Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Moralitas Pelajar di Sekitar Unas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Mei 2011 11:41 11:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Mei 2011 11:41
Bagikan
Bagikan

Oleh: M. Anwar Djaelani

Grafik dekadensi moral pelajar tampaknya makin naik saja. Jika di tahun lalu saat konvoi perayaan kelulusan SMA, sejumlah siswi menyobek roknya serta melepas kerudungnya dan lalu dikibar-kibarkan, maka di tahun ini ada siswi yang kedapatan bertelanjang dada.

Di tahun lalu, di kota yang sama –Pamekasan- suasana kelulusan SMA sudah ditandai aksi memalukan. Konvoi ratusan pelajar lulusan SMA, SMK, dan MA itu diwarnai aksi penjarahan. Di tengah-tengah iring-iringan itu, mereka mendekati kios Pedagang Kaki Lima dan mengambil berbagai jenis makanan ringan dan minimum. Akibatnya, di antara pedagang itu ada yang mengaku rugi setengah juta rupiah.

Kecuali itu, mereka tak sekadar corat-coret seragam. Sejumlah pelajar putri yang sehari-harinya berseragam model busana muslimah, bertindak lebih dari itu. Pelajar putri itu melepas jilbabnya dan dijadikan semacam bendera sambil berboncengan (ada yang memilih sambil berdiri) dengan teman laki-lakinya saat mereka berkonvoi. Bahkan, sejumlah siswi menggunting rok panjangnya.

”Pakaian ini sudah tidak akan saya pakai lagi, karena sudah lulus,” kata salah seorang siswi ketika itu.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Kembali ke tahun ini. Di Sumatera Utara, euforia bahkan dimulai sesaat setelah Ujian Nasional (UN) selesai diikuti para pelajar itu. Lewat judul “Edan, UN Selesai, Pesta Seks Dimulai”, situs www.rimanews.com 23 /4/ 2011 mengabarkan bahwa banyak peserta UN yang mengunjungi lokasi wisata alam dan diduga melakukan perbuatan mesum. Di sejumlah pemandian alam, dari Deliserdang hingga Binjai dan Langkat, ditemukan ratusan kondom bekas yang dibiarkan berserakan.

Pada 21/4/2011 sore, polisi mengamankan dua pasang pelajar Kota Medan, yang tertangkap basah sedang melakukan adegan seks di rumah kitik-kitik, sebutan untuk gubuk di lokasi pemandian itu. Mereka mengaku baru usai melaksanakan UN 2011.

Di Binjai, setelah melakukan aksi coret-coret di dalam kota, para peserta UN menyerbu sejumlah tempat pemandian di sekitar Kota Binjai. Diduga banyak di antara mereka melakukan tindakan asusila di rumah kitik-kitik dan di bawah rerimbunan pohon di lokasi pemandian. Dugaan itu diperkuat temuan salah satu warga pengelola wisata pemandian yang menemukan ratusan kondom bekas.

Apa yang diperagakan pelajar di atas, membuat ’sempurna’ keprihatinan kita. Di tengah banyaknya jumlah pelajar yang tak lulus UN, malah yang lulus merayakannya dengan cara yang jauh dari kesan kaum yang beradab.

Kenyataan di atas mendorong kita untuk menyoal:

Pertama, pendidikan seperti apa yang selama ini mereka dapatkan jika performa lulusannya sama sekali jauh dari kriteria manusia yang berakhlaq mulia? Ilmu apa mereka peroleh jika perilakunya tak terwarnai oleh nilai-nilai kebenaran yang menebarkan rahmat bagi sekitarnya? Pengetahuan apa yang mereka dapatkan jika mereka tak berkarakter positif seperti yang diharapkan pemerintah?

Kedua, mengapa (setidaknya sebagian) konvoi lulusan UN itu dikawal polisi? Tidakkah justru lebih baik diambil tindakan penjeraan dengan dalih pelaggaran aturan lalu-lintas dan bahkan bisa pula dengan dalih mengganggu ketertiban umum?

Peradaban Agunng

Sejatinya, pendidikan adalah kunci sekaligus fondasi terbangunnya sebuah peradaban agung. Dalam konteks ini, benar saat Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas berkata bahwa pendidikan itu bertujuan utama untuk membentuk manusia yang beradab.

Adab, kata Al-Attas lebih jauh, adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya.

Artinya, pendidikan itu bertujuan untuk membentuk manusia beradab. Orang beradab tahu yang haq dan yang bathil. Pendidikan itu akan menjadi media pemberi ilmu yang benar, yang akan menuntun seseorang kepada amal yang benar.

Sayang, rupanya, pendidikan kita belum berda di track yang benar. Pendidikan belum mampu mengantarkan peserta didiknya meraih hasil tertinggi yaitu mengenal Allah dengan segala konsekwensinya. Apa akibatnya?

Lihatlah, misalnya, fenomena Kantin Kejujuran di banyak sekolah yang mengalami kerugian dan bahkan bangkrut. Lihat pula banyak kasus kecurangan saat menghadapi UN. Dan, tentu saja, kasus-kasus asusila di sekitar perayaan kelulusan UN.

Kasus-kasus yang tersampaikan di tulisan ini mengindikasikan tentang ketakberimbangan antara pendidikan yang membuat pintar akal dengan yang membikin hati cerdas. Semestinya, kita sekali-kali tak boleh mengabaikan pendidikan ruhani (baca: hati). Sebab, jika hati kita baik, maka akan baiklah kita. Namun, jika hati kita rusak, maka rusaklah seluruh perilakau kita.

Kasus-kasus pelajar seperti terkutip di atas, memberi kita konfirmasi bahwa telah terjadi penomorsatuan pendidikan yang hanya berorientasi duniawi saja dan pada saat yang sama penomorduaan pendididikan yang menyeimbangkan aspek duniawi dan ukhrowi sekaligus.

Jika benar kita telah berada di situasi seperti itu, maka terbukti benar kegagalan pendidikan kita dalam dembangun karakter, karena sudah mengagungkan dunia.

Cermatilah sekali lagi model hura-hura pelajar di sekitar pesta kelulusan. Tampak, bahwa (setidaknya sebagian) pelajar telah mengagung-agungkan kenikmatan dunia. Pelajar berhura-hura dengan mengabaikan norma kemasyarakatan dan bahkan agama: merokok, melepas jilbab, menggunting rok panjang, berboncengan campur laki-perempuan, dan menjarah dagangan / harta orang lain.

Padahal, jika ilmu mereka benar, maka ilmu itu akan menjaga mereka. Ilmu memang memiliki peran penting. Pernah, Ali bin Abi Thalib RA ditanya tentang mana yang lebih mulia, ilmu atau harta. Ali RA menjawab bahwa lebih mulia ilmu. Ilmu menjaga kita, sementara harta harus kita jaga. Ilmu jika kita berikan ke pihak lain justru akan membuat kita lebih kaya ilmu. Sementara, harta akan berkurang jika kita berikan ke pihak lain. Ilmu itu warisan para Nabi, sementara harta warisan Fir’aun dan Qarun. Ilmu itu menjadikan kita bersatu, sementara harta bisa membuat kita berpecah-belah, dan seterusnya.

Bercermin kepada pemahaman Ali RA tentang ilmu, maka kita harus bisa mewariskannya kepada para pelajar. Artinya, sebagaimana Ali RA, lewat pendidikan kita antar pelajar kita untuk bisa menjadi insan beradab, yaitu manusia bisa membedakan mana pekerjaan yang haq dan manapula yang batil.

Penulis adalah alumnus Program Magister Ilmu-ilmu Sosial, PPs Unair

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pertama Kali, Vonis Mati Pembunuh Demonstran Mesir
Tulisan selanjutnya Adzan Tetap Akan Berkumandang Meski Ditentang Knesset

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?