Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Belajar Sabar dalam Menghadapi Kesulitan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Agustus 2011 14:17 2:17 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Agustus 2011 14:17
Bagikan
Bagikan

Kesulitan atau penderitaan hidup tampaknya sudah menjadi ‘sunatullah ‘ kehidupan ini. Tiada seorang pun di dunia ini yang tak pernah dihinggapi kesulitan atau penderitaan. Mustahil seseorang sunyi dari kesulitan itu. Yang berbeda adalah derajat kesulitan itu dan kesanggupan pribadi seseorang dalam menghadapinya.

Rasulullah saw pernah ditanya, “Siapakah yang paling berat ujiannya?,” Nabi menjawab,”Para nabi, kemudian yang terbaik, lalu yang terbaik, seseorang mendapatkan (bala) ujian sesuai dengan kadar agamanya, bila agamanya kuat maka bertambah berat ujiannya, dan apabila agamanya dangkal, maka Allah mengujinya sesuai dengan kadar agamanya, seorang hamba tidak akan lepas dari ujian sampai ia berjalan di bumi dengan keadaan tidak berdosa.”

Fakta telah menunjukkan bahwa manusia yang paling gampang shock, kaget, dan paling cepat goncang menghadapi kesulitan-kesulitan hidup adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, orang-orang yang ragu dan lemah imannya.

“Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengn berada di tepi, maka bila ditimpa kebaikan ia merasa tenang, dan jika ditimpa fitnah ia membalikkan wajahnya (murtad) ia merugi di dunia dan akirat, itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj: 11).

Demikian itu karena mereka tidak beriman terhadap takdir Allah yang membuatnya rela, tidak mengimani Tuhan yang membuat tenang. Tidak pula beriman kepada para nabi sehingga dapat mene mukan keteladanan pada kehidupannya yang serba sulit, tidak mempercayai kehidupan akhirat yang menghembuskan udara segarnya yang dapat melegakan nafas, mengusir kesedihan dan membangkitkan harapan.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Orang yang mudah goyah dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup ibarat perahu retak dan patah layarnya dihantam gelombang dan angin, sehingga gerakan ombak atau angin kecil saja, perahu itu akan goncang hebat dan miring, apalagi dikepung oleh gelombang dari perbagai penjuru tentu saja perahu itu akan segera tenggelam kedalam lautan yang dalam.

Kita sering temukan kasus bunuh diri justeru di lingkungan komunitas yang tidak peduli terhadap makna hidup beragama, dalam lingkungan masyarakat yang tidak lagi menegakkan norma-norma agama akan lebih banyak lagi ditemukan kasus-kasus yang mengerikan. Suasana akan menjadi kepedihan yang mematikan, duka cita yang mencemaskan dan kegelisahan yang mencekam dan kehidupan yang kehilangan makna. Sebab kesenangan yang ada hanyalah semu, penuh kepura-puraan dan kemunafikan.

Keteguhan Orang Beriman

Orang-orang beriman selalu sabar menghadapi bala’ (malapetaka), paling teguh hatinya dan tegar menghadapi kesulitan hidup dan lapang dada. Dan tabah mengahadapi musibah, karena mereka tahu persis pendeknya umur untuk hidup di dunia dibandingkan keabadian di akhirat. Mereka tidak menginginkan surga sebelum surga yang sebenarnya.

“Katakanlah (wahai Muhammad) kesenangan dunia itu sebentar, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS. Anisa’ 77).

“Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Orang beriman mengetahui sunatullah (hukum alam) bahwa manusia itu akan diuji dengan nikmat kebebasan berkehendak dan menjadi kholifah di bumi sehingga mereka tidak menginginkan menjadi malaikat. Mereka tahu para nabi dan para rasul adalah manusia-manusia yang paling berat ujiannya dalam kehidupan dunia, paling sedikit menikmati kehidupan dunia, sehingga mereka tidak menginginkan lebih baik dari mereka dan dijadikannya sebagai teladan yang baik.

Al Quran mengatakan;

“Apakah kalian menyangka masuk surga, padahal kalian belum merasakan musibah yang telah menimpa orang-orang sebelum kalian, mereka telah ditimpa malapeteka dan kesengsaraan dan digoncangkan sampai rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya menyatakan, “Kapan pertolongan Allah tiba?” Katakanlah, “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al Baqarah 214)

Nikmat dalam Suka dan Duka

Musibah yang menimpa dalam hidup ini bagi orang yang punya iman bukanlah pukulan ngawur, akan tetapi sesuai dengan takdir dan qodho’ yang telah digariskan, hikmah azali, ketentuan ilahi sehingga mereka yakin, bahwa apa yang akan ditimpakan tidak akan luput dan apa yang diluputkannya tidak akan menimpanya.

“Musibah yang terjadi di bumi dan pada diri kalian adalah ditentukan sebelum kami lepaskan, sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.” (QS: Al Hadid 22).

Allah telah mentakdirkan dengan lembut dan halus, menguji dan meringankan. “Sesungguhnya Allah maha halus lembut terhadap sesuatu yang ia kehendaki, sesunggunya ia maha mengetahui dan bijaksana.” (QS. Yusuf 100).

Di antara kelembutan Tuhan ialah bahwa musibah dan kesulitan adalah pelajaran yang berharga dan pengalaman yang bermanfaat bagi agama dan dunianya, mematangkan jiwanya, mengasah imannya dan menghilangkan karat hatinya.

Perumpamaan seorang mu’min yang ditimpa malapeteka yang berat seperti besi yang dimaksukan api hingga hilang kotorannya dan tinggal yang baik.

Itulah nikmat-nikmat yang terdapat pada setiap musibah yang menimpa manusia, sehingga seseorang mungkin perlu bersyukur kepada Allah disamping rela terhadap takdir dan sabar terhadap ujiannya.

Setiap musibah dunia itu kadang-kadang diganti dengan yang lebih baik, oleh karena itu sewaktu Yusuf as disuruh memilih antara dipenjara dan hina dengan wanita cantik yang menarik ia memilih penjara. “Wahai Tuhanku ! penjara lebih aku sukai ketimbang dari memenuhi ajakan mereka kepadaku.” Itulah ratapan Yusuf pada Allah ketika menghadapi ujian berupa godaan wanita.

Di antara ajaran nabi kepada umatnya adalah do’a “Ya Allah janganlah engkau jadikan musibah pada agama kami dan jangan menjadikan dunia sebagai cita-cita kami yang terbesar dan akhir pengetahuan kami.” (HR. Turmudzi).

Seorang mukmin selalu melihat nikmat yang telah diberikan Allah sebelum ia melihat nikmat yang akan diterimanya. Ia melihat petaka yang akan terjadi (di akhirat) disamping telah melihat petaka yang telah menimpa. Sikap ini menimbulkan kelapangan hati dan keridhoan. Bala (peteka) yang terjadi telah ia hindari dan kenikmatan yang telah diterima cukup banyak dan menetap.

Urwah ibnu Zubair seorang ahli fiqh dari kalangan tabi’in adalah teladan yang baik bagi orang mukmin yang sabar, ridho, menghargai nikmat Allah.

Diriwayatkan bahwa kakinya sakit kanker dan dokterpun memutuskan untuk diamputasi (dipotong) supaya tidak menjalar, lalu dokter memberinya obat bius supaya tidak terasa sakit. Namum ia berkata “Aku tidak yakin seorang mukmin mau minum obat yang menghilangkan kesabarannya sehingga tidak mengenali Tuhannya untuk itu potonglah kakiku.” Merekapun memotong kakinya dan iapun diam tidak mengeluh.

Takdir telah menghendaki untuk menguji hambanya sesuai kadar imannya, di malam ia dipotong kakinya, seorang anak yang paling ia cintai jatuh dari lantai atas dan meninggal dunia. Orang-orangpun datang kepadanya dan menghiburnya, iapun berkata “Ya Allah, segala puji hanya untukmu, anak tujuh, dan kau ambil satu berarti masih kau sisakan enam. Sungguh bila Engkau mengambilnya, ya memang itu adalah pemberianmu dan jika engkau menguji dengan sakit, Engkau telah menyembuhkannya.”

Manisnya Pahala dan Pahitnya Kepedihan

Mengharap pahala dari Allah atas musibah yang menimpanya adalah kenikmatan ruhaniah lain yang dapat meringankan malapeteka. Pahala ini tercermin pada peleburan dosa-dosa betapun banyaknya, dan menambah kebaikan yang sangat dibutuhkannya. Dalam suatu hadist shahih disebutkan, “Kesusahan dan kegelisahan, kepayahan, sakit sampai duri yang melukai yang menimpa seorang muslim tidak lain kecuali Allah menghapus dosa-dosanya denganya.”

Salah seorang shaleh, kakinya terluka namun ia tidak mengeluh kesakitan, bahkan tersenyum dan membaca inna lilahi wa inna ilahi raji’un lalu ditanya, “Kenapa tuan tidak mengeluh?” “Sesungguhnya manisnya pahala membuat aku lupa akan pahitnya rasa sakit,” jawabnya menatap.

Itulah sesungguhnya sikap orang beriman ketika menghadapi bala’, ujian dan musibah.*/aql

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Teroris” Hanya Perlu Ditangkap, Bukan Dibunuh
Tulisan selanjutnya Anggota LDII Persoalkan Sidang Perceraian Anggotanya Diliput Media

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU

Berita
8 Juli 2026 09:08
Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM

Terbaru

  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?