Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Hari ini Ilmu Lebih Baik daripada Amal

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Juni 2015 11:29 11:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Juni 2015 11:29
Bagikan
Ilmu merupakan motor penggerak pemikiran dan aktifitas manusia.
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

IMAM al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin  mengutip sebuah riwayat, “Sesunggunya kalian berada dalam zaman dimana fuqaha’nya (ahli ilmu) banyak dan sedikit oratornya (khutoba’). Amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu. Dan kelak manusia akan tiba pada masa di mana fuqaha’nya sedikit tetapi ahli oratornya banyak. Pada zaman itu ilmu lebih baik daripada amal.

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan Sahabat, amal lebih baik daripada ilmu bukan bermaksud kedudukan ilmu yang lebih rendah. Maksud dari itu adalah, bahwa masa tersebut merupakan era yang mulya. Sumber ilmu (Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam) masih hidup. Ketika sumber masih hidup, umat Islam dapat langsung ‘menikmati’ sumber tersebut.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam wafat, kaum Muslimin masih tidak kesulitan mencari sosok yang dapat dijadikan sandaran ilmu. Pembesar Sahabat — yang tidak lain murid langsung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam — memberi pengajaran yang baik. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyebut masa ini dengan khoirul qurun (sebaik-baik zaman).
Ketika para ahli ilmu masih banyak, kaum Muslim tidak kesulitan untuk melakukan kajian ilmu dengan benar. Sebuah amalan, tinggal mereka praktikkan. Kehidupan keislaman relatif ‘aman’. Ketika bertanya sesuaut masalah agama, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para Sahabat.

Sedangkan pada hari ini, kita hidup yang jauh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para Sahabatnya. Bahkan periode kita jauh dari para ulama salaf dan imam mujtahid. Ketika ada suatu persoalan agama kita masih bertanya dahulu kepada ulama yang memahami pemikiran imam madzhab. Itupun kita harus lebih hati-hati.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Generasi zaman ini telah mulai banyak yang tidak mengenal lagi ulama. Mereka hanya mengenal ustadz dan dai melalui media sosial dan televisi. Apalagi jika telah ada orang-orang yang menyamar sebagai ulama dengan modal ilmu yang minimalis. Bahkan, belajar agama mereka cukupkan dengan melalui media sosial dan internet.

Maka, dalam hal ini Imam Nawawi berpendapat bahwa meyibukkan dengan mencari ilmu lebih afdhal daripada sibuk beribadah sunnah, seperti shalat, puasa sunnah dan menbaca tasbih.

Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Imam Nawawi.

Pertama, manfaat ilmu lebih meluas kepada kaum Muslimin. Sedangkan ibadah sunnah manfaatnya hanya untuk perorang, yaitu orang yang melakukan ibadah sunnah tersebut.

Kedua, karena ilmu itu mengoreksi ibadah sedangkan ibadah sunnah itu membutuhkan ilmu.

Ketiga, ulama merupakan warisan Nabi.

Keempat, karena ilmu tetap kekal meskipun ahli ilmu meninggal dunia. Sedangkan ibadah sunnah terputus jika seseorang meninggal dunia (Imam Nawawi, Muqaddimah Syarah Majmu’, hal. 48).
Banyak orang berbangga dengan ibadah sunnah-nya sedangkan dia enggan mengkaji ilmu. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda: “Majelis ilmu itu lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun” (Ibnu Umar dalam Muqaddimah Syarh Majmu’,hal. 47).

Dikisahkan, dari Abdullah bin Umar bin Ash. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam keluar, tiba-tiba beliau melihat di dalam masjid ada dua majelis. Yaitu majelis yang membahas ilmu-ilmu syariat dan kedua majelis yang isinya doa kepada Allah (dzikir).

Para Sahabat kemudian bertanya tentang dua majelis tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab: ‘Kedua majelis itu mengajak kepada kebaikan. Yang satu berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan satunya mereka belajar ilmu dan mengajari orang yang bodoh. Mereka inilah yang lebih utama (dari majelis pertama), saya diutus untuk mengajar manusia. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam duduk bersama mereka (majelis ilmu) (HR. Ibnu Majah).

Imam al-Syafi’i juga berpendapat, bahwa tidak ada yang lebih afdhal setelah ibadah wajib (fardhu) kecuali mencari ilmu.

Ilmu memiliki perhatian penting dalam tradisi Islam. Ilmu merupakan motor penggerak pemikiran dan aktifitas manusia. Tinggi rendahnya martabat manusia ditentukan oleh faktor ilmu. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar.

Penulis adalah Pengurus MIUMI Jatim, Anggota Penulis Bina Qalam Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalilmuImam Al Ghazaliimam as syafi'itradisi ilmu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warna Hijab Dinilai Berhubungan Dengan Kesehatan kulit
Tulisan selanjutnya Menjadi Delegasi Keluarga Menghafal al-Qur’an Selama Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?