jika perilaku yang tidak pada tempatnya itu kita biarkan?

Pertama, perilaku tidak patut (inappropriate behavior) tersebut bukan saja tidak berhenti, lebih dari itu dapat berkembang serius sehingga lebih sulit mengatasinya.

Kedua, masalah yang awalnya terjadi pada satu orang dapat menular ke anak-anak lain, setidaknya mengganggu anak-anak yang lain.

Ketiga, perilaku tidak patut yang awalnya sederhana dapat berkembang lebih parah kepada dua kemungkinan, yakni yang mengarah pada penyimpangan dan yang mengarah pada kriminalitas.

Selengkapnya, mari kita perbincangkan lebih rinci.

Penyimpangan Itu Bermula dari Sini

Pada mulanya, perilaku tidak patut itu ada yang dilakukan secara sengaja, ada pula yang tidak sengaja. Anak memperoleh keasyikan dari perilaku tersebut sehingga mendorongnya untuk melakukan kembali, meskipun hal tersebut tidak menyenangkan orang lain. Bisa juga anak melakukan berulang kali bukan karena menemukan keasyikan, tetapi tak ada yang meluruskan perilakunya yang tidak sesuai tersebut sehingga berkembang menjadi perilaku yang mengganggu orang lain (disturbing behavior), meskipun ia tidak bermaksud mengganggu. Anak memiliki kebiasaan yang tidak menyenangkan, menjengkelkan atau sangat mengganggu orang lain. Kebiasaan ini berkembang, sekali lagi, bukan dimaksud untuk menyerang orang lain. Anak mungkin memperoleh keasyikan dan mengabaikan bahwa hal itu menjengkelkan orang lain.

Contoh tentang ini, misalnya buang ingus dan mengeluarkan bunyi tak menyenangkan saat membersihkan ingus. Ini awalnya tindakan wajar. Tetapi karena tak diluruskan, ia mengulang-ulang perilaku itu, terlebih jika anak senang melihat reaksi jijik dari orang lain. Pada akhirnya lekat pada dirinya perilaku yang sesungguhnya sangat mengganggu orang lain (disturbing behavior) tersebut.

Jika perilaku mengganggu itu masih berlanjut dan tak diluruskan, boleh jadi berkembang lebih serius, meskipun ada kemungkinan untuk terhenti hanya sebagai perilaku mengganggu. Tingkat lebih parah dari perilaku mengganggu adalah perilaku menyimpang (deviant). Ini lebih parah dibanding perilaku mengganggu yang sifatnya berulang, tetapi masih ada peluang untuk ditangani oleh ahli. Dalam hal ini, orangtua maupun guru sudah memerlukan bantuan dari orang yang benar-benar ahli untuk mengatasinya.

Contoh, pada awalnya anak hanya main-main mengenakan pakaian lawan jenis, tetapi lama-lama menyukai. Ia makin sering mengenakan pakaian lawan jenis. Karena tak ada penanganan agar menghentikan, apalagi jika justru memperoleh dukungan berupa sambutan orang-orang sekelilingnya, maka ia dapat mengalami penyimpangan. Bukan hanya semakin menyukai pakaian lawan jenis, ia pun berperilaku, bertutur dan bersikap seperti lawan jenis.

Ini merupakan tahap yang benar-benar sangat serius dan mengkhawatirkan, tetapi masih memungkinkan untuk diatasi. Jika sampai tingkatan sangat parah ini pun masih dibiarkan, bukan tidak mungkin berlanjut sampai tingkat paling parah, yakni abnormal. Dan ini berawal dari menganggap perilaku tidak patut sebagai hal yang wajar, lalu membiarkan terjadi.

Bahkan Lebih Menakutkan dari Nakal

Adakalanya perilaku tidak sesuai itu berkembang ke arah abnormalitas sehingga perlu seorang ahli untuk melakukan terapi secara tuntas, meskipun tentu saja tetap berbeda keadaannya antara “barang yang pernah rusak” dengan “barang yang tak pernah bermasalah”. Tetapi adakalanya perilaku tidak sesuai itu berkembang menjadi kenakalan. Anak sengaja menyakiti atau mengganggu orang lain. Sebabnya bisa bermacam-macam. Selengkapnya, silakan baca kembali tulisan saya di majalah Hidayatullah berjudul Anak Nakal Itu Ada serta Memahami Perilaku Anak.

Sebagaimana perilaku tidak patut yang berkembang ke arah penyimpangan, kenakalan anak juga tidak tiba-tiba. Awalnya perilaku tidak patut, lalu berkembang menjadi perilaku nakal (challenging behavior) yang bertingkat-tingkat keadaannya, dari kenakalan yang ringan hingga cukup berat. Tetapi sejauh itu masih bersifat kenakalan, ada cara untuk mengatasinya. Yang paling pokok kesadaran kita bahwa itu merupakan kenakalan dan menyertainya dengan upaya mengatasi.

Menyadari kenakalan anak sangat berbeda dengan menjuluki (apalagi mengolok) nakal. Kadang ada orangtua yang ringan menyebut nakal, tetapi sesungguhnya menganggap kenakalan itu tidak ada. Ia hanya ringan mengucap nakal. Di sisi lain, menjuluki nakal bukanlah cara mengatasi kenakalan.

Apa yang terjadi jika perilaku nakal itu tak diatasi? Ia dapat berkembang lebih parah sehingga menjadi delinkuensi, satu bentuk kenakalan sangat serius yang sudah mengarah pada kriminalitas. Jika ini terjadi, perlu upaya benar-benar serius dan terpadu untuk mengatasinya. Tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh, delinkuensi itu dapat meningkat menjadi kejahatan (crime). Ini merupakan berita sangat buruk dan ironisnya telah terjadi di negeri kita; di negeri dimana para pakar dan trainernya banyak yang menganggap kenakalan itu tidak ada.

Sesungguhnya, kenakalan itu tidak hilang karena menghapus kata nakal. Kenakalan itu diatasi dengan mengetahui sebabnya dan menangani gejalanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.*

Twitter M Fauzil Adhim @kupinang, FB: Mohammad Fauzil Adhim
https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/nakal-itu-ada-tahapnya/725373867511744

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakgurumurid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komandan Pasukan Darat Iraq Tewas di Fallujah
Tulisan selanjutnya Perang Salib Inovasi Militer Muslim Di Masa Perang Salib (1)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?