Lanjutan berita PERTAMA
MASJID pertama yang saya temukan adalah Masjid Kowloon yang letaknya paling strategis, berada di pusat kota, hampir di ujung jalan Nathan Road, Kowloon.
Masjid ini paling sering dikunjungi oleh para pendatang karena letaknya yang dekat dengan pusat shopping dan destinasi wisata lainnya.
Kita juga akan sering menemui banyak orang Indonesia dan Malaysia di waktu-waktu Zhuhur dan Ashar. Selebihnya, hanya orang Afrika dan Pakistan saja yang memenuhi shaf-shaf shalat di waktu maghrib hingga subuh.

Tempat kedua adalah Masjid Ammar, Wan Chai. Ini adalah masjid paling nyaman dan paling mengesankan buat saya. Tempatnya tenang, rapi dan bersih. Jauh dari keramaian kota seperti di Kowloon.
Perlu 40 menitan untuk menjangkau masjid ini jika kita berangkat dari Masjid Kowloon. Meskipun itu menggunakan kendaraan umum sekalipun.
Di Masjid Ammar Wan Chai, kita akan menemukan banyak TKW dari Indonesia yang berkunjung kesana, karena kelihatannya di sana memang sering diadakan event-event rutin untuk pembinaan ruhiah para TKW Indonesia yang bekerja di Hong Kong.
Yang lebih mengesankan lagi, di lantai 5 masjid ini terdapat kantin makanan Halal yang sangat ramai pengunjung. Saya melihat orang-orang China dari usia muda sampai manula berbondong-bondong makan di kantin mulai buka pukul 10 hingga sore hari.
Saya belum sempat menanyakan apakah mereka muslim atau bukan. Jika iya, berarti memang luar biasa perkembangan dakwah di wilayah Wan Chai ini, dan jika seandainya mereka non-Muslim, maka luar biasa daya tarik makanan halal di kantin Masjid Wan Chai ini sampai mampu menarik begitu banyak pengunjung non-Muslim. Kedua kemungkinan itu tetaplah sebuah hasil yang positif.

Ketiga ada masjid Jamia. Posisi masjid ini ada di wilayah yang juga sangat sentral di pusat kota Hong Kong. Namun sayangnya letak masjid ini tidaklah mudah dijangkau lantaran lokasinya yang naik terjal dan terselip di antara bangunan-bangunan lainnya.
Daerahnya disebut dengan Soho, di Central Hong Kong. Wilayah yang tidak pernah ‘tidur’ sehari semalam sekalipun. Namun masjid di wilayah ini tergolong ‘nyelempit’ dan sulit dicari. Bangunannya tidak terlalu besar. Kalau ukuran di Indonesia lebih tepat disebut musholla.
Saya mengjangkau masjid ini saat masuk waktu Dhuha. Ketika saya mau masuk kedalam, ternyata pintu ruang utama masjid terkunci rapat. Akhirnya saya hanya bisa shalat Dhuha di pelatarannya saja.
Keempat, Masjid Ibrahim. Lokasinya di wilayah Yau Ma Tei paling ujung. Perlu berjalan satu kilometer lebih dari stasiun MTR terdekat untuk menjangkau masjid ini.
Peta manual jauh lebih bisa membantu daripada menggunakan Google Map, karena GM lebih membingungkan ketika menunjukkan detail jalan.
Masjid Ibrahim hanya kecil. Mirip rumah penduduk. Atapnya rendah dan tidak ada identitas Islam yang menonjol selain pagar dan plang yang terpasang di depan masjidnya.
Saat saya ke sana, kondisinya terkunci. Saya hanya bisa melihat-lihat dari luar pagar. Mungkin hanya dibuka pada saat adzan shalat fardhu saja.
Sebenarnya masih ada 1 atau 2 masjid lain yang ada di negeri ini yang belum sempat saya kunjungi, di wilayah Chai Wan dan satu masjid lagi di wilayah Stanley.
Semoga kemudian hari kalau ada kesempatan, Allah mengijinkan saya untuk mengunjungi keduanya. Dan yang lebih penting dari itu, semoga kelak perkembangan Islam di Hong Kong bisa lebih pesat dan Islam bisa lebih dihargai disana. Aamiin ya Rabb.*/Aditya Abdurrahman, dosen sebuah universitas swasta di Surabaya