Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Bodyguard Wanita Ala Mesir

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Januari 2010 18:42
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Di sebuah tempat olahraga di Heliopolis, pinggiran kota Kairo, tiga orang wanita muda berkerudung sedang belajar bagaimana mempertahankan diri sendiri.

Guru mereka adalah seorang pria besar bercelana panjang longgar dengan baju tunik berwarna putih. Ia menunjukkan jurus-jurus mematikan Aikido, ilmu beladiri ala Jepang.

Salah satu wanita muda itu adalah Dawlat Sami. Wanita berusia 21 tahun itu sedang belajar untuk menjadi seorang pengawal wanita.

“Awalnya, ayah saya keberatan,” kata Sami kepada CNN. “Tapi kemudian ayah pergi bersama saya dan melihat apa yang kami lalukan. Dan ia berubah pikiran.”

Ketika para wanita itu tidak berlatih Aikido atau berlatih angkat beban dengan disaksikan poster tua hitam putih bergambar Arnold
Schwarzenegger, mereka belajar di kelas. Pelajaran menekankan pada bagaimana cara agar tetap waspada, bersikap profesional dan tidak terlalu berakrab ria dengan para klien.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Profesi sebagai pengawal wanita yang sepertinya tidak mendapat tempat di Mesir, belakangan ini menjadi sebuah ladang bisnis baru yang menjanjikan. Setidaknya bagi majikan Sami di Falcon, sebuah perusahaan jasa keamanan di Mesir.

Dalam tiga tahun terakhir, Falcon yang merupakan salah satu perusahaan sekuriti terkemukan di Mesir, telah melatih lebih dari 300 pengawal wanita. Permintaan pasar akan pengawal wanita terus meningkat, demikian menurut Sharif Khalid, direktur Falcon.

“Di masyarakat kami, wanita tidak ingin digeledah atau diperiksa tasnya oleh laki-laki,” katanya.

Falcon yang merupakan anak perusahaan bank Mesir CIB, mempekerjakan 3.800 orang petugas keamanan. Perusahaan itu memberikan jasa mulai dari perlindungan pribadi, pengawalan pengiriman uang, hingga pembuatan sistem keamanan.

Pada tahun 2008, Falcon berhasil membukukan keuntungan bersih sebesar 2,3 juta dollar.

Secara rutin Falcon beriklan di surat-surat kabar Mesir, mereka mencari kandidat pengawal berusia antara 20 hingga 35 tahun. Syaratnya selain sudah menyelesaikan sekolah tingkat atas, juga harus memiliki ketrampilan bela diri.

Di samping lulus tes kesehatan, pelamar juga wajib lulus tes uji ketrampilan menangani masalah.

Kemampuan berbahasa Inggris mendapatkan nilai lebih.

“Jika seorang klien wanita akan pergi keluar negeri, kami harus menyediakan seorang pengawal wanita yang memiliki semua ketrampilan itu,” kata Muhammad Salah, salah seorang manajer yang selalu berhubungan dengan pelanggan.

Pelanggan Falcon terdiri dari bintang film, diva musik pop, para putri kerajaan, wanita-wanita pengusaha dari negeri kaya minyak, pengunjung asing dan orang-orang terkenal lain, yang disebut Khalid sebagai “wanita elit.”

Para wanita pengawal itu tidak membawa senjata. Cara mereka melindungi klien, pertama dengan jurus diplomatis. Tapi jika cara-cara halus gagal, maka mereka bisa melumpuhkan lawan.

Para wanita itu diajarkan agar bisa berpikir cepat dan tangkas.

“Masalah fisik tidak terlalu penting,” kata Khalid. “Yang penting (bagi pengawal wanita) adalah bisa mengenali orang yang mencurigakan dan bereaksi dengan cepat. Karena dalam masalah pengamanan, jika anda terlambat sedikit saja, maka runyam akibatnya.”

Wanita-wanita yang bekerja untuk Falcon itu sangat paham, bahwa keterampilan beladiri mereka juga berguna ketika berada di luar tugas.

“Jika ada masalah, atau seseorang mengganggu saya, sekarang saya tahu bagaimana cara membela diri,” kata Amani Mahmoud.

Pelecehan Seksual

Menurut jejak pendapat yang dilakukan oleh Egyptian Center for Women’s Rights (ECWR), sebanyak 83 persen wanita Mesir dan 98 persen wanita asing yang berkunjung ke negara itu mengalami pelecehan seksual.

Mesir berupaya mengatasi hal itu, misalnya menghukum pria dengan penjara selama dihukum tiga tahun penjara karena mengganggu seorang wanita di jalan, seperti yang terjadi pada tahun 2008. Tapi usaha itu masih dinilai kurang, sebab seringkali polisi Mesir, yang upahnya kecil dan seringkali yang tidak mendapat pelatihan dengan baik, diprotes oleh kaum wanita.

Maka tidak heran jika sebagian wanita memutuskan untuk turun tangan mengatasi hal itu.

“Ini juga menjadi pembuktian,” kata Randa Muhammad, salah seorang pengawal wanita.

“Orang bilang wanita tidak bisa bekerja sebagai pengawal, tapi saya ingin mengubah pandangan semacam itu. Saya ingin menunjukkan bahwa wanita bisa membela diri mereka sendiri, sekaligus melindungi orang lain,” kata Randa.

Falcon bukanlah yang pertama di Timur Tengah menggunakan wanita sebagai pengawal. Pemimpin Libya Muammar Ghaddafi sudah bertahun-tahun dikenal dengan pengawal-pengawal wanitanya yang sigap dan galak. [di/cnn/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anak, Televisi, dan Buku
Tulisan selanjutnya Antusiasme yang Menyala

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Artikel
21 Juli 2026 07:00
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah

Terbaru

  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?