Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Iran: Simbol Anti-Imperialisme Setengah Hati!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Januari 2012 09:57 9:57 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Januari 2012 09:57
Bagikan
Bagikan

Oleh: Reza Ageung S.

NAMPAKNYA isu Iran akan tetap hot hingga beberapa waktu mendatang. Pasalnya, Iran telah mengacungkan gertakannya untuk menutup selat hormuz di tengah ancaman sanksi dari Amerika Serikat dan sekutunya atas persoalan nuklir. Menurut pakar kajian Timur Tengah dan politik luar negeri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Siti Mut’iah Setiawati, aksi tutup selat ini akan mengakibatkan terganggunya perekonomian dunia karena sepertiga pasokan minyak dunia mengambil rutenya melalui selat tersebut.

Wajar saja jika Obama berang. Ahad (15/01/2012) lalu, presiden negara adidaya itu mengunjungi Korea Selatan untuk membicarakan sanksi terhadap Iran. Situs Aljazeera pun menampilkan hitung-hitungan armada AS di teluk Persia : ada lebih 5000 pasukan yang tersebar di pangkalan AS di Bahrain, Qatar, Saudi Arabia, UEA dan Oman. Oleh karenanya sebagian kalangan mewanti-wanti semakin meningginya suhu persiapan perang antara AS dan Iran.

Apalagi, di tengah suasana genting itu, Ahmadinejad malah berani-beraninya mengunjungi Hugo Chavez, presiden Venzuela, pada Senin (9/1) lalu. Oleh media, kunjungan Ahmadinejad itu dianggap sebagai “pertemuan sesama anti-imperialis”.

Ya, Chavez adalah satu di antara pemimpin dunia yang berani menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di negerinya begitu ia berkuasa. Hawa perlawanan ini nampaknya nyambung dengan retorika Ahmadinejad selama ini. “Kami akan selalu bersama,” ujar Ahmadinejad yang tersenyum sambil memegang erat tangan Chavez, “Kami pemenang dalam pertarungan melawan imperialisme.”

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Tentu saja, sikap kepala-batu Iran bagi Barat menjengkelkan. Namun di alam bawah sadar rakyat dunia ketiga dan dunia Islam yang telah menabung dendam pada hegemoni kapitalisme ala Amerika yang selama lebih dari setengah abad menindas, menjajah dan menyokong rezim-rezim diktator, Iran menjadi semacam juru selamat. Sebuah negara langka yang berdiri menghadap Barat dengan kepala tegak di tengah kebanyak negara lain yang membungkukkan badan. Ahmadinejad dianggap sesosok anti-Barat semacam Soekarno di Tanah Air pada masa lalu.

Terlebih, Saat ini saat ini Iran berada di hadapan bangsa Arab yang baru saja mengalami gejolak-gejolak besar. Rakyat Arab tengah celingukan mencari pemimpin dan sistem alternatif. Bisa saja Iran, yang juga lahir dari rahim revolusi yang sangat anti-Barat, mencoba meraih hati bangsa Arab untuk menjadikannya semacam pemimpin alternatif.

Nampaknya Erdogan sudah mendahului dalam hal ini meskipun hasilnya miskin dukungan. Namun, adakah harapan pada Iran?

Paradoks-paradoks Iran

Pertanyaan “Adakah harapan pada Iran?” di atas harus diajukan dengan tanda tanya yang besar. Di saat Iran sekilas memberi hawa baru dalam konteks perlawanan umat Islam terhadap imperalisme, paradoks-paradoks masih bermunculan :

Pertama, corak Islami pada Iran sudah dibiaskan dengan corak nasionalisme. Hal ini terlihat di antaranya pada dijadikannya bahasa Persia, dan bukan Arab, sebagai bahasa resmi. Label Syariat Islam pun hanya menjadi kosmetik belaka. Dampaknya, politik luar negeri Iran, alih-alih didedikasikan untuk kepentingan dunia Islam, seperti pembebasan Palestina, malah diarahkan untuk kepentingan hegemoni dirinya sendiri. Hal ini terlihat pada persoalan teluk.

Kedua, sentimen sektarian membuat politik luar negerinya “pilih kasih”. Untuk kasus Iraq dan Afghanistan, misalnya, Iran tidak berusaha mencegah invasi AS, dan hanya memperhatikan jamaah-jamaah Syiah yang memiliki kedekatan loyalitas dengan Iran.

Bahkan, Muhammad Ali Abthahi, Wakil Presiden Iran untuk urusan parlemen dan perundang-undangan pada tahun 2004 pernah berkata, “Seandainya tidak karena kerjasama Iran niscaya Kabul dan Baghdad tidak akan jatuh dengan begitu mudah.”

Apakah Iran memang berdiri untuk membela dunia Islam? Sementara pada saat yang sama ia diam terhadap invasi AS di Afghanistan dan bahkan duduk bersama AS untuk membicarakan rekonstruksi Iraq pasca invasi?

Lebih parah, Iran masih tidak mencabut dukungan terhadap rezim Al-Assad di Suriah yang telah membunuh ratusan warganya.

Dalam kasus Palestina pun, Iran berhenti pada slogan dan konferensi-konferensi, padahal ia punya kemampuan untuk mengerahkan armadanya guna menghadapi Israel dan AS. Bahkan Menurut pengamat militer AS Dr. Adam B. Lowther, Iran mampu menenggelamkan Kapal Perang AS yang masuk ke perairan.

Oleh karena itu, untuk menjadikan Iran sebagai harapan baru, rakyat dunia Islam masih menunggu klarifikasi atas persoalan-persoalan di atas.

Bagi kita sejauh ini, semangat anti-imperialisme Ahmadinejad masih sebatas slogan, masih setengah hati. Iran belum teruji, terbukti dan terasa.

Di sisi lain, kita melihat kekuatan rakyat Muslim lainnya seperti pejuang Taliban yang miskin slogan dan retorika, namun secara konsisten membuktikan dirinya berada di garis depan perlawanan, berhadapan langsung dengan invasi AS. Termasuk aksi-aksi pejuang Hamas dan milisi Palestina yang lain tanpa pesawat tempur, tanpa rudal, apatah lagi instalasi nuklir.

Taliban misalnya, sudah mengembalikan secara de facto 90% wilayah Afghanistan ke pangkuannya dan membuat kerepotan pasukan AS.

Sementara membandingkan dengan kiprah nyata Hamas yang mempertahankan Jalur Gaza dari blockade jahat Zionis-Israel (dukungan Barat), sayap pejuang kemedekaan Palestina ini jauh lebih riil disbanding Iran yang hanya retorika di atas kertas.

Sebab, jika ada niat, jarak antara Iran menuju Israel hanya sejengkal saja, jika memang Iran suka gembar-gembor memproduksi berbagai senjata canggih. Dari sini, Nampak lebih nyata anak-anak dan pemuda Palestina yang lebih terbukti siap melemparkan benda-benda ala kadarnya dibanding cerita dongeng senjata-senjata milisi Syi’ah Iran itu. Wajar jika banyak pertanyaan. “Jika benar Iran memusuhi Israel, sejak kapan ada satu peluru saja jatuh di Tel Aviv?”

Walhasil, nampaknya, mau tidak mau, sebelum menyatakan dirinya layak untuk mewakili gerakan perlawanan terhadap imperialisme, Iran harus berkaca pada fakta ini terlebih dahulu.*

Penulis adalah pemerhati masalah keagamaan dan dunia Islam, tinggal di Balikpapan

Keterangan foto: Iran yang katanya rajin produksi senjata canggih, tapi belum pernah menyentuh Israel

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Avasinolog dan Pendekar Kungfu Islam itu Telah Pergi
Tulisan selanjutnya Survei Yahoo Indonesia: Kejaksaan Agung Terkorup

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?