Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Inovasi Militer Muslim Di Masa Perang Salib (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2014 15:03 3:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2014 15:03
Bagikan
Perang Salib
Bagikan

Oleh: Alwi Alatas

KEBERHASILAN sebuah negeri atau kerajaan dalam menghadapi lawan-lawannya sangat ditentukan antara lain oleh keunggulan militer yang dimilikinya. Keunggulan militer ini tentunya ikut dipengaruhi oleh kemampuan dalam melakukan inovasi atau temuan baru yang menjadikannya satu langkah lebih maju dibandingkan musuh. Hal yang sama juga berlaku pada masa Perang Salib.

Pada masa-masa ini ada beberapa inovasi militer yang muncul, baik yang masih dalam bentuk ide atau konsep maupun yang sudah diterapkan di medan pertempuran. Berikut ini akan dipaparkan beberapa bentuk inovasi yang ada di tengah pasukan Muslim pada masa pemerintahan Nuruddin Mahmud Zanki (w. 1174) dan Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).

1. Merpati pos reguler

Pada masa Perang Salib yang sedang dibicarakan ini, tentara salib belum mengenal teknik pengiriman informasi dengan menggunakan burung merpati. Sehingga jika mereka dikepung secara ketat di sebuah benteng oleh pihak Muslim, mereka sama sekali tidak mampu berkomunikasi dengan rekan-rekannya yang berada di luar wilayah itu.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Hal ini pernah berlaku pada pertengahan tahun 1137, pada pada masa kepemimpinan ayah Nuruddin, yaitu Imaduddin Zanki (w. 1146). Ketika itu Raja Yerusalem, Fulk of Anjou (w. 1143), dan pasukannya kalah dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Muslim. Ia dan pasukannya terpaksa menarik diri dan bertahan di dalam benteng Montferrand (Ba’rin) di Suriah Utara. Imaduddin Zanki dan pasukannya kemudian mengepung benteng ini dengan ketat, sehingga pasukan salib sepenuhnya terputus dari dunia di luar benteng.

Mereka sama sekali tidak dapat mengakses informasi dari luar ataupun mengirim informasi ke luar benteng. Jika informasi saja terputus, apalagi makanan. Situasi ini menyebabkan mereka mengalami kelaparan dan tidak dapat meminta bantuan pada pasukan salib di kota lain yang berdekatan.

Pasukan salib berusaha bernegosiasi dengan Zanki. Mereka bersedia memberikan sejumlah uang dan menyerahkan benteng itu pada pihak Muslim dengan syarat mereka diijinkan meninggalkan benteng itu dengan aman. Pada mulanya, Zanki menolak tawaran ini dan terus mengepung benteng. Namun, beberapa waktu kemudian Zanki mengetahui tentang adanya pergerakan pasukan salib lainnya yang sedang menuju ke tempat itu untuk membantu raja mereka. Maka ia pun menerima tawaran Raja Yerusalem. Mereka diperkenankan pergi dengan aman dan sebagai gantinya benteng itu diserahkan kepada Muslim dan sebagai tambahannya mereka juga membayar uang tebusan sebesar 50.000 dinar.

Setelah memenuhi kesepakatan itu, Fulk of Anjou dan pasukannya pun pergi meninggalkan benteng. Di tengah perjalanan pulang, mereka bertemu dengan pasukan salib yang sedang bergerak untuk membantu mereka. Fulk sama sekali tidak mengetahui tentang rencana kedatangan mereka, karena ia sama sekali terputus dari informasi luar selama berada dalam kepungan. Jika ia mengetahui ada pasukan salib yang datang membantu, kemungkinan besar ia akan tetap bertahan dari kepungan pasukan Muslim. Tetapi semuanya sudah terlambat. Ia sudah terlanjur menyerahkan uang tebusan dan benteng Montferrand kepada pihak Muslim. Semua itu semata-mata disebabkan kegagalan pasukan salib dalam mengakses informasi yang mereka perlukan.

Hal semacam ini dapat dikatakan tidak berlaku pada pasukan Muslim, karena ketika itu mereka sudah mengenal cara pengiriman informasi dengan menggunakan burung merpati. Burung-burung merpati yang telah dilatih ini disisipi pesan, biasanya pada kakinya, yang kemudian diterbangkan ke tempat tujuan. Dengan cara ini, informasi bisa tetap disampaikan walaupun pasukan Muslim dalam keadaan terkepung sekalipun.

Bahkan menurut Francesco Gabrieli dalam Arab Historians of the Crusades, sistem informasi reguler dengan menggunakan burung merpati telah diterapkan untuk pertama kalinya pada masa kepemimpinan Nuruddin Mahmud Zanki di Suriah. Dengan demikian, para pemimpin Muslim di setiap kota senantiasa mendapatkan akses informasi yang cepat secara berkala. Ditambah lagi dengan sistem intelijen dan jaringan informasi lainnya yang ada pada masa itu, membuat para pemimpin Muslim dapat mengetahui berbagai hal penting yang terjadi di tempat yang jauh dari tempat mereka.Dengan demikian, mereka selalu dalam keadaan siap untuk mengantisipasinya.

2. Upaya pembelokan sungai

Contoh yang kedua ini baru dalam bentuk ide, tetapi menarik untuk disebutkan mengingat masih sangat terbatasnya teknologi yang ada pada masa itu.

Pada pertengahan tahun 1185, dua tahun sebelum pembebasan al-Quds, Shalahuddin al-Ayyubi masih sibuk dengan upaya penyatuan wilayah Muslim. Ketika itu ia berusaha untuk menaklukkan kota Mosul yang pemimpinnya selama sekian lama selalu berada di pihak yang berseberangan dengannya. Saat tiba di depan kota yang baru pertama kali dilihatnya itu, Shalahuddin menyadari bahwa kota itu terlalu besar untuk dikepung dan terlalu sulit untuk ditaklukkan. Memang pada akhirnya, setelah mengepungnya selama beberapa waktu, Shalahuddin menarik pasukan dan mengadakan perjanjian damai dengan pemimpin Mosul.

Namun selama upaya penaklukkan kota itu, ada seorang ilmuwan yang menawarkan jasanya pada Shalahuddin. Ilmuwan itu, Fakhruddin Abu Syuja’ ibn al-Dahhan, berasal dari kota Baghdad dan kebetulan sedang berada di kota Mosul. Ia mengusulkan pada Shalahuddin untuk mengubah aliran Sungai Tigris yang melewati kota Mosul sehingga aliran itu pindah ke jalur yang berbeda dan tidak lagi melalui kota Mosul. Jika kota Mosul tidak lagi dialiri Sungai Tigris, kota itu tentu tidak akan mampu bertahan lama karena kehilangan sumber air minumnya dan akhirnya akan menyerah.

Shalahuddin sempat mempertimbangkan tawaran ini, tetapi akhirnya urung melakukannya. Hal itu disebabkan besarnya tenaga dan lamanya waktu yang diperlukan untuk menjalankan rencana tersebut. Bagaimanapun, ilmuwan tadi berani mengusulkan gagasan itu tentu berdasarkan perhitungan yang cermat bahwa hal itu mungkin untuk dilakukan. Namun, tampaknya Shalahuddin melihat konsekuensi dari rencana itu terlalu mahal untuk diterapkan pada sebuah kota Muslim seperti Mosul. Maka ia pun memilih upaya lain dan pada akhirnya menyetujui perjanjian damai dengan pihak Mosul.*/bersambung Inovasi Gree Fire

Penulis adalah ahli sejarah, penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” dan“Shalahuddin Al Ayyubi dan Perang Salib III”

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:militerNuruddin Mahmud ZankiPerang Salib
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nakal Itu Ada Tahapnya
Tulisan selanjutnya Polusi Udara Jalan Raya Pengaruhi Janin Ibu Hamil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?