Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Biaya Hidup Tinggi, Israel Diguncang Demo

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Agustus 2011 11:08
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Kemarahan publik Israel meruap akibat lebarnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin di sela-sela seruan kepada “Bibi” untuk “pulang ke rumah.

Media Israel sejak hari Ahad (31/7/2011) menyuarakan protes besar-besaran menentang tingginya biaya hidup di Israel, dan memperingatkan bila pergerakan baru tersebut merupakan tantangan yang serius terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu.

Koran-koran di negeri itu memajang di halaman-halaman pertama mereka foto-foto sekitar 100.000 rakyat Israel yang turun ke jalan pada Sabtu malam untuk berdemonstrasi menuntut perbaikan ekonomi dalam negeri. Dan para komentator menyambut gerakan “keadilan sosial” baru tersebut, dengan mendesak pemerintahan Netanyahu untuk menyikapinya secara serius.

“Rakyat telah menyatakan perasaan mereka,” tulis komentator Ben Caspit di harian Maariv. “Berita buruknya bagi Netanyahu adalah kekuatan protes tersebut. Sedangkan berita baiknya adalah bahwa protes tersebut tidak menyentuh basis pemilihnya, khususnya kalangan religius.”

Caspit memperingatkan bahwa para pengunjuk rasa memiliki begitu banyak keluhan yang kemungkinan memicu pergolakan berkepanjangan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Dalam istilah yang Netanyahu pahami dengan sangat baik, kita sedang berada di tengah-tengah hutan api yang dahsyat, dengan 150 titik api. Seribu tangki super pun tak akan mampu mengatasinya,” dia mengingatkan.

“Krisis tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, minyak tanah, perlindungan dan masih banyak lagi masalah-masalah lainnya. Itu semua mencuat dalam waktu yang bersamaan,” tulisnya lagi.

Nahum Barnea, menulis di harian Yediot Aharonot, menyebut protes-protes tersebut sebagai “hal yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Apakah massa tersebut berjumlah seratus ribu, atau dua ratus ribu, yang jelas belum pernah ada sebanyak itu jumlah orang yang turun ke jalan mengangkat isu-isu sosial,” tulisnya.

“Siapa yang menyangka bila 150.000 rakyat Israel membawa persoalan tersebut turun ke jalan atas nama perubahan sosial?”

Barnea mengungkapkan persistensi dan gairah gerakan protes tersebut, dengan mengatakan bahwa “alienasi dan sinisme yang menjadi gambaran publik di tahun-tahun yang lalu sekarang telah berganti dengan keterlibatan dan protes.” Dan ia mengingatkan bahwa demonstrasi tersebut, yang telah menunjukkan daya tahannya semenjak dimulai pada pertengahan bulan Juli, adalah “ibarat tulang yang menyangkut di leher pemerintah.”

Komentator sayap-kiri Gideon Levy, yang dikenal dengan kritik pedasnya terhadap orang-orang sebangsanya sendiri terkait kebijakan-kebijakan penjajahan Israel, memberi judul komentarnya “Malam ini saya bangga menjadi orang Israel.”

“Malam ini semua orang Israel boleh dan seharusnya bangga menjadi orang Israel, tak seperti sebelumnya,” tulisnya.

“Tak ada yang dapat menjadi kampanye persatuan publik yang lebih baik untuk negeri yang dipandang rendah dan terkucil ini daripada demonstrasi “Israel yang baru ini” tadi malam.” Levy mengingatkan bahwa nasib Netanyahu terletak di tangan para pengunjuk rasa.

“Rakyat Israel di seantero negeri meneriakkan, ‘Bibi (panggilan Netanyahu) pulanglah,’ Bibi memang benar-benar akan pulang. Selamat tinggal, Bibi, selamat tinggal untuk selamanya.”

Untuk menghentikan pemberitaan yang gencar tersebut, surat kabar Israel Hayom, yang dianggap dekat dengan Netanyahu, mengarahkan perhatian pada perbaikan-perbaikan yang diharapkan dilakukan oleh pemerintahan Netanyahu, yakni “menurunkan biaya hidup dan mengurangi pajak-pajak tidak langsung.”

Tetapi Yair Lapid, menulis di Yediot Aharonot untuk menyemangati para pengunjuk rasa agar tetap kuat, mengatakan kepada mereka: “Kalian menang.”

“Kalian mampu menaklukkan pembagian yang salah yang telah berlangsung bertahun-tahun antara pihak kanan dan kiri, kalian mengalahkan perbedaan yang naif antara pusat dan daerah, kalian mengalahkan para pengurus pusat partai, para dokter keliling, konsultan media, komentator Internet yang tidak punya sopan santun,” tulis Lapid.

“Yang paling utama, kalian telah memenangkan pertarungan melawan sinisme yang telah menggerogoti jiwa negeri ini.”

Lebih dari 30.000 orang berdemo di pusat kota Tel Aviv sedangkan ribuan lagi berbaris di Yerussalem, sebelah selatan kota Haifa dan di Nazareth.
 Para pengorganisir unjuk rasa tersebut menyatakan bahwa lima ribu-an orang di Yerussalem berbaris menuju kediaman Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, membawa spanduk-spanduk bertuliskan “Seluruh generasi menginginkan masa depan.” */Zahra 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya What Next After Ramadhan?
Tulisan selanjutnya Kesenjangan Makin Meningkat di Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam

Berita
21 Juli 2026 14:37
‘Israel’ Disebut Gali Parit Berisi Buaya di Sekitar Blok Penjara Tahanan Hamas
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota

Terbaru

  • Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi
  • ‘Israel’ Disebut Gali Parit Berisi Buaya di Sekitar Blok Penjara Tahanan Hamas
  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?