Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Musim Khitan di Filipina Sempat Terhenti Akibat Pandemi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Agustus 2021 03:52 3:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Agustus 2021 21:36
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Selama lebih dari setahun, Caspien Gruta telah diejek oleh rekan-rekannya karena lambat untuk dikhitan. Khitan sempat reda menyusul beberapa insiden yang tidak diinginkan, termasuk musibah letusan gunung berapi dan pandemi Covid-19.

“Saya khawatir jika saya tidak dikhitan sekarang, saya akan malu,” kata bocah berusia 12 tahun itu, katanya dikutip AFP.

Filipina memiliki salah satu tingkat khitan tertinggi di dunia, dimana praktik berusia berabad-abad ini dianggap sebagai kunci bagi anak laki-laki untuk memasuki kedewasaan. Bahkan ketika khitan mendapat sorotan dan beberapa kritikus mencapnya sebagai “pelecehan anak”, khitan jarang dipertanyakan di Filipina.

Setiap tahun, ribuan pra-remaja melakukan operasi secara gratis di klinik pemerintah atau yang disponsori komunitas. Tapi tahun lalu, “musim khitan” dibatalkan untuk pertama kalinya karena wabah virus, menunda tonggak sejarah bagi banyak anak laki-laki seperti Gruta.

Gruta adalah salah satu anak laki-laki tertua yang berbaris di lapangan basket tertutup yang berubah menjadi klinik darurat di Silang, Cavite selatan Manila, salah satu dari sedikit provinsi yang perlahan-lahan memulai kembali layanan khitan gratis sejak Mei.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Saya merasa seperti orang Filipina asli sekarang karena dikhitan adalah bagian dari menjadi orang Filipina,” kata Gruta setelah prosedur 20 menit.

Mengenakan masker dan pelindung wajah, anak-anak lelaki itu duduk di kursi plastik di dekat deretan meja kayu yang dikelilingi oleh tirai merah. Beberapa tampak bersemangat atau melakukan yang terbaik untuk tampak acuh tak acuh, dan yang lain gelisah saat mereka menunggu.

Setelah melepas celana pendek mereka, anak-anak itu berbaring di atas meja dengan kaki menggantung di tepi dan selangkangan mereka ditutupi oleh kain operasi. Beberapa menggigit kain penutup wajah atau menutupi mata mereka saat mereka diberi suntikan anestesi local oleh ahli bedah.

“Saya dikhitan karena mereka mengatakan saya akan tumbuh lebih tinggi dan saya akan menjadi lebih baik dalam olahraga,” kata Almer Alciro, 12 tahun.

Keluarganya tidak mampu membayar rumah sakit swasta di mana biaya operasinya mencapai 12.000 peso (sekitar Rp 3 juta) – setara gaji pekerja dalam sebulan. Sementara dia menunggu layanan gratis, teman-teman Alciro mengejeknya sebagai “tidak dikhitan” – sebuah penghinaan yang mirip dengan pengecut.

“Saya senang akhirnya saya dikhitan,” kata Alciro.

Kristen dan Khitan

Agama di Filipina ditandai dengan mayoritas orang menganut kepercayaan Kristen. Sekitar 92% penduduknya adalah Kristen: sekitar 81% menganut Gereja Katolik Roma sementara sekitar 11% menganut denominasi-denominasi Kristen Protestan.

Meski demikian, khitan telah dipraktekkan di Filipina selama berabad-abad, bertahan dari perang dan penjajahan oleh Spanyol dan Amerika Serikat. Khitan merupakan tradisi kaum Muslim atau Yahudi, namun jarang dilakukan pemeluk Katolik.

Sekitar 90 persen pria Filipina dikhitan meski bukan karena alasan non-agama, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia. Anak laki-laki berusia delapan tahun menghadapi tekanan sosial untuk menjalani operasi. Bahkan iklan rumah sakit mendesak anak laki-laki untuk “Be Man Enough”.

Khitan massal biasa terjadi selama bulan-bulan terpanas dari April hingga Juni ketika anak-anak sekolah sedang libur panjang. Biasanya ratusan anak laki-laki menjalani operasi di luar ruangan dalam satu hari, tetapi aturan Covid-19 telah mengurangi ukuran kelompok secara drastis.

Banyak daerah belum memulai kembali layanan gratis karena mereka memerangi Covid-19.

Khitan mengurangi risiko terkena infeksi saluran kemih dan kanker penis. Studi juga menunjukkan bahwa pria yang dikhitan memiliki peluang lebih kecil untuk terkena infeksi menular seksual seperti HIV, herpes dan sifilis.

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan khitan laki-laki – di samping penggunaan kondom dan lebih sedikit pasangan seksual – sebagai pencegahan HIV yang didapat secara heteroseksual. Pada tahun 2002, para ilmuwan menemukan bahwa wanita yang berhubungan seks dengan pria yang dikhitan memiliki risiko lebih rendah terkena kanker serviks.

Penelitian medis pada tahun 2009 juga menunjukkan bahwa khitan pada pria mengurangi risiko human papillomavirus (HPV) yang dapat menyebabkan kutil kelamin pada kedua jenis kelamin, serta kanker serviks pada wanita.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:filipinakhitanMuslimpandemi Covid-19
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KPAI: Harap Sekolah Jadi Tempat yang Aman untuk Anak
Tulisan selanjutnya perang taliban 100 Negara Mengutip Sumpah Taliban untuk Mengizinkan Perjalanan Keluar dari Afghanistan Lanjutan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal

Berita
9 Juli 2026 18:04
Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
TikTok Laporkan Penonaktifan 1,7 Juta Akun Anak ke Komdigi
‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania

Terbaru

  • Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah
  • Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida
  • Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
  • Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital
  • MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
  • MUI Matangkan Persiapan Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Bahas Isu Strategis Keumatan dan Kebangsaan
  • BMIWI Gelar Milad ke-59, Canangkan Hari Majelis Taklim Nasional di Masjid Istiqlal
  • Hampir 6.000 Awak Kapal Masih Tertahan di Teluk Arab
  • Kisah Yono, Tangan Kanan Ustadz Adi Hidayat yang Ogah Jadi Komisaris
  • Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?