Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Aceh dan Wahabi, Sebuah Wacana Menarik [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Maret 2015 11:35 11:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Maret 2015 12:19
Bagikan
Sebagian sempat menolak Syeikh Al-Kalbani di Aceh, tapi Imam Masjid Haram ini malah baca qunut
Bagikan

Oleh: Khairil Miswar

Sambungan artikel PERTAMA

Wahabi Baca Qunut?

Beberapa waktu lalu (Jumat, 27/02/15), seorang yang mengaku santri menulis sebuah surat terbuka di Serambi Indonesia  dengan tajuk “Surat Terbuka kepada Kapolda Aceh”. Surat tersebut ditulis oleh Muhammad Iqbal Jalil. Dalam surat tersebut, Muhammad Iqbal Jalil  menyatakan keberatannya kepada Kapolda Aceh, Husein Hamidi, yang kononnya akan mendatangkan seorang penceramah dari Arab Saudi, Syeikh Adil Al-Kalbani.

Yang menjadi alasan utama penolakan santri tersebut adalah disebabkan Syeikh Adil Al-Kabani adalah seorang Wahabi. Santri tersebut berdalih bahwa mayoritas masyarakat Aceh menganut Mazhab Syafi’i dalam bidang fiqih dan Ahlus Sunnah Waljama’ah dalam bidang teologi. Menurut santri tersebut, Syeikh Adil Al-Kalbani adalah sosok yang kontroversial sehingga bisa mengundang penolakan dari sejumlah masyarakat. Sang santri juga menyarankan kepada Kapolda untuk mengundang para Masyaikh Al-Azhar di Mesir yang menurutnya memiliki kesamaan idiologi dengan mayoritas masyarakat Aceh.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Namun apa yang terjadi? Orang-orang yang selama ini menaruh “syak wasangka” tak berdasar, apalagi kepada seorang ulama. Berbagai tudingan emosional yang dituduhkan kepada Syeikh Adel Al-Kalbani oleh santri Muhammad Iqbal Jalil tidak terbukti adanya.

Sebelumnya, dalam suratnya, Muhammad Iqbal Jalil menyebut bahwa Syeikh Adel Al-Kalbani adalah seorang Wahabi yang idiologinya berseberangan dengan keyakinan umum masyarakat Aceh. Demikian pula dengan mazhab fiqih yang dianut oleh Al-Kalbani juga dianggap bertolak belakang dengan mazhab Syafi’iyah yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Aceh.

Namun apa lacur? Syeikh Al-Kalbani justru telah menunjukkan kebesaran jiwanya yang sangat menghargai pemahaman agama masyarakat Aceh. Beredar informasi, Syeikh Al-Kalbani menjaharkan (mengeraskan) bacaan bismillah ketika membaca Fatihah. Tidak hanya itu, beliau juga membaca doa qunut pada saat memimpin shalat Subuh, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di negerinya.

Tentunya hal ini tak pernah terduga sebelumnya dan mungkin tak pernah terpikir oleh kita yang dipenuhi sakwa sangka. Ketakutan berlebihan yang melanda santri seperti Muhammad Iqbal Jalil cs selama ini hanyalah ketakutan yang tak beralasan.

Apa yang telah dilakukan oleh Syeikh Al-Kalbani di Aceh, tentunya berbeda jauh dengan tingkah sebagian masyarakat Aceh yang datang ke tanah suci.

Ada orang Aceh (sebagain kecil) yang tidak mau shalat di belakang Imam Masjidil Haram ketika mereka pergi haji atau umrah. Alasan mereka, karena imamnya Wahabi. Tapi anehnya mereka (masyarakat kita) masih berthawaf di Ka’bah yang saban tahun dijaga dan dibersihkan oleh Wahabi. Kita menghujat Wahabi, tapi setiap musim haji kita berwuquf di “Negeri Wahabi”. Tentunya Allah Subhanahu wata’aala Maha Tahu, kepada siapa tanah haram itu pantas dititipkan.

Semoga saja, apa yang telah dilakukan oleh Syeikh Al-Kalbani di Aceh dapat menjadi renungan bagi kita semua. Meskipun beliau bermazhab “non Syafi’i”, tapi sangat menghormati mazhab yang dianut orang Aceh. Hal serupa juga sangat sering dilakukan oleh imam-imam kaum Muslimin di masa lalu, semisal Imam Syafi’i yang meninggalkan bacaan qunut ketika beliau shalat di seputaran makam Imam Abu Hanifah. Toleransi seperti ini harus terus kita lestarikan di Indonesia, bukan caki-maki dan saling mencela.

Akhirnya kita cuma bisa berharap agar kaum muslimin tidak terkotak-kotak dan saling tuding-menuding  satu sama lain dengan stigma-strigma buruk semisal stigma Wahabi,  kecuali Syiah kelompok yang paling sibuk mencari celah persatuan Ahlus Sunnah.

Bagaimanapun, ego mazhab harus dikesampingkan dan ukhuwah Islamiyah harus dikedepankan. Wallahu A’lam.*

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry, Konsentrasi Pemikiran dalam Islam, dan juga mantan santri di Dayah Darussa’dah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Acehahlus sunnahAhlus Sunnah Wal Jama’ahimam ahmad bin hanbalimam syafi'iQunutsalafywahabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jabar Akan Bangun 99 Miniatur Masjid Dunia
Tulisan selanjutnya Pilih Dada Sempit atau Dada Lapang?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?