Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Tatalah Hidupmu untuk Bahagiamu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Januari 2012 04:07 4:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Januari 2012 04:07
Bagikan
Bagikan

HAMPIR setiap Muslim menginginkan kebahagiaan. Namun belum semua Muslim mengerti apa itu kebahagiaan dan bagaimana cara meraihnya. Beruntunglah anda yang diberikan pemahaman yang mendalam tentang kebahagiaan lalu berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkannya.

Seorang Muslim yang mengerti apa itu kebahagiaan dan sekaligus memahami strategi untuk meraih kebahagiaan, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menata hidupnya dengan baik. Jadi tidak ada waktu yang akan dilalui tanpa rencana dan tidak ada aktivitas tanpa tujuan.

Bahkan boleh dikatakan semua yang dilakukan itu adalah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan mulia, besar, dan tentunya pasti bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Meskipun kadangkala tujuan tersebut harus ditempuh dengan memberikan pengorbanan dan kepayahan yang luar biasa.

Kebahagiaan itu tiada lain adalah tertanamnya kecintaan yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎), sehingga segala hal yang dilakukannya dalam hal dunia sekalipun semata-mata ia dedikasikan kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) bukan yang lain. Hal itu mampu dilakukan karena keyakinan yang sangat kuat kepada Allah (ma’rifatullah).

Mereka inilah yang dalam al-Qur’an disebut dengan orang-orang yang yakin kepada Allah dan suatu saat pasti akan bertemu dengan-Nya,

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka.”(QS. 2: 46).

Seorang Muslim akan mampu sampai pada derajat mencintai Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) manakala dirinya telah berhasil menata hidupnya dengan menundukkan hawa nafsu dirinya dalam kepemimpinan wahyu (Al-Qur’an).

Orang yang seperti itu akan selamat dan bahagia dalam kondisi apapun. Sebab dunia dan isinya sama sekali tak memberikan satu ruang untuk bergesernya kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Bila dia orang kaya maka dia akan menjadi pembela agama Allah dengan harta benda yang dimilikinya, itulah Abdurrahman bin Auf. Bila dia seorang intelektual maka dia akan kerahkan seluruh kemampuannya untuk kemurnian ajaran Islam, itulah Imam Bukhori yang rela berjalan ribuan kilo untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Bila dia orang miskin maka ia akan tetap istiqomah dan gigih dalam bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, itulah Ali bin Abi Thalib, yang pernah menjadi pengangkut air untuk orang Yahudi. Singkatnya, orang yang mengerti kebahagiaan dan mau meraihnya pasti mereka akan mampu bertahan dalam kondisi apapun demi kebahagiaan hakiki itu.

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. 58: 22).

Dalam ayat yang lain Allah tegaskan bahwa;

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Para kekasih Allah, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita.” (QS. 10: 62).

Kemampuan bertahan dalam derita itulah yang kini mulai sedikit dari sebagian umat Islam yang mampu melaluinya dengan baik. Apalagi dengan adanya tantangan berupa banyaknya hiburan, tontonan, menjadikan sebagian dari mereka kini kian asyk dengan hura-hura, santai ria, dan foya-foya. Padahal semua itu hanyalah kesenangan yang semu dan menipu.

Menata Hari

Sebagai Muslim kadangkala kita lalai mengisi hari-hari kita dengan perencanaan yang baik. Siang malam sering kali dilalui tanpa amal sholeh. Bahkan di antaranya asyk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal rasulullah saw memberikan satu penegasan kuat bahwa salah satu ciri sempurnanya iman seorang Muslim ialah meninggalkan hal-hal yang tidak memberi manfaat.

“Termasuk dari kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR At-Tirmidzi).

Jadi, setiap Muslim hendaknya mampu untuk meninggalkan hal yang tidak diperlukan, baik dari pikiran, perkataan dan perbuatan, dan dia hanya berkonsentrasi dalam melakukan hal-hal yang dia perlukan dari perkataan dan perbuatan yang dapat memberi manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa kita mesti menata hidup kita agar terbebas dari kesia-siaan. Kebutuhan akan penataan hidup dengan mengelola waktu secara baik mulai terasa sangat mendesak, utamanya jika melihat situasi kini dimana hampir semua orang hidup dengan kesibukan yang panjang.

Padahal kesibukan kerja tidak seharusnya membuat kita lalai terhadap perintah agama, sehingga kita sering abai terhadap ruhani kita sendiri. Oleh karena itu kita perlu menata hari-hari kita dengan baik. Bahkan harus ada dalam perencanaan harian kita untuk selalu membaca Al-Qur’an, sholat berjamaah, bersedekah, bersilaturrahim, dan amal sholeh lainnya.

Seorang Muslim, sebagai apapun dia, wajib menata hidupnya dengan baik, demi untuk mendapatkan keridhoan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Bahkan kondisi sulit dalam kehidupan dunia ini tidak boleh membuat kita berpikir instan dalam mendapatkan keuntungan, apalagi sampai menegasikan aturan halal-haram.

Sebab kebahagiaan sejati itu bukanlah dunia tapi akhirat. Oleh karena itu, persiapkanlah diri kita (tatalah hidup kita) untuk meraihnya.

Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok; bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah mengawasi apa saja yang kalian lakukan.” (QS. 59: 18).

Perencanaan seperti harus ada dalam agenda harian setiap Muslim. Jangan mau kalah dengan para artis, pejabat, atau pencinta sepak bola yang selalu punya agenda nonton pertandingan sepak bola meskipun tengah malam berulangkali dalam sepekan.
Jika setiap Muslim memiliki perencanaan harian seperti itu, insya Allah kedepan akan lahir Muslim-Muslim yang berkarakter unggul, disiplin, teliti, cerdas dan insya Allah akan selalu berhasil dalam segala urusan.

Sebaliknya jika Muslim-Muslim hari ini serba asal-asalan, baik dalam bekerja maupun ibadah maka keterpurukanlah yang akan dialami oleh umat Islam.

Belajar Pada Pekerja Kasar

Suatu saat Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang baru pulang dari peperangan. Ketika tiba di Madinah, beliau disambut banyak orang. Begitu beliau datang, ada seorang penjual air yang mendekati Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) hendak mencium tangan beliau. Akan tetapi, Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tidak mau menerimanya, sebaliknya beliau mengambil tangan penjual air itu untuk dicium.Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) merasakan tangannya kasar sekali. Lalu, Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Orang itu menjawab, “Yaa Rasulullah, kerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Apa yang dilakukan Nabi yang agung itu? Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) adalah manusia yang paling mulia, jauh lebih mulia daripada siapapun, tetapi orang yang paling mulia itu begitu melihat tangan yang kasar karena mencari nafkah yang halal, menggenggam tangan itu, dan menciumnya.

Saat Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) hendak mencium tangan itu, beliau berkata, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

Bayangkan jika orang yang dicium tangannya itu adalah anda? Tapi mampukah kita bertahan sebagaimana orang yang bekerja keras itu?

Hanya keyakinan yang kuat yang diderivasikan dalam bentuk penataan hidup dengan baiklah yang akan mengantarkan kita pada derajat mulia, sebagaimana penjual air yang tangannya dicium oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Jadi tidak semestinya kita hidup santai-santai, asal-asalan. Mulailah menata diri dengan sebaik-baiknya. Sebab mereka yang menata hidupnya dengan baik saja belum tentu berhasil. Apalagi yang tidak pernah menata hidupnya. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mewaspadai Ancaman Disintegrasi Keluarga Muslim Indonesia
Tulisan selanjutnya Tidak Perangi Musuh, Tapi Suka Perangi Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?