Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Wanita Lajang Yordan Tidak Ingin Dikasihani

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Juli 2009 17:59
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Mungkin akan dipandang aneh dalam lingkungan masyarakat yang sangat menghargai nilai sebuah perkawinan, jika seorang wanita yang sudah memasuki usia 30-an masih tetap sendiri. Tapi, sebagian wanita lajang di Yordania berusaha mengubah cara pandang masyarakat terhadap mereka. Mereka tidak ingin diberi julukan perawan tua dan mereka juga tidak ingin dikasihani.

“Masalahnya bukan menjadi lajang, tapi masalahnya adalah lingkungan kami,” kata Faten Dabbas, 36 tahun, seorang pengacara. “Mereka berkata ‘Kasihan dia, belum menikah’. Anda melihat iba di mata mereka. Mereka bertanya kepada saya, ‘Mengapa kamu belum menikah hingga sekarang?’. Seakan ada yang salah dengan diri saya. Sebuah pertanyaan bodoh.”

Dengan semakin meningkatnya biaya pernikahan, termasuk harga emas, mas kawin, dan tempat tinggal, ada penundaan usia nikah dalam beberapa tahun terakhir, 29,5 tahun untuk laki-laki dan 26,4 untuk wanita.

Menurut data resmi, pengangguran mencapai 12,7 persen. 14,7 persen rakyat Yordan hidup di bawah garis kemiskinan, dengan pendapatan kurang dari USD 800 (Dh2.934) setahun. Sementara inflasi tahun lalu tercatat 15 persen.

Di akhir tahun 1970-an rata-rata wanita menikah pada usia 21 tahun dan laki-laki 26 tahun. Menurut statistik resmi, 7,8 per 1.000 wanita di atas usia 35 tahun belum menikah.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Meskipun, menurut sosiolog, banyak wanita cenderung menunda pernikahan untuk mengejar pendidikan, karier, atau karena belum mendapatkan pasangan yang cocok, masyarakat Yordania masih belum menghargai wanita lajang.

Zakiyyah Bourini, pendiri komunitas Harraer Charitable, yang dibentuk Februari tahun lalu untuk para wanita lajang Yordan dan merupakan organisasi sejenis yang pertama kali ada, sudah muak dengan orang-orang yang memanggil wanita lajang dengan sebutan perawan tua.

“Itu adalah sebuah kata yang menunjukkan permintaan dikasihani. Kata itu merujuk pada onta betina yang sudah tua dan tidak berguna, atau pohon kurma mandul yang tidak bisa berbuah.”

“Banyak dari wanita lajang yang telah membantu orang tua mereka membiayai keluarga, menyerahkan seluruh pendapatannya untuk membiayai pendidikan saudara laki-laki mereka. Ketika mereka sudah ‘diperas’ dan tidak lagi mempunyai pekerjaan, mereka berubah menjadi korban dan beban bagi keluarga. Yang mereka butuhkan adalah rasa hormat dari masyarakat dan penghargaan dari keluarga.”

Nona Bourini berharap, masyarakat akan mengubah pandangan mereka terhadap wanita lajang.

“Kami menggunakan nama Harraer, dan bukan perawan tua, yang artinya pasir murni atau awan hujan yang banyak memberikan manfaat.”

Nona Bourini menyelenggarakan pertemuan di kalangan wanita lajang Yordan, berusaha untuk meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat dan menggalang dana bagi proyek yang akan mereka buat, khususnya untuk para wanita yang kurang pendidikan dan tidak memiliki penghasilan. Ia juga mencari donatur.

“Apakah Anda mau menjadi beban masyarakat? Apakah Anda mau orang mengasihani Anda?” Ia bertanya kepada 10 orang wanita dalam sebuah pertemuan di pemukiman miskin sebelah timur kota Amman, pekan lalu.

“Kami ingin Anda bekerja dari rumah. Kami tidak ingin Anda hidup di bawah rasa iba orang lain. Kami tidak ingin menjadi komoditi yang dianggap tidak berguna dan disingkirkan.”

“Benar bahwa kita tidak punya pendukung tempat kita bersandar, tapi kita punya kekuatan.”

Para wanita itu mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang tertarik untuk belajar menjahit.

Suad Awad, 43, adalah salah seorang yang tertarik untuk bergabung dengan komunitas Harraer. “Istri paman, memanggil saya dan saudara perempuan saya dengan perawan tua,” katanya. “Saya merasa tertekan dan sedih.”

Keadaannya tambah parah bagi dirinya, karena ia tidak mempunyai penghasilan. Nona Awad tinggal bersama dengan saudara perempuan dan bibinya di sebuah rumah keluarga. Mereka semua hidup dari uang pensiun saudara perempuannya sebesar USD 160 sebulan.

“Ketika ayah kami masih hidup, ia sangat ketat dan tidak memperbolehkan kami keluar rumah jika tidak perlu. Jadi saya sudah terbiasa hidup seperti ini,” katanya. “Tapi sekarang saya berharap bisa memiliki penghasilan sendiri.”

Ia bilang, dirinya bisa merangkai bunga dan menanam bunga untuk dekorasi, meskipun dirinya menderita rematik.

Dalam komunitas, para wanita itu saling mendukung satu sama lain. Nona Dabbas, yang hidup sendiri sejak orangtuanya wafat 10 tahun lalu, mengatakan bahwa komunitas itu memberinya kesempatan berbagi rasa dengan anggota lain yang mempunyai keadaan yang sama. “Sangat nyaman di hati,” katanya.

Noha, 39, adalah wanita yang juga ingin bergabung dengan komunitas Harraer. Ia tinggal dengan orang orangtua dan adik laki-laki. Lima orang saudara laki-lakinya yang lain semuanya sudah menikah, demikian pula saudara kembarannya.

“Ada beberapa calon buat saya sebelumnya, tapi mereka tidak ada yang cocok. Tidak masalah saya belum menikah. Tapi jika ada yang melamar, saya tidak keberatan. Ketika saya melihat ada orang lain yang juga belum menikah seperti saya, agak lega rasanya.”

Sekarang ini Noha merawat ayahnya yang menderita darah tinggi dan sakit penglihatan.

Sementara itu lain halnya dengan laki-laki bujangan. Masyarakat melihat menjadi lelaki bujangan sebagai sebuah pilihan. “Meskipun masyarakat bertanya mengapa mereka belum menikah,” kata Musa Shtewi, Direktur Jordan Centre for Social Research. Ia juga menceritakan tentang ayahnya yang memandang pernikahan sebagai sebuah batu pondasi.”

“Ayah saya berkata ‘Sekarang kamu menjadi laki-laki’ ketika saya menikah 11 tahun lalu pada usia awal 40-an tahun,” katanya. [di/tn/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Awas! Peredaran Daging Celeng Meningkat
Tulisan selanjutnya 52 Pub Inggris Tutup Tiap Minggu Akibat Krisis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Berita
20 Juli 2026 17:00
Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?