Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Mengenal Komunitas Muslim Aborigin

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 November 2011 08:35
Bagikan
Bagikan

SAAT menyaksikan ANZAC parade pada tanggal 25 April 2011 di depan War Memorial, Canberra, saya mendapati demonstrasi yang dilakukan oleh puluhan kaum Aborigin. Mengusung tema “healing spirit” mereka memprotes penindasan oleh bangsa Eropa yang terjadi dimasa lampau, dengan membentangkan tulisan-tulisan protes serta membagi-bagikan stiker bergambar benua Australia bercorak bendera Aborigin. Di antara puluhan demonstran, baik Aborigin maupun orang Eropa pendukungnya, tiba-tiba seorang demonstran seperti blasteran Aborigin-Eropa tersenyum dan menunjukkan kafiyeh di lehernya kepada istri saya (berjilbab), seolah ingin memberikan sebuah isyarat.

Dengan kalung kafiyeh itu ia cukup menonjol di antara para pemrotes tersebut. Saya tidak bisa memastikan apakah ia seorang Muslim atau bukan. Yang pasti senyumannya itu ingin menunjukkan rasa kesedihan yang dialami oleh orang-orang Palestina.

Sebagai seorang Aborigin, ia seperti mengidentikkan dirinya dengan orang-orang yang diusir dari tanah airnya dan tercerabut dari sumber-sumber kehidupannya oleh rezim apartheid, Zionis Israel.

Di tengah cemoohan beberapa penonton parade yang khidmad memperingati kekalahan tentara Australia di Gallipoli Turki, ia mencoba menyampaikan perasaannya ketertindasan yang dirasakan.

Tentang berbagai insiden pembunuhan serta stolen generation (upaya memberadabkan suku-suku Aborigin dengan mengambil paksa anak-anak mereka untuk dididik secara Eropa) yang sempat dirasakan oleh orangtua mereka. Melihat kami Muslim, demonstran Aborigin itu melempar senyum getirnya yang bisa kami terjemahkan; solidaritas!.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Di Australia, Aborigin Muslim adalah komunitas yang berkembang dengan pesat. Jumlahnya sulit diketahui secara pasti, namun perkiraan konservatif berjumlah lebih dari 1000 orang (hasil sensus tahun 2006), meningkat sebesar 60% dari hasil sensus 1996 yang berjumlah sekitar 600 orang. Jumlah Muslim Aborigin di tahun 2011 ini diperkirakan terus meningkat, dari keseluruhan suku Aborigin yang berjumlah 517 ribu orang pada tahun 2006 yang tersebar di seluruh Australia.

Mengenal Islam

Kontak pertama mereka dengan Muslim adalah saat mereka bertemu dengan para pencari teripang orang-orang Makassar dan Bugis yang singgah di Australia Utara setiap bulan Desember dari periode 1700-an sampai 1907. Sejarah selanjutnya terkait dengan para Muslim penunggang unta Afhanistan (dari Rajastan dan Baluchistan) antara 1860 sampai 1890 yang didatangkan oleh kolonial Eropa untuk membantu menembus isolasi gurun pasir Australia mengirimkan bahan makanan serta pembangunan rel kereta api waktu itu.

Kaum Muslim Afghanistan tersebut sempat membangun masjidnya, disamping ada pula yang menikah dengan penduduk asli Aborigin seperti kakek buyut Muslim keturunan Aborigin bernama Shahzad dalam sebuah program televisi multikultural SBS.

Sepeniggal buyutnya kakek Shahzad sempat kembali ke Baluchistan dengan keluarganya, hal yang diakuinya menjaga keIslaman mereka sampai kembali lagi ke Australia. Selain itu, orang-orang Aborigin dari berbagai suku mengenal Islam dari komunitas-komunitas Muslim imigran yang datang ke Australia dalam tahun-tahun terakhir.

Perasaan ketertindasan sejarah adalah salah satu alasan mengapa aborigin dengan nama Muslim Khaled memasuki Islam yang ia kenal saat di dalam penjara. Sementara Justin yang masuk Islam saat menempuh kuliah di jurusan ilmu Hukum merasa dalam Islam ia mendapatkan perasaan merdeka dan terputus dari beban sejarah kelam komunitasnya. Ia sekarang merasakan lebih kuat dan mampu meredam kemarahan serta menjadi manusia seutuhnya, sama seperti manusia lainnya.

Berbondong-bondongnya Aborigin menjadi mualaf setelah mengenal ajaran Islam ibarat sebuah protes karena menurut mereka mengikuti agama orang Eropa seperti menyetujui penindasan di masa lampau. Namun, kemusliman mereka itu juga bukanlah sebuah pelarian semata, karena kadang-kadang mereka lebih mempraktekkan Islam daripada para Muslim imigran yang datang ke Australia karena alasan ekonomi. Setelah memeluk Islam, mereka bisa melepaskan diri dari alkoholisme dan obat-obatan terlarang, penyakit yang parah melanda suku asli Australia itu.

Lebih lanjut, seperti disampaikan Solomon yang mengenal Islam dari rekan kerjanya, nilai-nilai Islam ia rasakan lebih kompatibel dengan adat-istiadat mereka yang cenderung menghargai komunalitas dan saling menjaga. Penghormatan kepada orang yang lebih tua juga mereka rasakan sama dengan nilai-nilai tradisional mereka. Hal tersebut berbeda dengan nilai-nilai bangsa Eropa yang cenderung individualistis, egaliter namun kurang menghargai orang tua dan kebiasaan mandiri sejak dianggap telah dewasa.

Perkembangan Islam yang cepat diantara kaum Aborigin Australia adalah sebuah kenyataan yang mengejutkan, dimana agama Kristen adalah mayoritas meski prosentasenya terus menurun dari tahun ke-tahun ditengah semakin banyaknya orang atheis dan agnostic. Hal serupa juga terjadi pada Muslim Indian Amerika Latin yang masuk Islam sebagai “protes” atas sejarah kelam mereka yang pada abad ke-16 dipaksa masuk agama Katolik oleh penjajah Spanyol. Mereka bertemu kelompok-kelompok kecil Muslim Spanyol (Murabitun) yang melarikan diri ke Benua Latin itu dari sisa-sisa kekhalifahan Spanyol karena menghindari inquisisi kaum Katholik.

Mirip pula yang dirasakan orang-orang Negro Muslim Afrika yang ratusan tahun didatangkan sebagai budak di Amerika Serikat sampai awal abad ke-20. Beberapa keturunan mereka berupaya mencari akar kemusliman nenek moyang mereka yang telah terkikis, seperti termanifestasi dalam gerakan Nation of Islam. Hal yang juga dirasakan seorang Aborigin juara tinju yang menjadi mualaf bernama Antony Mundane yang mengenal Islam dari tulisan-tulisan Malcom X.

Muslim Aborigin yang terus berkembang jumlahnya adalah sebentuk protes atas penindasan bernuansa rasis di masa lampau, meskipun pemerintah Australia terus melakukan banyak upaya untuk mendorong integrasi, multikulturalisme dan pemberdayaan kepada mereka. Di sisi lain, semakin berkembangnya pula mualaf bangsa Eropa di Australia dimana Islam yang terus tumbuh mungkin akan menjadi healing spirit bagi Australia dimasa depan.*/Abu Alfath, tinggal di Canberra

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sedalam Samudra Hati Mbak Ana
Tulisan selanjutnya Halat Ammar Sediakan 50.000 Al-Qur`an untuk Jamaah Haji

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?