Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Birmil, Modus Baru Serangan Asad

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 November 2012 12:43 12:43 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 November 2012 12:43
Bagikan
Bagikan

PERJALANAN melintas perbatasan Turki-Suriah ditutup dengan medan yang cukup berat. Kami harus mendaki tebing curam. Tentu dengan beban carrier bag yang cukup besar yang kami harus bawa sendiri. Tak mungkin meminta bantuan kepada para ikhwah Suriah, karena mereka sendiri sudah membawa beban obat-obatan yang tidak ringan. Sebut saja botol infus, di Indonesia terbuat dari plastik. Di Turki, terbuat dari kaca yang otomatis menambah beban. Hmm sebuah perjalanan yang seru. Saya sendiri sempat terduduk jatuh. Ustad Umar sempat meminta berhenti dan celananya sobek.

Disambut hujan rintik-rintik, dengan nafas tersengal dan keringat bercucuran—meski suhu sebenarnya cukup dingin—kami menuntaskan “etape” terakhir perjalanan melintas batas negeri ini. Ujung tebing yang kami daki ternyata sebuah jalan aspal. Tak seberapa lebar memang, tapi cukup bagus untuk sebuah jalan di pegunungan—apalagi bila kita bandingkan di Indonesia.

Di pinggir jalan tersebut kami rehat sejenak sambil menanti ambulan yang dijanjikan akan menjemput kami ke klinik darurat di Salma. Tak berapa lama, di ujung jalan terlihat seberkas sinar bergerak mendekat diiringi raungan mesin disel. Sebuah truk engkel (kalau di Indonesia sosoknya seperti KIA Travello) menghampiri kami. Wajah baru menyapa kami dari kabin depan truk tersebut.

“Ahlan wa sahlan,” sambutnya tersenyum. Demikian pula seorang pria yang duduk di sebelahnya yang berjaga mengawal kami.

“Maaf, ambulan sedang dipakai. Jadi kita dijemput pakai truk ini,” kata Ubay sang kurir. Kami semua—bersepuluh—menaikkan barang, dan menata diri di bak truk. Di ujung bak ada genset, sementara di bagian depan ada kotak berisi logistik keperluan Rumah Sakit darurat selain obat-obatan yang kami bawa. Sejurus, kami semua sudah nangkring di bak belakang.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Mana syabab Indonesia…. ayo di tengah. Jangan boleh di ujung belakang,” kata Ubay. “Oke, siap. Kita berangkat,” katanya kepada sopir.

Mobil (lebih tepatnya truk) pun menyusuri jalan-jalan sempit di antara tebing dan jurang. Kami, tim Hilal Ahmar Society (HASI) beragam posisi. Ada yang duduk, bersandar di tas, dan…. pak Edi yang terlelap tidur. Sesekali, kami isi dengan cengkrama bersama para ikhwah Suriah. Mulai dari sindiran mereka yang melapuk bujang, sampai kebiasaan mereka bersenda gurau. Namun ada pula fase yang mendebarkan. Ketika saya coba berdiri hendak menata isi tas, senter saya nyalakan. Saya semula ragu, karena mungkin ini akan membahayakan. Tapi melihat lampu truk terus menyala sepanjang jalan, saya pikir senter pun tak masalah.

“Hei, duduk dan matikan lampu,” teriak Ubay. “Di samping kanan kiri kita ini ada marshad (tempat pengintaian) milik tentara Asad. Mereka punya peluncur granat,” katanya.

“Bagaimana dengan lampu mobil yang menyala?” tanya Ustad Umar. “Saya sudah ingatkan sopir,” jawabnya pendek.

Asir, pemuda Suriah yang duduk di samping saya kemudian menceritakan berbagai bentuk serangan yang sering dilakukan tentara Asad. Mulai dari roket, hingga Birmil.

“Birmil. Apa itu?,” tanya saya penasaran dalam posisi tangan bersedekap kedinginan.

“Birmil itu tempat minyak. Tingginya sekitar 1,5 m dan diameternya setengah meter. Mereka isi dengan bahan peledak jenis TNT (Tri Nitro Toluene) dicampur potongan besi, paku serta benda-benda tajam lainnya,” papar Asir.

Birmil—yang kemudian saya menerkanya sebagai tong, drum atau sejenis tangki—itu lanjut Ala dibawa dengan pesawat dan dijatuhkan dari ketinggian sekitar 400 meter. Konon, satu birmil, bisa kadang diisi TNT seberat 60 kg.

“Bisa dibayangkan kalau menimpa sebuah bangunan,” kata Abu Bakar, salah seorang mujahid dari Katibah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

“Ini metode baru Basar Asad untuk menghemat biaya. Sebab, menyerang dengan roket memerlukan biaya besar. Birmil bisa jauh lebih hemat dengan efek mematikan tetap tinggi,” imbuh Ala.

Rupanya, birmil itu pula yang menimpa klinik pengobatan tempat teman-teman HASI tim ke-2 (sebelum kami) berada.

Alhamdulillah, meski bangunan rusak berat, hanya seorang dari tim ke-2 HASI yang terluka ringan di kepalanya. Namun, birmil itu pula yang menewaskan Komandan Abu Burhan, pimpinan Liwa’ Ahbaabullah. Ia sedang membawa air untuk dibawa ke rumahnya di kawasan Lattakia, ketika sebuah pesawat menjatuhkan birmil. Dan, sebuah potongan besi menghantam kepalanya hingga menemui kesyahidan, insya Allah.

Saya merebahkan diri sekadar meregangkan otot. Menatap langit yang berubah tak menentu. Kadang diliputi mendung, kadang cerah bertabur bintang. Menatap bintang, mencoba membedakan bentuknya dengan pesawat. Sebab, memang pola serangan via pesawat banyak dilakukan di malam hari.

Ketika melihat perbukitan dengan rumah-rumah yang bertaburan lampu, saya menanyakan kepada Asir, “Itu milik Sunni atau Nushairi?” “Sunni,” jawabnya. “Kenapa berani menghidupkan lampu?” “Ya, nanti kalau terdengar suara pesawat, seluruh mati dipadamkan.” “Pesawat lebih sering datang di malam hari karena tidak terlihat. Tiba-tiba saja langsung jatuh bom,” imbuhnya.

“Kedatangan antum kemari membawa berkah,” kata salah seorang dari mereka. Kegelapan malam membuat saya tak mengenali wajahnya. “Hujan sering turun, halilintar sering menggelegar. Pesawat-pesawat itu mengurangi intensitas serangan,” lanjutnya.

Mata saya terus menatap keindahan bintang gemintang di langit Latakia. Sambil berdzikir, memupuk terus keyakinan bahwa kematian itu sudah digariskan. Entah di Suriah atau di Indonesia, kematian datang karena memang sudah tiba saatnya. Bukan karena kenekatan kami datang ke daerah konflik semacam ini. Sebab, menolong orang terdzalimi di wilayah konflik tidak akan mendekatkan kita kepada kematian, sebagaimana duduk diam di rumah tidak akan melindungi diri dari kematian. Hasbunallah wa nikmal wakiil.*/laporan Tim Ketiga HASI, dari Suriah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hasyim Muzadi: Usai Putusan MK, Tidak Cukup Terbitkan Perpres
Tulisan selanjutnya Ulama Besar Arab Saudi Kunjungi Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?