Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Strategi Anti Terorisme Yang Digagas Amerika Dinilai Telah Gagal

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Desember 2014 14:37 2:37 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Desember 2014 14:37
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Indeks terorisme global mencatat naiknya serangan teror dan rekor jumlah korban tewas di seluruh dunia. Statistik menunjukkan strategi yang dijalankan saat ini tidak berfungsi, demikian tinjauan Grahame Lucas dikutip DW.DE.

Serangan yang dilancarkan Al-Qaidah pada 2001 terhadap Amerika memicu balasan berupa “perang melawan teror” yang digagas presiden Amerika Serikat (AS) saat itu George W. Bush. Dilihat dari perspektif saat ini, 13 tahun setelah dilancarkannya aksi tersebut, nyatanya perang melawan teror gagal menghentikan aksi teror.

Sebaliknya, indeks terorisme global menunjukkan, aksi terorisme justru meningkat drastis ke tingkat amat mencemaskan. Tahun 2013 tercatat 10.000 kali serangan teror yang menewaskan 18.000 orang. Jika disimpulkan, perang melawan teror ternyata menciptakan lebih banyak teror.

Dalam indeks juga disebutkan, 80 persen organisasi teroris bisa dilumpuhkan, dengan menjalin kesepakatan politik yang bisa diterima banyak pihak. Hanya 10 persen organisasi teroris menghentikan aksinya karena mereka telah mencapai target yang digariskan.

Yang lebih menarik, hanya tujuh persen aksi terorisme yang berhasil ditumpas dengan intervensi militer. Prestasi yang rendah itu, juga mempertimbangkan ongkos yang harus dibayar, berupa korban jiwa.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Data memberikan kesan kuat, bahwa negosiasi dan partisipasi harus menjadi program utama dalam memerangi terorisme. Tapi di sejumlah negara, aksi militer atau paramiliter tetap menjadi opsi utama dari reaksi pemerintah.

Masalahnya, di zaman perang asimetris ini, kelompok milisi bersenjata juga mampu mengalahkan militer yang terorganisir rapi.

Caranya dengan mempublikasikan serangan-serangan yang sukses lewat dunia maya, dan menghindari perang frontal dimana militer bisa meraih kemenangan. Contoh paling tegas adalah gagalnya misi militer barat di Afghanistan menghadang Taliban.

“Di sini, dilema terlihat nyata. Negosiasi tidak akan menghasilkan apapun. Sebab solusi pragmatis tidak punya peluang menang melawan ideologi islamis. Juga aksi militer mustahil sukses. Paling banter, aksi militer semacam itu hanya bisa menahan sementara bukan mengalahan ideologi ini, ujar Grahame Lucas, pimpinan redaksi South-East Asia DW.*

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerikaglobal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pembangunan Masjid Terapung Banten Ditargetkan Selesai Tiga Tahun
Tulisan selanjutnya Sumbangan Islam pada Ilmu Geografi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?