Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Hijab Syar’i Style: Oase atau Fatamorgana? [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Mei 2015 10:50 10:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Mei 2015 10:38
Bagikan
Di satu sisi hijab-hijab berharga tinggi ini menjadi salah satu jalan untuk perempuan kelas atas menggunakan hijab. Di sisi lain harga hijab tinggi tengah menguatkan pengaruh gaya hidup boros di kalangan Muslimah (ilustrasi)
Bagikan

Oleh: Linda Langitshabrina

SEBAGAI pintu gerbang pelaksanaan perintah berhijab, kehadiran hijab style memang disebut-sebut sebagai berita baik.

Wacana ini juga memperlebar jalan masuk ulama di ranah online maupun offline, on air maupun off air untuk menjelaskan secara rinci makna dan aturan hijab dalam Islam.

Felix Siauw, Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, dan tokoh lainnya menawarkan warna syar’i dalam hingar-bingar wacana hijab style yang lebih condong pada dunia fashion yang penuh pesan glamour. Peggy Melati Sukma, Oki Setiana Dewi, dan Lira Virna mulai menjadi ikon hijab syar’i di kalangan artis.

Pada puncak booming hijab style, sebuah majalah yang fokus pada kajian Muslimah menggagas satu proyek perlawanan kompromistis bertajuk Hijab Syar’i Community yang diperkenalkan melalui akun Facebook sejak Oktober 2012.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Sebuah tim didaulat untuk memperkenalkan hijab syar’i yang tetap terlihat stylish ke sekolah, kamus, atau komunitas remaja lainnya. Tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang dilakukan oleh Hijabers Community, komunitas ini juga mengadakan kajian Muslimah seputar hijab, tutorial hijab, dan beauty class.

Perbedaannya terdapat pada kata syar’i sebagai bingkai gerakan Hijab Syar’i Community. Pada setiap pertemuan dilakukan tutorial hijab syar’i yang fashionable.

Fashionable yang sejak awal menjadi prinsip hijab style dijadikan wahana kompromi oleh komunitas ini. Untuk diterima khalayak, komunitas baru ini meleburkan prinsip hijab syar’i dan hijab fashionable, dua prinsip yang sudah memiliki sistem masing-masing. Parameter pun dibuat. Hijab syar’i berdasar pada aturan Islam sedangkan hijab fashion mengaitkan diri pada perkembangan fashion dunia yang berkiblat ke negara-negara Barat.

Sebagai kompromi terhadap hijab fashion, Hijab Syar’i Community menggunakan warna-warna pakaian yang cerah. Pada bagian jilbab, beberapa helai kain berwarna mencolok dipadankan dengan cara menyerupai hijab style tetapi tetap lebar menutupi dada dan punggung. Inovasi hijab syar’i yang stylish pun lahir. Namun, hijab lebar dengan banyak belitan dan ikatan ternyata mengembalikan kesan “ribet” yang sedang diruntuhkan oleh hijab style.

Gaya hijab syar’i kompromistis ini ternyata tidak serta merta menarik pengguna hijab style yang umumnya baru berhijab.

Justru jilbaber, pengguna hijab lebar yang tertarik dan mengubah gaya jilbab konvensional mereka menjadi hijab syar’i tapi stylish ini.

Kelahiran hijab syar’i stylish ini semakin meramaikan wacana hijab di dunia Muslimah. Bertambahnya pilihan gaya berhijab, berarti bertambah pula sistem berpakaian, sehingga bertambah pula sistem nilai  yang harus dipilih oleh para Muslimah. Mereka harus memilih antara syar’i, fashionable, atau syar’i dan stylish.

Kemunculan hijab syar’i stylish ini mengakomodasi jilbaber yang ingin tampil trendi. Gaya-gaya hijab syar’i stylish pun bermunculan. Objek wacana hijab style pun semakin meluas. Produsen hijab kembali menangkap peluang komoditasnya. Hijab-hijab lebar berwarna gelap, terang, sampai berwarna mencolok muncu di pasaran.

Pelaku pasarnya tidak hanya produsen hijab yang sudah eksis tapi juga artis, aktivis Islam, dan Muslimah yang peduli terhadap penyebaran hijab. Pada saat yang sama hijab-hijab yang lengkap dengan cadar pun mulai ramai dijual di pasaran. Muslimah sebagai konsumen mendapatkan kebebasan untuk memilih hijab syar’i, stylish, atau yang berada di antaranya. Semakin jelas bahwa wacana hijab style selalu berakhir di pasar. Dunia fashion tidak akan lepas dari perkembangan kapital.

Fenomena lain yang terjadi pada wacana hijab syar’i stylish ini adalah perubahan bahan hijab. Karena perubahan bentuk pada hijab syar’i sangat terbatas, inovasi terjadi pada bahan baku. Bahan yang menyerap keringat, tebal, dan tidak membentuk lekuk tubuh menjadi favorit Muslimah pengguna hijab syar’i stylish.

Peningkatan kualitas dan variasi bahan menjadi wahana yang takmelanggar nilai-nilai hijab sebagai pakaian tertulis dalam Al Quran dan hadits. Perpaduan warna dan motif hijab yang tepat melahirkan citra elegan, anggun, mewah.

Citra-citra ini membuat nilai tukar hijab menjadi berlipat. Lahirlah hijab syar’i generasi baru yang harganya dapat mencapai Rp700.000 per set.

Di satu sisi hijab-hijab syar’i berharga tinggi ini menjadi salah satu jalan untuk perempuan kelas atas menggunakan hijab. Di sisi lain harga hijab tinggi tengah menguatkan pengaruh gaya hidup boros di kalangan Muslimah. Gaya hidup ini memperluas jangkauannya pada kalangan Muslimah yang menggunakan hijab sesuai dengan aturan syariat. Kesesuaian bentuknya dengan aturan syariat membuat Muslimah mengabaikan pengaruh lain yang sedang melandanya. Ini didukung dengan mulai banyaknya artis yang menggunakan hijab-hijab syar’i dan memamerkannya di media sosial. Pamer hijab syar’i pun merebak di akun-akun media sosial para Muslimah.* (bersambung)

Linda Langitshabrina, tertarik pada wacana hijab dan budaya populer di Indonesia. Twitter: @langitshabrina

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aurathijabjilbabMuslimah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komnas HAM Dorong Pemerintah Lindungi Pengungsi Rohingya
Tulisan selanjutnya Soal Rohingya, Pemerintah Indonesia Bisa Menjadi Pelopor

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026

Berita
2 Juli 2026 20:20
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat

Terbaru

  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
  • MUI dan BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi Dakwah
  • Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?