Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Kemuliaan Sang Nenek di Mapolda Jatim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Januari 2015 08:50 8:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Januari 2015 08:50
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh: Yusron Aminulloh

KALAU Anda sempat berada di markas Kepolosian Daerah Jawa Timur, di jalan A Yani Surabaya. Carilah seorang nenek mulia. Nenek usia 87 tahun itu, dulu, karyawan sipil di Mapolda Jatim, tapi hari hari ini, sang nenek berjualan kue. Ia jam 06.00 – 12.00 berada di sana untuk berjualan kue. Ia, pedagang yang disayang banyak orang, bukan saja karena mantan karyawan di situ, tetapi keteguhan nenek ini, memberi inspirasi banyak orang.

Sebut saja namanya Supartini, Nenek ini menjadi potret ibu sejati, pejuang kehidupan. Bahkan sikap kerja keras. Apalagi kalau kita melihat di jalan raya, banyak ibu-ibu masih muda, tetapi menjadi peminta minta. Tanpa malu, mereka menengadahkan tangan, dan menikmati hari hari hidupnya dengan belas kasihan orang. Meski peminta minta ini, secara ekonomi diam-diam lebih mapan dibanding para pekerja keras lainnya. Namun mereka menihilkan harga dirinya habis habisan.

Maka, membaca profil nenek mulia ini, harusnya menjadi tamparan bagi ibu ibu muda yang tidak mau mengabdikan hidupnya untuk kehidupan. Dalam sebuah dialog, nenek ini masih tangkas menjawab setiap pertanyaan dengan bahasa yang lugas.

“Nenek usia berapa ? Kok masih kerja?”

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

“87 Tahun nak. Saya masih kuat kok.”

“Bukankah nenek pensiunan karyawan POLRI, dan punya gaji?”

“Ya nak, bahkan gaji saya cukup, karena saya sekolahnya hanya SR, pensiun saya Rp 1,6 juta,”

“Lho nek, bukankah gaji sudah cukup untuk hidup nenek?”

“Ya sangat cukup. Tapi saya kerja bukan semata cari uang, tetapi mencari kegiatan,”

“Kalau sudah tua seperti nenek, mencari kegiatan itu ya ke masjid nek, masak kerja,”

“Wah, kalau ke masjid itu nomor satu. Tetapi kerja ini kan siang dan tidak mengganggu sama sekali ibdah saya. Saya jualan ini biar tidak melamun dan badan menjadi sehat. Kalau pagi saya ikut naik praoto (truk polisi) saat berangkat dan pulang naik angkutan kota. Alhamdulillah nambah sehat.”

Sebuah dialog sederhana dan menarik. Sebuah kesederhanaan, memaknai usia dengan kerja,bukan bicara. Dengan langkah, bukan mengeluh, dengan positif dan tanpa energi negatif sedikitpun. Bahkan, dalam dialog berikutnya menjadi sebuah getaran jiwa.

“Kue yang nenek jual ini membuat apa membeli ke orang nek ?”

“Oh saya tidak membuat, tetapi membeli di tetangga saya .”

“Berapa nenek beli ?

“Rp 4.000,- nak.”

“Lho kok nenek jual Rp 5.000,-. Untungnya kecil. Harusnya nenek jual Rp 6.000,-. Kan nenek perlu transport, dll,”

“Kasihan anak anak (polisi dan karyawan polda, maksudnya). “

“Kenapa kasihan nek ?”

“Ya mereka kan bekerja untuk anak anaknya.Biar uangnya dikumpulkan, bisa untuk anak anaknya sekolah, tidak habis untuk beli kue. Jadi saya cari untung kecil saja, gak apa apa. Sudah cukup.”

Sebuah jawaban menghentakkan hati. Nenek ini bukan memberikan pelajaran kepada kita, betapa tidak hanya memikirkan dirinya, namun juga memikirkan orang lain (konsumenya). Beliau seorang pedagang yang memikirkan anak-anak pelanggannya, memikirkan keluarga orang yang dilayani dengan keikhlasannya.

Saya memberikan tiga catatan atas kisah nyata yang mulia ini.

Pertama, bahwa hidup itu yang penting endingnya. Kemuliaan nenek yang sudah bekerja keras selama 40 tahun, ternyata hari hari senja—saat pensiun—tidak dipakai untuk sekedar diam dan diam diri. Namun ia tetap bekerja, sehingga tidak ada waktu melamun.

Akibat langkahnya setiap hari,  ia pergi jam 06.00 dan pulang jam 12.00 tiap hari dengan jarak jauh, rumanya sekitar Pacarkeling menuju Mapolda A Yani Surabaya—sekitar 16 Km— ia mendapat keberkahan kesehatan. Sementara banyak orang lain, usia 60 hingga 70 tahun, saat pensiun, rasanya hari demi hari berat dijalani karena penyakit yang datang satu persatu.

Kedua, yang dilakukan nenek mulia ini tidak semata mata mencari uang. Tetapi mencari kegiatan. Meski tidak seberapa yang ia dapat setiap hariya, tetapi iamerasa bahagia. Coba lihat dialog diatas. Ia tidak mau mencari keuntungan banyak, karena ia memikirkan konsumennya yang punya anak dan keluarga. Sebuah langkah kongkrit bershadaqah dengan cara yang indah.

Sementara banyak orang yang secara ekonomi cukup. Di saat usia senja, selalu tidak mau berbagi secara ekonomi, karena merasa tidak punya penghasilan lagi. Bahkan, ketika diajak untuk bekerja sosial, mereka enggan juga karena fisik sudah terbatas. Bandingkan dengan nenek usia 87 tahun ini, tentu kita patut malu.

Ketiga, ketika sang nenek ditegur bahwa masa tua adalah untuk ibadah. Dengan tegas nenek ini menjawab bahwa ke masjid adalah nomor satu. Ini artinya, nenek ini boleh dibilang ahli ibadah. Bahkan kesempurnaan ibadahnya diteruskan dengan bekerja dan bekerja.

Dalam bahasa KH A.Mustofa Bisri, langkah nenek ini berangkat bekerja, bukan hanya bekerja. Tetapi itu adalah berdzikir. Ia berdzikir kepada Allah dengan caranya. Yakni bekerja memuliakan orang lain. Ibadahnya menyatu dalam dirinya. Ia tidak memakai teori, namun ia mempraktekkan. Ia menyatukan dirinya dalam keabadian menuju SurgaNya.

Pingin rasanya saya mencium erat erat ibu, nenek dan wanita mulia ini.*

Penulis adalah pendiri MEP Training Cente

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ekonomikayapolisiPolri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengajari Membaca Tak Harus Mahal
Tulisan selanjutnya Menag Sebut Ongkos Haji Indonesia Murah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?