Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Saintek

Diabetes dan Depresi Dapat Saling Memicu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 November 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Diabetes dan depresi dapat saling memicu. Penderita diabetes berisiko tinggi mengalami depresi, sebaliknya mereka yang mengalami depresi berisiko menderita diabetes.

Diabetes adalah gangguan metabolisme karbohidrat karena jumlah insulin yang kurang, atau bisa juga karena kerja insulin yang tidak optimal. Diabetes ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi.

Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat.

Insulin membuat gula berpindah ke dalam sel sehingga menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.

Baca Juga

Lithium Air Laut
China Temukan Cara Baru Menambang Lithium Air Laut
7 dari 10 Warga Malaysia Ingin Medsos Dilarang untuk Anak di Bawah 14 Tahun
Warisi Generasi Old, Milenial Akan jadi ‘Generasi Terkaya dalam Sejarah’
Minum Air Zamzam Sembuhkan Sakit dan Kuatkan Hafalan
Ilmuwan Menemukan Koridor Tersembunyi di Piramida Agung Giza Mesir

Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum akan merangsang pankreas menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan.

Pada saat beraktivitas fisik, kadar gula darah juga bisa menurun karena otot menggunakan glukosa untuk energi.

Pada penderita diabetes, kerja insulin yang tidak optimal menyebabkan gangguan metabolisme karbohidrat. Akibatnya gula tidak bisa diubah menjadi glukogen. Gula juga akan melalui ginjal sehingga urinenya mengandung glukose. Ini yang sering disebut orang sebagai kencing manis.

Diabetes tipe-1 disebabkan kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin yang diperlukan untuk mengatur kadar gula darah. Penyakit autoimun itu berbeda dengan diabetes tipe-2, yang berkaitan dengan kegemukan.

Diabetes tipe-2 disebabkan resistensi insulin di jaringan perifer karena kadar gula darah yang terlalu tinggi sehingga insulin `kelelahan` membawa gula dari darah ke jaringan dan menyebabkan penumpukan gula dalam darah. Diabetes tipe ini paling banyak dialami dan berhubungan erat dengan gaya hidup.

Penderita diabetes menunjukkan gejala antara lain sering kencing, banyak minum, pandangan kabur dan rasa kebas pada tangan atau kaki.

Sementara itu, depresi ditandai dengan gejala antara lain sering merasa cemas, merasa putus asa atau bersalah, tidur atau makan terlalu sedikit, dan kehilangan rasa tertarik terhadap hidup, orang dan kegiatan.

Sebuah riset yang dilakukan di Universitas Harvard menemukan bahwa mereka yang mengalami depresi memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk menderita diabetes, dan mereka yang menderita diabetes memiliki risiko tinggi untuk mengalami depresi, jika dibandingkan dengan kelompok peserta studi yang sehat.

Menurut Dr. Frank Hu, guru besar nutrisi dan epidemiologi pada Harvard School of Public Health di Boston, hasil riset itu menunjukkan bahwa dua kondisi itu dapat saling mempengaruhi dan kemudian menjadi lingkaran setan sehingga pencegahan terhadap diabetes penting untuk mencegah depresi, dan sebaliknya.

Di Amerika Serikat, sekitar 10 persen dari jumlah penduduk menderita diabetes dan setiap tahun 6,7 persen orang berusia lebih dari 18 tahun mengalami depresi klinis. Sekitar 95 persen diabetes merupakan diabetes tipe-2. Para peneliti menemukan bahwa keduanya dapat saling mempengaruhi.

Riset itu dilakukan dengan mengamati 55.000 wanita selama 10 tahun, dan mengumpulkan data melalui kuisioner. Di antara lebih dari 7.400 peserta yang mengalami depresi, terdapat 17 persen yang memiliki risiko tinggi mengalami diabetes. Mereka yang mengonsumsi obat antidepresi memiliki risiko 25 persen lebih tinggi.

Sebaliknya, di antara lebih dari 2.800 peserta yang mengalami diabetes, terdapat 29 persen yang mungkin akan mengalami depresi, dengan mereka yang mengonsumsi obat memiliki risiko lebih tinggi karena pengobatan menjadi kian agresif.

Tony Z. Tang, asisten profesor pada Departemen Psikologi Universitas Northwestern mengatakan, obat yang dikonsumsi para peserta riset tidak berdampak menyembuhkan, tidak seperti antibiotik untuk infeksi. Karena itu, pasien depresi dan pasien diabetes tetap mengalami gejala utama penyakit tersebut.

Namun, Tang mengingatkan untuk tidak menarik kesimpulan terlalu jauh dari hasil riset itu, karena korelasi antara diabetes dan depresi menurun tajam saat berat badan berlebih dan ketidakaktifan dikendalikan dalam riset itu.

Ia mengatakan, kegemukan dan memiliki gaya hidup tidak sehat menyebabkan orang lebih mungkin mengalami depresi, dan juga lebih mungkin menderita diabetes.

Dr. Joel Zonszein, Direktur Clinical Diabetes Center pada Pusat Medis Montefiore di New York City mengatakan, sulit menetapkan kaitan itu dalam studi yang didasarkan pada kuisioner karena laporan yang dibuat sendiri dapat tidak akurat.

“Ini tidak ideal. Sulit untuk mengatakan apa menyebabkan apa, apakah satu menyebabkan yang lain. Sulit untuk menjelaskan,” katanya.

Karena itu, penelitian yang besar diperlukan, kata Zonszein, yang juga guru besar pada Albert Einstein College of Medicine, di New York City.

Hu, yang juga guru besar kedokteran di Universitas Harvard mengatakan, kesimpulan riset itu benar. Saat kedua kondisi itu memberikan faktor risiko yang sama (obesitas dan kurang olah raga), dapat dikatakan bahwa kedua kondisi itu berkaitan.

Depresi dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah dan metabolisme insulin melalui peningkatan kortisol, yang memberikan pengaruh pada kebiasaan makan, penambahan berat badan dan diabetes, katanya.

“Sebaliknya, manajemen diabetes dapat menyebabkan stress kronis dan ketegangan, yang dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko diabeters. Keduanya terkait tidak hanya secara perilaku, tapi juga secara biologi,” katanya. [ant/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Bintara Paling Rentan Lakukan Pelanggaran
Tulisan selanjutnya Gerakan Kifayah Imbau Boikot Pemilu Legislatif Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali

Berita
5 Juni 2026 14:35
Suriah Buru Pelaku Kejahatan Perang, Eks Komandan Assad Ditangkap
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Saintek

Para Ilmuwan Lakukan Deteksi Autisme pada Rambut

9 Januari 2023 20:30
Saintek

Tantangan Teknologi, Banyak Orang Oversharing dan Umbar Aib di Media Sosial

26 Desember 2022 14:00
Saintek

(Video) Kuasa Allah, Ilmuwan Berhasil Merekam Tumbuhan yang Bernapas

23 Desember 2022 15:10
Saintek

Selandia Baru akan Siapkan Undang-undang agar Facebook dan Google Membayar Berita

5 Desember 2022 11:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?