Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Islam Indonesia: Sebuah Ide yang Absurd

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Mei 2015 12:03 12:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Mei 2015 13:10
Bagikan
Bagikan

Oleh: Alwi Alatas

IDE ‘Islam Indonesia’ atau ‘Pribumisasi Islam’ merupakan ide yang absurd dan terindikasi ada agenda liberal di belakangnya. Sesungguhnya Islam ya Islam. Tidak ada ‘Islam Arab’, ‘Islam Indonesia’, ataupun Islam dengan embel-embel lainnya.

Dalam beragama, apa yang diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul kita kerjakan, apa yang dilarang kita tinggalkan, apa yang meragukan maka sebaiknya dijauhi. Adapun hal-hal yang mubah, termasuk dalam apa-apa yang bersifat lokal, maka tidak ada masalah untuk tetap berjalan.

Sebagaimana dakwah yang dibawa oleh Rasulullah, maka tidak ada hak bagi kita untuk mengada-adakan Islam lokal.

Dulu menyembah patung termasuk dalam tradisi masyarakat Arab, tapi hal itu dihapus oleh Islam, karena yang dibawa oleh Nabi bukan Islam Arab, tapi Islam yang berintikan tauhid.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Dulu dalam tradisinya, perempuan Arab tidak pakai jilbab, tapi kemudian mereka berbondong-bondong memakai jilbab karena mentaati perintah Allah SubhanahU Wata’ala dan Rasul-Nya. Karena yang dibawa Nabi bukan Islam Arab, tapi agama yang mengajarkan manusia untuk menutup aurat dan memahami adab dalam berpakaian.

Dulu ada empat jenis pernikahan dalam budaya Arab, sebagaimana disebutkan oleh Aisyah ra. Tiga jenis pernikahan yang ganjil kemudian dihapuskan, hanya satu tetap berjalan, dengan dilengkapi tata cara yang disyariahkan. Karena yang dibawa Nabi bukan Islam yang mempertahankan tradisi dengan segala resikonya, melainkan Islam yang menggendaki kemaslahatan manusia.

Dulu minum khamar merupakan budaya Arab, tapi kemudian dihapuskan oleh Islam, dan orang-orang menerimanya. Karena pada akhirnya Islam bukan agama tradisi, tetapi agama yang menerima tradisi yang baik dan membuang tradisi yang buruk.

Niat dan Motivasi

Jadi tidak ada Islam Arab ataupun Islam Indonesia. Islam hanya satu. Kalau manusia berbeda pandangan dalam memahami Islam, sementara ia sudah berusaha dgn sungguh-sungguh untuk mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul, maka setidaknya ia sudah berusaha. Tapi bagaimana halnya dengan orang-orang yang sejak awal sudah ingin berbeda dan ingin mencampuradukkan Islam menurut hawa nafsunya?

Amal itu tergantung niatnya. Kalau niatnya sudah ingin berbeda, bagaimana dia akan sampai pada kebenaran dan persatuan umat?

Jika yang dikritik adalah ‘Islam Arab’ (kalau saja benar asumsi ini), maka mengapa solusinya ‘Islam Indonesia’?

Lantas apa bedanya yang dikritik dengan yang mengkritik? Apa bedanya problem dengan solusi? Jika yang dikritik adalah ‘Islam Arab’ maka yang seharusnya dijadikan solusi adalah Islam yang universal.

Jelaskan pada bagian mana hal-hal yang merupakan pokok agama yang harus dipegang kuat-kuat dan mana tradisi yang bersumber dari tradisi lokal yang bersifat pilihan.

Pada akhirnya, ide ‘Islam Indonesia’ diduga kuat berangkat dari ide pluralisme yang meyakini bahwa kebenaran itu bukan satu tapi ada banyak. Karena kebenaran itu banyak, maka setiap kelompok masyarakat berhak untuk merumuskan kebenarannya sendiri, sesuai dengan yang ia kehendaki, termasuk dalam membuat embel-embel baru di dalam Islam: Islam Liberal, Islam Indonesia, Islam Nusantara, dan mungkin banyak lagi yang akan menyusul.

Gagasan ini mungkin sengaja dimunculkan untuk mengacaukan cara berfikir kaum Muslimin serta menarik mereka lebih dalam kepada ide-ide pluralisme. Ia hanya wajah baru pluralisme yang berlindung di balik tameng tradisi.

Adapun kata-kata Gus Dur, apakah kita merupakan orang Islam yang kebetulan ada di Indonesia atau orang Indonesia yang beragama Islam, maka sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan di antara keduanya.

Muslim itu bersaudara. Mereka memiliki Tuhan yang sama, Nabi yang sama, kiblat yang sama. Mereka seperti satu tubuh, baik dia orang Indonesia asli maupun bukan orang Indonesia. Wallahu a’lam.*

Alwi Alatas adalah penulis buku-buku sejarah perjuangan Islam

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Alwi Alatasindonesialiberalnusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pidato Biksu Ashin Yang Memicu Kebencian Pada Muslim Rohingya
Tulisan selanjutnya Biksu Radikal Ashin Wiratu Sebut Etnis Rohingya Anjing Gila

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Berita
28 Agustus 2026 09:48
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?