Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Disuguhi Senam “Syahadat”, Ditemani Kaca Retak

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 25 November 2013 15:05 3:05 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 25 November 2013 15:05
Bagikan
Senam pagi di Al-Bahjah. Insert: Buya Yahya
Bagikan

“POK, pok, pok!”

Sebuah suara membuyarkan mimpi yang tengah berputar di penghujung malam. Saya terbangun sekitar pukul 02.00 WIB dinihari. Berbeda dengan malam biasanya, ruangan di sekitar terasa asing. Sekejap kemudian, baru teringat jika Selasa itu adalah hari kedua saya berada di Cirebon.

Saat itu sejumlah santri Pesantren Al-Bahjah sedang membangunkan rekan-rekannya yang sedang tidur di masjid. Cara membangunkannya cukup unik, menepuk-nepuk kedua tangan mereka masing-masing. “Qum, qum, qum, ya Akhi!” seru mereka dalam bahasa Arab, sebagai seruan untuk bangkit dari tidur.

Saya dan Ahmad, rekan reporter Kelompok Media Hidayatullah juga tidur di masjid, dalam satu ruangan berukuran sekitar 6×6 meter persegi. Sebelum tidur, pengurus pesantren menawarkan kami tempat istirahat di ruangan khusus. Namun kami lebih memilih masjid.

Sesaat kemudian, puluhan santri duduk berbaris di Masjid Omar Al-Bahjah itu, melantunkan zikir-zikir. Dari pengeras suara, lantunannya mengoyak malam hingga ke sudut kampung Blok Gudang Air, Sendang, Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Mereka lantas menunaikan shalat tahajud. Saya bergegas ke tempat berwudhu di belakang masjid.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Ketika shalat berjamaah, sebagian besar santri memakai gamis putih, dan diharuskan memakai ‘imamah –surban dililit di kepala. Jika tidak akan di-ta’zir, atau dihukum, berupa berdiri usai shalat.

Dalam pengamatan saya, santri yang shalat berjamaah di masjid pesantren itu tampaknya tidak semua. Dari ratusan santrinya, mungkin hanya setengah yang tampak di masjid. Selebihnya, termasuk santri putri, shalat di tempat lain yang dikhususkan.

Ketika Santri Senam

Usai Shubuh, belasan santri putra melakukan senam pagi di halaman samping masjid tanpa mengganti pakaian shalat. Dari pengeras suara masjid, diputar irama pengiring senam. Bukan musik, tapi lantunan lafadz “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Penggalan-penggalan suku kata tertentu dalam lafadz ini dijadikan irama tiap gerakan senam.

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdliyin. Namun Sekretaris Yayasan Al-Bahjah, Ustadz  Arif menyebut pesantren tersebut bukan milik ormas Nahdlatul Ulama (NU). “Tapi secara kultural, kita Nahdliyin,” ujarnya saat menerima kami di kantornya Senin malam.

Menyambung silaturahim semalam di Masjid At-Taqwa, pagi itu, Selasa, 8 Muharram 1435 H (12/11/2013) kami diantar seorang santri menuju sebuah bangunan sederhana. Di area khusus putri ini, kami kembali bertemu dengan Yahya Zainul Maarif, Pendiri Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon. Tidak seperti biasa, Buya Yahya, panggilannya, tampil tanpa ‘imamah.

Sebenarnya Buya akan berangkat ke Bogor saat itu, mengisi jadwal ceramah rutinnya. Tapi dia meluangkan waktu menerima kunjungan kami sebelum berangkat ke Bogor naik kereta dari Stasiun Cirebon.

Setelah keberangkatan Buya pagi itu, kami berkeliling pesantren melihat-lihat kawasan perkebunan dan kolam ikan. Di bagian belakang kampus, terdapat kawasan khusus penghafal al-Qur’an. Santrinya anak-anak seusia SD, sebagian terlihat menggemaskan dengan ‘imamah-nya.

Saya juga mendatangi dapur umum pesantren, seluas sekitar 4×10 meter. Petugas dapurnya para Santri Khos yang seharian menangani konsumsi santri. Mereka baru masuk ruang belajar pada malamnya. “Belajar biasanya mulai ba’da (setelah) Maghrib hingga pukul 11.00 WIB malam,” ujar Fahrullah, Santri Khos asal Malaysia yang saya temui di sela-sela mengupas bawang.

Sementara Santri Khos putri bagian dapur, tugas mereka menyediakan konsumsi bagi para tamu. Selama beberapa kali disuguhi makanan, ada lauk yang langka saya dapatkan. Yaitu tahu dicampur telor, entah direbus atau dikukus. Rasanya mirip Siomay, penganan khas Bandung.

Es Legen

Sekitar pukul 08.25 WIB, kami pun meninggalkan Pesantren Al-Bahjah. Sambil menunggu angkot di Jalan Pangeran Cakra Buana, saya membeli dua botol kecil minuman Es Legen, harganya Rp 3 ribu perbotol. Es Legen disarikan dari buah Siwalan. Saya pikir rasanya manis, mirip minuman sari buah Aren yang dulu sering saya minum di kampung, Gunung Tembak, Balikpapan.

Tapi Es Legen terasa beda, rasanya asin-asin kecut, baunya pun menyengat. Saat mencicipinya, saya hampir muntah. Rencana membawanya pulang sebagai oleh-oleh pun gagal.

Tempat lain yang kami kunjungi adalah Yayasan Manarussalam Hidayatullah Cirebon. Terletak di Jalan Sekarkemuning Evakuasi, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, luas pesantren ini lebih kecil dari Al-Bahjah. Bedanya lagi, kampus ini menyatu dengan lingkungan masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang  dijaga di sini adalah shalat berjamaah. Kami sempat ikut shalat Zhuhur bersama para santri, termasuk pimpinan pesantrennya, Ustadz Suharno, dalam satu ruangan shalat.

Di antara motivasi spiritual yang dijalankan pesantren ini tertuang dalam Piagam Gunung Tembak, yang tertempel di gedung sekolahnya.

“Bahwa setiap kader Hidayatullah wajib menjalankan shalat berjamaah di masjid….” bunyi potongan salah satu poin dalam piagam yang dicetuskan pada acara Silaturahim Nasional Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur akhir Juni 2013 itu.

Setelah hampir dua hari, tiba saatnya kembali ke Jakarta. Siang harinya sekitar pukul 13.56 WIB, kami diantar ke Stasiun Cirebon dengan angkot D10 yang dicarter pengurus Manarussalam.

Yang Sama Yang Beda

Cerita lainnya dalam perjalanan ini, ada persamaan dan perbedaan antara pergi dan pulangnya. Kami berangkat dari Jakarta menuju Cirebon pada Senin, 11 November 2013 (sekaligus ralat; bukan 4 November 2013 seperti yang ditulis pada kisah pertama). Saat itu saya dan Ahmad naik kereta Cirebon Ekspres Eksekutif, duduk di Gerbong 2 kursi 13 C-D.

Pulangnya pun kami naik kereta Cirebon Ekspres Eksekutif, dengan nomor gerbong dan kursi yang sama. Tarifnya juga sama, Rp 120 ribu perpenumpang.

Bedanya, saat pergi kami naik kereta nomor 54, pulangnya naik kereta nomor 53. Bedanya lagi, saat dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat menuju Stasiun Cirebon, petugas pemeriksa tiket dikawal seorang polisi berseragam. Aparat tersebut tanpa senjata, sarung pistolnya tampak kosong.

Sementara saat pulang, Selasa itu -kereta berangkat pukul 15.15 WIB-, petugas pemeriksa tiket dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) dikawal seorang polisi bersenjata laras panjang.

Pengawalan ini rupanya menarik perhatian seorang penumpang di dekat kami. Pria 40-an tahun itu komplain kepada pihak KAI, dia merasa kurang nyaman atas kehadiran polisi tersebut. Yang dikomplain menanggapi datar. Usai petugas berlalu, penumpang tadi curhat kepada kami berdua.

“Mas rakyat biasa kan? Sebenarnya nggak perlu (polisi) bawa senjata digendong-gendong gitu. Kesannya sedang nggak aman, bikin takut. Saya sih nggak takut, cuma kalau ada wisatawan melihat, ntar bilang, ‘Kok begini?’. Saya sudah tegor dua kali tuh,” sungut pria berambut tipis itu bersemangat.

Kami senyum-senyum saja menanggapinya. Dilematis juga. Di satu sisi petugas tentu ingin memberi rasa aman dan nyaman. Di satu sisi, ada saja penumpang yang merasa kurang nyaman dengan kehadiran aparat bersenjata.

Dalam perjalanan menuju Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur itu, saya justru mengkhawatirkan hal lain. Sama seperti perjalanan pergi, yang membuat perjalanan pulang ini terganggu juga karena jendela di samping saya. Kacanya retak hampir menyeluruh, dengan lubang di tengahnya.

Bisa ditebak, kereta ini “langganan” pelemparan orang iseng. Faktanya banyak jendela lain dalam gerbong itu yang kacanya hampir pecah. Saya raba pelan-pelan lubang retakan di samping saya, kacanya bergoyang. Jika dilempar sekali lagi, dipastikan kaca ini pecah. Teringat remaja yang melempar kereta kami sehari sebelumnya. Semoga itu yang terakhir.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya YahyaCirebon Kota WaliPerjalan LiputanPesantren Al-Bahjah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dari Anak Kiai Hingga Anak Pejabat Jadi Korban Pemurtadan Berkedok Pernikahan
Tulisan selanjutnya Resmi Dilantik, MIUMI Bekasi Dihadapkan Tugas Keummatan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?