Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Konsep Pendidikan Islam; Karakter Saja Tak Cukup

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Mei 2015 08:34 8:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Mei 2015 08:34
Bagikan
Murid Sekolah Master Indonesia Depok saat Ramadhan
Bagikan

Oleh: Sastrawan Tarigan

BELAKANGAN pemerintah disibukkan dengan program pendidikan berkarakter. Semua pihak mulai dari orangtua, guru, sampai pemerintah ingin agar para pelajar mampu memiliki kepribadian berkarakter dan berakhlak mulia. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda impian tersebut menjadi kenyataan, malah sebaliknya, moral pelajar semakin ambruk dan tak punya jati diri.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal sudah berkali-kali kurikulum pendidikan kita diganti. Namun kenyataannya pemerintah masih sibuk dengan pendidikan berkarakter ala dia yang telah terbukti gagal dan tak mau mengakui bahwa selama ini yang menjadi pokok permasalahannya adalah sistem pendidikan Indonesia yang telah diliberalisasi, lalu terbentuklah kurikulum yang kaku serta tenaga pendidik yang tidak kompeten, sehingga terbentuk pendidikan yang begitu terpusat di sekolah dan terjadilah pendikotomian antara ilmu pengetahuan/sains dengan agama.

Pemerintah nampaknya masih keukeuh dengan konsep “pendidikan berkarakternya’ yang gagal itu. Tampaknya pemerintah tak memahami atau tak mau paham bahwa sejatinya pendidikan itu bukan sekedar mendapatkan ilmu dan mampu menguasai satu bidang tertentu saja. Namun juga mampu mencetak karakter-karakter unggul yang beradab dan tidak nyeleneh dalam hal keilmuan.

Islam dan Adab

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Adalah dunia keilmuan dalam Islam yang dikenal sangat menjunjung tinggi adab. Bahkan terdapat kaidah dalam keilmuan Islam yang bunyinya, “al-‘adabu fawaul ‘ilmi” (adab itu lebih tinggi daripada ilmu).

Maka dalam tradisi keilmuan Islam selalu dituntut agar para penuntut ilmu  terlebih dahulu belajar adab. Agar ia mengetahui adab kepada Tuhannya, adab kepada utusan Tuhannya, adab kepada gurunya,  serta adab kepada ilmu itu sendiri.  Karena hakikatnya mencetak manusia yang beradab adalah salah satu tujuan utama pendidikan itu sendiri.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu menjelaskan makna adab, sebagai “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan derajat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.”

Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu.

”Keduanya sia-sia kerana yang satu mennyifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi menyifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC)

Karakter Penting tapi Tak Cukup

Maka sudah jelaslah, jika seorang yang memiliki ilmu namun tanpa adab maka ia akan menjadi orang yang angkuh dan ingkar. Sehingga tak heran ketika kita melihat tokoh yang memiliki ilmu tapi suka mencela, mencaci, dan menghujat serta nyeleneh. Yang dihujatnya bukan hanya manusia saja, namun Tuhan dan kitab suci pun menjadi bahan hujatannya. Karena ia hanya berilmu, namun tak memilik adab. Jadi bisa dikatakan, siapa yang memiliki ilmu namun tak memiliki adab, maka sia-sialah seluruh ilmu yang ia miliki.

Di sisi lain, Islam tidak mendikotomikan ilmu dengan agama. Islam tidak mengenal pendidikan yang parsial (juz’iy), namun sebaliknya,  konsep pendidikan Islam adalah integral (kully). Oleh karena itu Islam tidak mengenal pendidikan yang mendikotomikan antara ilmu pengetahuan dan agama.  Sistem pendidikan Islam yang terintegrasi bertujuan mewujudkan individu yang kenal dengan dirinya, kenal Tuhannya, kenal utusan Tuhannya, mengerti akan kewajibannya hidup di dunia, sehingga ia paham bahwa seluruh aktivitasnya di muka bumi ini memiliki tujuan utama yaitu beribadah kepada Allah ( Q.S. adz-Dzariyat: 56).

Bukankah aktifitas pendidikan di universitas dikenal dengan istilah “kulliyah” bukan “juz’iyyah”. Hal ini mengindikasikan bahwa seharusnya intelektual-intelektual muda dapat menjadi manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dengan tujuan membuatnya semakin ta’at kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bukan malah semakin menjauhkan dirinya dari Allah, bahkan malah menjadi penghujat, pencaci, dan penghina Allah, kitab-kitabNya, dan utusan-utusanNya. Karena pendikotomian ini malah mendistorsikan tujuan pendidikan itu sendiri.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya tak terpaku dengan pendidikan yang   menghasilkan individu yang hanya mampu menguasai satu bidang saja, tapi juga dalam bidang-bidang lainnya, misalnya seorang dokter yang juga paham ilmu fiqih, seorang pakar matematika yang paham ilmu tafsir al-Qur’an dan lain-lain yang kesemuanya itu telah dicontohkan para ulama-ulama besar terdahulu seperti al-Khwarizmi, Ibnu Sina, al-Kindi, ar-Razi dan sebagainya. Bahkan, menurut Jacques Maritain, pemikir Katolik asal Prancis menyatakan bahwa pendidikan yang terlalu cenderung ke arah spesialisasi sebenarnya melatih manusia untuk menjadi binatang, sebab binatang memang mempunyai kemahiran sangat khusus dalam suatu bidang tertentu. Lebih lanjut Prof.  Wan Mohd Nor mengatakan Islam tidak mengenal sifat “spesialisasi buta” seperti ini. (Buku Filsafat Ilmu Perspektif Islam dan Barat, Dr. Adian Husaini, Gema Insani , 2013)

Dengan semua kegagalan yang ada, sudah seharusnya pemerintah kembali menata dan membenahi sistem pendidikan. Pendidikan karakter memang bagus, namun pendidikan karakter saja tidak cukup. Konsep pendidikan karakter yang ditawarkan harus jelas dan memenuhi syarat seperti yang telah dipaparkan di atas. Pendidikan di sekolah memang baik, namun pendidikan yang dipusatkan di sekolah saja tentu perlu dikaji ulang. Ditambah dengan tenaga pengajar yang masih jauh dari standar kompetensi serta kurikulum yang tak pernah baku dan begitu kaku, selalu berubah setiap menterinya berubah. Kita harus mulai melirik pendidikan diluar ruangan (outdoor).

Karena itu, pemerintah harus serius untuk menyelaraskan antara ilmu pengetahuan umum dan agama. Agar nanti menghasilkan manusia-manusia yang mampu mengenal ilmu pengetahuan secara luas, namun tidak meninggalkan Allah yang telah memberi kehidupan baginya.

Pemerintah juga harus bisa mencetak individu yang tidak hanya ahli dalam satu bidang saja, namun ia bisa menguasai berbagai bidang lainnya. Sehingga nantinya kita memiliki manusia-manusia yang unggul baik dari segi keilmuan maupun agamanya.*

Penulis adalah mubaligh dan kristolog muda FSRMM

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabilmukarakterPendidikanpengetahuan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Manusia Tak Akan Nikmati Kedamaian Jika Mengusung Paham Liberal Dalam Jalani Kehidupan
Tulisan selanjutnya Hukum di Indonesia Tak Jalan Karena Tak Sesuai Jiwa Masyarakatnya yang Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?