Hidayatullah.com—Hari-hari ini, sejuta pertanyaan yang sedang mengganggu warga Israel adalah, apa yang bakal terjadi setelah kade Al Ikhwan al Muslimun, Dr Muhammad Mursy duduk di singgasana kekuasaan presiden di Kairo?
Beberapa warga Yahudi Israel mengatakan, Pemilu Mesir yang mengantarkan Muhammad Mursy sebagai presiden telah menimbulkan kekhawatiran. Sebuah media Yahudi, Yediot Achronot menyindir dalam headline beritanya dengan mengatakan telah terjadi kegelapan di Mesir.
“Kegelapan di Mesir,” demikian judul berita Yediot Achronot Senin (25/06/2012).
“Dunia menertawakan kami ketika kami menjuluki Musim Semi Arab sebagai Kebangkitan Islam,” kata seorang pegawai pemerintahan di koran Haaretz.
“Sekarang baru semua orang tahu situasinya.”
Ia menambahkan, pernyataan Mursy mengkhawatirkan, bahwa Mesir akan membangun hubungan baik dengan musuh bebuyutan Israel, Iran.
Tak akan berubah
Namun pandangan lain datang dari pengamat politik Israel, Yaakov Katz, dalam analisisnya berjudul, “Analysis: Israeli security under Morsy” di The Jerussalem Post, (06/24/2012) mengatakan, Mursy menghadapi tantangan yang jauh lebih besar untuk segara ditangani, daripada sekedar memilih bertengkar dengan negara Yahudi itu.
Ekonomi negara Mesir menurun drastis sejak jatuhnya Mubarak tahun lalu. Investor telah meninggalkan negara dan defisit fiskal telah menggelembung.
Terkait dengan kondisi ekonomi yang sulit Israel sebenarnya berharap , Mesir akan tetap bergantung kepada bantuan negara-negara lain khususnya Amerika Serikat dan Eropa. Israel berharap, bantuan itu akan menjadi semacam penopang untuk memastikan bahwa Mesir tetap mempertahankan hubungan normal mereka.
Hanya saja pertanyaan yang mengganggu Israel adalah apa yang akan terjadi beberapa bulan atau setahun dari sekarang setelah Morsy duduk di ke istana presiden di Kairo? Pertanyaan ini menjadi kecemasan ankatan bersenjata Zionis-Israel, IDF.
Sebenarnya, menurut Yaakov Katz, semenjak Mubarak jatuh, Israel telah menyiapkan perang dengan Mesir. Ketika Jenderal Benny Gantz mengambil alih jabatan. Benny Gantz dipilih Februari lalu dengan dua rencana. Satu menyerukan pembentukan segera divisi baru, pengadaan skuadron tempur dan memperkuat angkatan laut untuk melawan ancaman potensial dari Mesir.
“Rencana lain yang dipilih Gantz lebih berhati-hati dan dilakukan dengan asumsi bahwa kalaupun Al Ikhwan berkuasa, maka ada jeda waktu sebelum Mesir mengancam Israel lagi seperti yang dilakukannya saat menjelang perang Yom Kippur tahun 1973.”
Seperti diketahui, selama ini, Mesir adalah satu-satunya negara Arab yang mengakui keberadaan negara Israel.*