Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cover Story

Seks dan Gereja, Sistematis dan Sistemik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Maret 2010 15:07 3:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Maret 2010 15:07
Bagikan
Bagikan

idayatullah.com–Tiga puluh tahun John J. Geoghan berkeliling bebas memangsa anak-anak di sekitarnya. Setidaknya 130 anak menjadi korban kebejatan rohaniwan Keuskupan Boston itu. Seorang ibu bahkan harus merana karena tiga putra dan seorang putrinya, semua menjadi korban Geoghan. Tidak cuma itu, tiga keponakannya juga mengalami hal serupa. Bukan main.

Memang bukan main-main, karena kasus pelanggaran seksual sengaja ditutupi oleh gereja. Bukan hanya oleh gereja lokal, tapi juga penguasa Tahta Suci Vatikan.

Bahkan di Irlandia, pihak gereja bekerja sama dengan polisi menutupi kasus-kasus yang terjadi.

Kepada majalah Jerman, Focus, Kepala Gereja Katolik Roma Jerman Uskup Agung Zollitsch, mengakui bahwa gereja sengaja menutupi kasus pelanggaran seksual. “Ya, kami melakukannya,” katanya.

Zollitsch mengatakan, kasus yang terjadi di institusinya membuat dirinya malu dan ketakutan. “Setiap kasus, membuat wajah seluruh gereja semakin kelam.”

Baca Juga

(Video) Tante Dolly Telah Pergi
(Video) Menguji Toleransi di Bali
Usaha Mengkaji Ulang “Paradigma Baru” LDII
Dr. Ending: Penyerangan Satu Bukti Kesesatan Akidah LDII
Kenapa Mereka Marah?

Di Jerman, negara asal Paus Benediktus XVI, skandal seks yang bermunculan di mana-mana menimbulkan pertanyaan publik atas masa lalu Paus itu sendiri.

Tahun 1980, Paus Benediktus XVI, yang ketika itu masih dikenal sebagai Uskup Agung Joseph Alois Ratzinger, pernah mengirim seorang pastor ke Munich untuk melakukan terapi, karena melakukan pelanggaran seksual. Dokter jiwa yang merawat rohaniwan itu diingatkan agar tidak memperbolehkannya bekerja dengan anak-anak lagi. Tapi peringatan tinggal peringatan, karena Joseph Alois Ratzinger sendiri yang memperbolehkan lagi pastor itu menjalankan tugasnya dan berhubungan dengan anak-anak. Janggalnya, pekan lalu seorang pejabat di gereja Jerman yang harus menanggung resiko atas keputusan yang dibuat Benediktus XVI itu, ketika ia masih menjadi uskup agung.

Selibasi

Uskup Agung Wina Christoph Schonborn berpendapat bahwa selibasi menjadi salah satu penyebab skandal seks yang menghantam gereja Katolik.

Dalam sebuah artikel di majalah keuskupannya, Thema Kirche, ia menganjurkan agar dilakukan penyelidikan yang sungguh-sungguh atas penyebab terjadinya kasus pedofilia.

“Termasuk di dalamnya masalah pelatihan bagi para pastor, dan juga pertanyaan tentang apa yang disebut dengan revolusi seksual. Juga termasuk masalah selibasi pastor dan masalah pengembangan kepribadian. Semuanya itu menuntut kejujuran yang sangat, baik dari pihak gereja maupun masyarakat keseluruhan,” tulisnya.

Schonborn bukan orang pertama yang menghubungkan selibasi dengan pedofilia. Seorang pakar teologi bernama Hans Kung pernah menyatakan pendapat yang sama.

Klaus Beier, salah seorang pakar kesehatan seksual terkemuka Jerman, yang sering menangani para pedofil, pernah menawarkan bantuan untuk menolong para rohaniwan di lingkungan gereja Katolik. Cukup mengejutkan, karena Vatikan membalas suratnya.

“Atas nama Tahta Suci, saya mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda kepada kesejahteraan anak-anak dan tawaran bantuan kepada penderita (pedofil),” tulis serorang pejabat Vatikan.

Mungkin surat Beier terselip dalam tumpukan surat lainnya di Vatikan. Karena hingga saat ini, belum ada realisasi dari balasan Vatikan atas tawaran Beier untuk menangani penyimpangan seksual para pastor.

Sejarah konyol

Bibel sama sekali tidak mengajarkan selibasi. Sebelum abad pertengahan, para rohaniwan Katolik bukan saja diperbolehkan memiliki banyak istri dan gundik, tapi hal itu merupakan perkara lumrah. Karena poligami adalah budaya yang sudah ada sebelum agama Kristen lahir.

Namun karena alasan harta duniawi, Paus Pelagius I berusaha mencegah harta kekayaan gereja habis. Maka ia pun berupaya membuat para pastor baru setuju agar keturunan mereka tidak bisa mewarisi kekayaan gereja.

Paus Gregory kemudian menindaklanjutinya dengan menetapkan bahwa seluruh putra rohaniwan adalah tidak sah. Hanya anak laki-laki, karena anak perempuan bisa mewarisi dengan cara lain dalam masyarakat.

Tahun 1022 Paus Benediktus VII melarang pernikahan dan gundik bagi rohaniwan. Kemudian di tahun 1139 Paus Innocent II membatalkan seluruh pernikahan rohaniwan, dan pastor baru harus menceraikan istri-istri mereka.

Tidak ada alasan moral sama sekali dalam penetapan aturan selibasi, seperti yang sering diklaim sebagian orang. Selibasi bukan dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada tuhan, tapi semata agar harta gereja tetap menjadi milik gereja.

Meskipun pernikahan dilarang, masih ada dispensasi hingga menjelang akhir tahun 1970an. Tahun 1966 Paus Paulus VI bahkan menetapkan dispensasi selibasi. Alasannya, gara-gara selibasi gereja kekurangan rohaniwan. Mana ada pria normal yang tahan hidup tanpa wanita?

Pada bagian awal surat pastorialnya “Sacerdotalis Caelibatus” tertanggal 24 Juni 1967, Paus menulis, “Di dunia pada masa sekarang ini, menjalankan selibasi menjadi sulit atau bahkan mustahil.”

Namun penggantinya di tahun 1978, John Paul II atau lebih dikenal dengan Paus Yohanes Paulus II, mengeluarkan “Theology of the Body”. Menurutnya, tubuh manusia–pria dan wanita–hanyalah obyek kesenangan atau mesin manipulasi semata. Dengan berdasarkan pemikiran dangkal seperti itu, Paus lalu menghapus semua dispensasi selibasi.

Kini, dampak buruk selibasi terlihat jelas. Kerusakan terjadi di mana-mana. Bukan sekedar menciptakan kebohongan di kalangan pelayan dan wakil tuhan, tapi juga merusak masa depan banyak anak manusia. [dija, berbagai sumber/hidayatullah.com]“/>

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Besok, Masjid Al Aqsa Mungkin Dikuasai Zionis
Tulisan selanjutnya Senarai Skandal Rohaniwan Katolik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Berita
31 Agustus 2026 22:46
Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Suka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTT

24 Mei 2013 09:38

Bertahan di Tengah Kesunyian demi Dakwah

21 Mei 2013 17:15

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2)

16 Mei 2013 10:55

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (1)

13 Mei 2013 12:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?