Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Poso, Operasi Intelijen atau Jamaah Islamiyah?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Oktober 2003 07:19 7:19 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Oktober 2003 07:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– JI (Jamaah Islamiyah) akan dipersalahkan kembali dalam kasus Poso. Apalagi, setelah salah satu korban tertembak berasal dari Lamongan yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal pelaku bom Bali. Selain itu, seorang lagi, yang juga tewas, bernama Madong atau Muhamadong, pernah dilatih Mustofa, nama yang dikait-kaitkan dengan JI. Tapi Arianto Sangaji, peneliti dan koordinator pada Yayasan Tanah Merdeka, sebuah LSM kerakyatan di Palu, Sulawesi Tengah, ragu akan hal itu. Peneliti konflik Poso ini malah curiga operasi intelejen di balik insiden berdarah tersebut. Inilah penuturannya kepada Radio Nederland yang disiarkan 29/10/2003.

Arianto Sangaji [AS]: Kalau memang disebut Jamaah Islamiyah seperti Muhammadong atau Madong sama Mustafa memang indikasi ke arah itu kuat sekali. Tetapi kekuatan-kekuatan bersenjata yang ada di Poso, kekuatan sipil maksudku, itu bukan hanya faksi itu. Tapi ada juga faksi yang lain. Ada juga laskar-laskar lokal. Awalnya mungkin mereka dilatih seperti Mustafa atau Al Ghozi sekalipun. Tapi kalau melihatnya bahwa mereka bagian dari Jamaah Islamiyah menurut aku agak terlalu prematur. Faksi di antara laskaran juga kencang sekali.

Radio Nederland [RN]: Cuma yang menarik adalah kenapa sekarang mendadak ada kerusuhan di Poso. Ini momentumnya dikaitkan dengan peristiwa bom Bali?

AS: Lagi-lagi menurutku ini perlu investigasi yang lebih dalam. Seperti yang terakhir kemarin ketika aku pergi ke Beteleme. Masyarakat coba melihat dan mengaitkan antara peristiwa penyerangan yang terjadi di Beteleme, bukan yang di Poso pesisir ya, itu sebagai tindakan balas dendam terhadap peristiwa yang terjadi itu pada tahun 2000. Nah itu bisa dibuktikan dengan jumlah orang di kampung ya. Orang kampung yang ikut terlibat dalam kelompok yang melakukan penyerangan itu.

RN: Dan tampaknya ini kaitannya dengan peristiwa satu tahun bom Bali itu justru tidak didengar lokal Poso sendiri ya?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

AS: Di lokal Poso sama sekali tidak terdengar.

RN: Tapi ada juga fakta yang tidak bisa disangkal ya, itu pelurunya peluru Pindad?

AS: Bukan cuma peluru, senjata, yang beredar di Poso ini kan begitu banyak dan itu berada di tangan sipil. Soal penyebaran senjata itu sumber pertama adalah Filipina Selatan, tapi yang lain juga sebetulnya datang dari Jawa. Dan sayangnya ketika paska deklarasi Malino pemerintah meminta masyarakat untuk menyerahkan senjata, yang diserahkan itu kan senjata-senjata rakitan yang sudah tua yang tidak bisa dipakai. Tapi senjata organik standar seperti M16, AK47 itu tetap beredar di masyarakat.

RN: Paling mungkin juga bersinggungan lagi. Jadi artinya memang ada unsur-unsur militer yang juga ikut bermain begitu?

AS: Aku merasakannya begitu. Karena peristiwa Bateleme dan Poso pesisir itu kan dua hal yang terpisah. Yang jaraknya itu 200km, dan menurutku ini sebetulnya bagian dari suatu operasi intelijen.

Banyak fakta yang menurutku agak aneh. Misalnya aku kontak beberapa pihak laskar-laskar ya. Pada umumnya mereka bilang peristiwa yang terjadi di Poso pesisir itu sama sekali tidak terkait dengan mereka. Mereka sudah cek orang-orangnya. Ini kan selalu letupan kekerasan ini muncul kalau ada rencana penarikan pasukan. Jadi kalau pasukan ditarik eskalasi kekerasan pasti naik lagi. Nah ini sudah berpola. Kita melihatnya sudah sejak tahun 2001.

RN: Yah sekalipun ditemukan kenyataan fakta bahwa yang ditangkap itu adalah orang yang pernah dilatih Mustofa atau orang yang pernah dilatih di Jawa Timur. Mungkin juga itu tidak lepas dari operasi intelijen menggunakan mereka. Begitu kan?

AS: Ya aku sedikit percaya itu, karena memang ada indikasi seperti Jamaah Islamiyah kan sudah mulai diisukan banyak dikerjain sama intelijen ya. Sudah banyak jumlah operasi intelijen menyusup sampai ke situ. Dan menurut aku organisasi -organisasi yang radikal seperti Mujahidin ini kan juga dalam beberapa pemberitaan umum juga disebutkan ada infiltrasi.

Dan kalau kita melihat dalam pengalaman sejarah orde baru, menurut aku ini bukan hal yang baru. Tahun 1980an ketika Ali Moertopo melakukan operasi-operasi semacam ini. Ini sebetulnya suatu kesinambungan dari pengalaman-pengalaman bagaimana operasi intelijen mencoba untuk masuk dan meradikalisir kekuatan-kekuatan Islam yang dianggap radikal.

RN: Bulan ramadhan mulai berjalan dan kabar terakhir seorang lagi tewas di Poso dan juga ada kabar beredar selebaran-selebaran Jihad kembali.

AS: Sebetulnya kemarin, waktu aku di Poso, memang selebaran Jihad sudah dikeluarkan. Pada waktu kedatangan Madong, Muhamadong itu selebaran itu disebarkan. Sumbernya nggak tahu. Tapi yang jelas isinya mengajak umat Islam di kota Poso untuk kembali melakukan Jihad.

Tapi kalau aku melihat masyarakatnya sekarang sudah lebih dewasa. Dalam pengertian tidak terpancing atau terprovokasi dengan ajakan-ajakan seperti itu kendati seminggu setelah peristiwa penyerangan di Bateleme dan Poso pesisir kan ada juga kasus pembunuhan terhadap satu warga muslim dari Poso kota yang mayatnya dialirkan di air itu. Tapi menurut aku tidak sepanas dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.

RN: Dan tampaknya masyrakat juga tahu ya, kalau konflik yang rugi mereka sendiri warga sipil yang untung lagi-lagi tentara dan militer.

AS: Tentara, militer dan birokrat…

Demikian Arianto Sangaji, peneliti dan koordinator pada Yayasan Tanah Merdeka di Palu. (rnwl/cha)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hindari Pejuang Islam, Israel Melatih Babi
Tulisan selanjutnya Mahathir Yakinkan Penggantinya Tak Butuh AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?