Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Ketahui Tujuan Penciptaan agar Spirit Ibadah Makin Meningkat

Ahmad
Terakhir diupdate: 18 November 2013 09:23 9:23 am
Ahmad
Dipublikasikan 18 November 2013 09:23
Bagikan
Ilusrtasi
Bagikan

BERTANYALAH pada diri sendiri secara jujur, mengapa spirit ibadah kita kendor atau melemah?

Boleh jadi, karena kita lupa, tujuan utama dari Allah menciptakan manusia,yakni diri kita sendiri sebagai makhluk-Nya untuk senantiasa beribadah penuh pasrah hanya kepada-Nya.

Fenomena kurang makmurnya masid di negeri mayoritas Muslim ini, kemiskinan dan kebodohan, termasuk praktik korupsi dan bencana alam yang cukup sering melanda negeri ini, sudah cukup untuk dijadikan sebagai sinyal bahwa, kaum Muslimin di negeri ini mesti kembali mengingat tujuan utama diciptakannya manusia.

Jika tidak, maka seluruh fenomena keburukan, keprihatinan dan kesusahan yang terjadi di negeri ini akan sulit diatasi. Sebab, perbaikan mustahil terjadi, manakala manusianya tidak kembali kepada hakikat penciptaannya, yakni mengabdi kepada Allah Ta’ala.

Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ و

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”  (QS. Adz-Dzaariya [51]: 56).

 Ayat tersebut secara gamblang memberikan penjelasan bahwa, hidup manusia akan berada pada kebenaran dan pasti akan berolah keberuntungan manakala memang lajur utama kehidupannya berada tegak di atas rel ibadah kepada Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, perintah beribadah kepada Allah ini diulang-ulang pada ayat yang lain. Misalnya, “Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. 21: 92). Dan, masih cukup banyak ayat lain yang senada. Ini berarti, bahwa perintah beribadah kepada Allah tidak bisa dianggap sebelah mata.

Tajamkan Ilmu

Lantas mengapa banyak di antara umat Islam yang terkesan ringan dalam menjalani ibadah kepada-Nya? Sebagian justru abai dan tampak kurang peduli.

Satu di antara sebabnya ialah karena mereka tidak bersungguh-sungguh mempertajam ilmunya, sehingga menjadi lalai dan abai. Ibadah kepada Allah memang tidak bisa dilakukan hanya dengan bekal semangat, warisan, apalagi ikut-ikutan.

Seorang Muslim akan mampu beribadah dengan sungguh-sungguh hanya apabila ada kekuatan ilmu di dalam akal dan hatinya. Itulah mengapa, perintah pertama kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad adalah perintah membaca, Iqra’.

Disamping itu, pada ayat lain, Allah menegaskan secara eksplisit bahwa beribadah kepada Allah mesti menggunakan ilmu.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad [47]: 19).

Fakhruddin Al-Razi dalam kitabnya Ajaibul Qur’an mengatakan bahwa, seorang hamba wajib mengetahui (memiliki ilmu) dzat Allah dengan setajam-tajamnya, barulah kemudian memohon ampun kehadirat-Nya. Artinya, tidak mungkin akan ada seorang Muslim memohon ampunan kepada Allah Ta’ala dengan kesungguhan dan konsistensi tinggi, manakala ia tidak mengetahui dzat Allah Ta’ala.

Untuk itu, seorang Muslim kata Imam Ghazali dalam kitab “Minhajul Abidin” mesti benar-benar memikirkan ecara serius semua petunjuk dan bukti-bukti tentang Allah. Jika tidak, maka sulit seorang Muslim akan memiliki spirit ibadah yang baik. Karena menurut Imam Ghazali ibadah itu merupakan buah dari ilmu.

“Ilmu dan ibadah itu sangat pokok. Dengan sebab keduanya terjadilah apa yang engkau baca dan engkau dengar, baik berupa tulian, pengajaran, nasihat-nasihat, maupun penelitian. Bahkan, lantaran keduanya (ilmu dan ibadah) kitab-kitab suci telah diturunkan kepada para Rasul, termasuk penciptaan langit dan bumi,” demikian tulis Imam Ghazali dalam kitab Minhajul Abdidin.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan seseorang yang tidak mengantarkan pada ketaatan dalam beribadah kepada Allah, maka ilmu yang dimilikinya hanyalah sia-sia. Ia tidak memperoleh manfaat hakiki dari ilmu yang dimilikinya.

Imam Ghazali memberikan ilutrasi yang sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa ilmu itu laksana pohon, sedangkan ibadah adalah buahnya. Pohon tanpa buah, apalah gunanya. Memang benar, kemuliaan itu memang milik pohon, karena ia menjadi asal buah. Tetapi, kita mendapat manfaat dari pohon itu dengan merasakan buahnya.

Oleh karena itu, masih dalam kitab yang sama, Imam Ghazali mengutip perkataan Hasan Al-Bashri, “Tuntutlah ilmu tanpa melalaikan ibadah. Dan, taatlah beribadah tanpa lupa menuntut ilmu.”

Terkait dengan pentingnya ketajaman ilmu ini, menarik apa yang disampaikan oleh Sayyidina Ali yang dikutip Imam Ghazali. “Aku tidak merasa senang jika aku meninggal saat masih bayi, lalu aku dimasukkan ke dalam surga hingga aku tidak sempat besar dan mengetahui akan Tuhanku. Sebab, manusia yang paling mengetahui tentang Allah itu adalah yang paling takut dan paling banyak ibadahnya, juga paling baik nasihatnya mengenai Allah.”

Ilmu yang Bermanfaat

Dari uraian di atas sangat jelas bahwa ilmu yang mesti ditajamkan adalah ilmu tentang Allah, karena itulah ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu itulah, para ulama zaman dahulu mampu menguasai banyak bidang ilmu. Pada saat yang sama mereka juga ahli ibadah yang sangat luar biasa.

Sekedar untuk mengingatkan kita, Imam Syafi’i, pakar fikih yang tidak pernah tidak menghatamkan al-Qur’an, lebih-lebih di bulan Ramadhan. Fakhruddin Al-Razi adalah pakar banyak bidang yang tidak pernah melewatkan malam untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan, Imam Bukhari, tidak menulis satu hadits, kecuali telah sholat dua rakaat.

Ini menunjukkan bahwa, ilmu yang bermanfaat ini akan mengantarkan seorang Muslim pada kesempurnaan kecerdasan, bukan saja ilmu yang bersifat saintis dan mengabaikan moral, seperti ilmuwan Barat. Tetapi ilmu saintis yang semakin mendorong spirit beribadah. Inilah yang nampaknya belum diupayakan dengan penuh kesungguhan.

Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong seorang Muslim taat dan total menjadikan kehidupannya ini sebagai ladang menuju akhirat dengan semangat ibadah hanya kepada Allah Ta’ala. Inilah ilmu yang mesti diutamakan agar spirit ibadah umat Islam tetap terjaga dan tentunya lebih menggairahkan dan menggerakkan.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Imanruhanitujuan hidup
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sekjen OKI Menangis saat Sambangi Muslim Rohingya
Tulisan selanjutnya Kampanye Toleransi, Jangan Biarkan Agama Dicaci

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?