Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Mereka Pergi Dalam Keadaan Bersyahadat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 November 2014 05:59 5:59 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 November 2014 05:59
Bagikan
Bagikan

KISAHKU ini terjadi pada senja tanggal 27 Ramadhan 1431 atau bertepatan Agustus 2010. Kala itu kami semua bersepakat berangkat ke suatu tempat bersama dengan sebuah kendaraan.

Bersama kami, saat itu ada delapan orang. Ayahku, ibuku, abang-abangku dan kakak-kakak perempuanku.

Ayah bertindak sebagai sopir, ibu mendampinginya. Sambil memulai perjalanan, kami sepakati bahwa masing-masing dari kami memegang mushaf Al-Quran, membacanya, dan berdoa sampai tempat yang kami tuju. Kami ingin khatam Al-Quran pada hari tersebut.

Oh ya, kebetulan keluarga kami semua adalah keluarga penghafal Al-Quran, alhamdulillah.

Tilawah berlanjut dalam diam dan khusyu’, seakan tilawah itu merupakan tilawah terakhir bagi kami. Terlihat kakakku membaca sesekali derai bening mengaliri pipinya. Begitu juga kakak dan abang yang lain saling tatap, tangis dan doa yang saling tersulam dalam setiap ayat yang dibaca.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

“Mengapa air mata itu deras mengaliri pipimu, Kak?” Sesekali aku bertanya, sembari ada rasa heran, mengapa suasanya menjadi beku meliputi kami.

“Suara Allah dekat saat aku membaca kalamNya,” begitu jawab kakakku lirih, sambil buru-buru beralih pada bacaan Al-Quran berikutnya.

Takdir Allah, rasa kantuk rupanya menguasai ayahku. Mobil kami melaju dengan kecepatan tinggi dan naik ke dataran lebih tinggi, kemudian jatuh ke jurang yang sangat dalam.

Mobil kami berbalik dan semua yang ada di dalamnya terpenral dari mobil, menggelinding dan jatuh. Tubuhku tersangkut sebuah ke pohon, saudara-saudaraku lainnya jatuh ke jurang yang entah berapa kedalamannya.

Lirih-lirih terdengar suara adzan Maghrib, dan kami semua dalam keadaan berpuasa ketika itu.

Aku mengalami pendarahan dan pingsan. Entah seberapa banyak darah yang keluar. Ketika aku tersadar aku teriak sambil mencari ayah, ibu dan semua saudaraku.

Aku terus merangkak di tengah perih dan darah yang masih terus keluar. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.. Ya Allah Ya Rabb, aku telah menemukan kakak-kakak perempuanku dalam keadaan yang sudah tak bernyawa.

Yang cukup mengejutkanku, mereka meninggal dengan jari telunjuk mereka sedang terangkat. Mereka telah mengakhiri hidupnya dengan syahadat. Subhanallah!

Sebuah pemandangan yang sedikit melegakan di saat rasa kehilangan semua keluarga tercinta seolah mencoba menghancurkan harapanku.

Dengan tenaga seadanya, perlahan aku kumpulkan mereka satu-persatu di suatu tempat. Sementara itu hari terus merambat gelap dan suara hewan-hewan liar malam mulai bersahut-sahutan.

Meski ini adalah musibah terberat, aku harus tetap melanjutkan pencarian dengan terus merangkak dan merangkak. Abang-abangku sama sekali belum terlihat. Tidak lama kemudian aku melihat ibuku. Abayanya menutupi keseluruhan tubuhnya layaknya sebuah kafan. Tak ada bagian tubuhnya terlihat kecuali jari telunjuknya yang terangkat. Aku memeluknya membincanginya berharap ia masih mendengarku. Tapi tak ada gunanya karena beliay telah wafat.

“Sebuah akhir hidup yang indah, Ummi,” bisikku pelan. Sambil mataku terus berderai dengan air mata yang tidak terputus.

Aku kembali merangkak untuk meneruskan pencarian, hingga akhirnya aku mendapati ayahku. Ia mengalami pendarahan besar dan saat itu masih tersadar.

Aku merangkulnya. Pelan-pelan terdengar suaranya menahan perih, “Pergilah dari sini, naiklah ke gunung, panggillah orang yang bisa menolong saudara-saudarimu dan ibumu!” demikian pinta ayah di antara lolongan srigala dan gelapnya malam.

“Aku pendarahan, tidak bisa banyak bergerak, aku akan bersamamu, ayah,” jawabku masih dalam pelukannya.

Dalam suara yang terus melemah ia masih sempat mendoakanku. Tidak lama kemudian terdengar ia mengucap syahadat, bersama hembusan nafas terakhirnya.

Aku terpaku sendiri. Air mata mendesaki pelupuk mataku bersama doa-doa yang terpanjat. Darah segar terus mengalir dari tubuhku. Hingga akhirnya tidak sadar dan tak merasakan apapun, aku pingsan.

Pengangkatan Rahim

Dalam 24 jam tidak seorangpun yang menemukan keberadaan kami. Hingga pada senja hari kedua, seorang pengembala kambing menemukan kami semua.

Dari situlah keberadaan kami akhirnya diketahui pihak yang berwenang hingga datangnya bantuan untuk mengangkat kami semua dari jurang.

Setelah kejadian itu aku tidak sadarkan diri dan koma setelah lima bulan. Aku tersadar dan kejadian itu terekam dalam otakku seolah masih mimpi.

Aku terus menjalani pengobatan hingga dua tahun di Kanada, Amerika karena mengalami keretakan organ yang tidak ringan. Di kepala, leher, punggung dan lainnya.

Akibat pendarahan dan keretakan itu, nikmat kesempatan untuk menjadi seorang ibu hilang. Walau jajaran dokter yang menanganiku telah berupaya keras, pilihannya hanya dua; hidupku atau pengangkatan rahim. Sebuah pilihan yang sulit, hampir saja rasa putus asa menguasaiku.

Hingga kemudian harapan telah membangunkanku dari keterpurukan. Bahwa dunia ini tidak berakhir dengan kehilangan kita terhadap seseorang atau sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

Kita hanya butuh membangun sabar dan keyakinan bahwa takdir Allah adalah kebaikan yang akan menyempurnakan iman kita.

Alhamdulillah. Aku kembali bekerja dan beribadah menghimpun bekal menuju Allah Subhanahu Wata’ala. Kini aku pindah ke Riyadh, Saudi dengan hidupku yang baru. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.*/Kisah nyata ini diceritakan Fulana dari Riyadh, ditulis ulang oleh TaQ Shams dari Makkah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iran dan Indonesia Akan Bangun Perusahaan Petrokimia
Tulisan selanjutnya KNRP Himbau PBB, Pemerintah RI, Ulama Sebarkan Kekejaman Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?