Hidayatullah.com–Buah daripada ilmu adalah amal dan dakwah. Olehnya setiap waktu yang berlalu hendaknya diisi dengan semangat menuntut ilmu dan menyebarkannya.
Hal itu disampaikan oleh Syeikh Alaa al-Mubaraki di sela Multaqa ad-Duwaliy al-Ilmi li Ulama wa Du’at Janub Syarq Asia (Pertemuan Ilmiah Internasional Ulama di daerah Lembang Bandung Jawa Barat.
Abdullah mengingatkan tentang keutamaan menuntut ilmu dan dakwah bagi seorang dai.
“Adakah waktu yang lebih indah dan berharga selain menghabiskan waktu dalam urusan kebaikan ini?” Ungkap al-Mubaraki sambil mengutip beberapa bait syair Arab.
Menurut al-Mubaraki, ada pelajaran berharga dalam kisah perjalanan Nabi Musa bersama Khidir dalam surah al-Kahfi. Ketika Allah mengulang hingga tiga kali kata “fantalaqa” (maka keduanya bergerak) dalam kisah tersebut.
Pemilihan redaksi kata itu, lanjut al-Mubaraki, menunjukkan hikmah bahwa proses berilmu dan berdakwah membutuhkan mujahadah yang maksimal. Dakwah tidak bisa dicapai hanya dengan berpangku tangan dan bermalas-malasan saja. “Jangan ada yang merasa sudah berdakwah sedang ia sendiri enggan menghadapi tantangan dakwah.” Seru al-Mubaraki menyemangati.
Acara pertemuan dai terselenggara atas kerjasama Rabithah Ulama wa Du’at Janub Syarq Asia (Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara) dengan al-Ha`iah al-Islamiyah al-Alamiyah li at-Ta’lim, sebuah Lembaga Pendidikan Islam Internasional yang berada di bawah naungan Rabithah al-Alam al-Islamiy.
Sebanyak 230 peserta meramaikan kegiatan tersebut, di antaranya peserta berasal dari Thailand, Philipina, Vietnam, Kamboja, Timor Leste, serta utusan dari China.
Dalam kegiatan yang diadakan di Hotel Puteri Gunung, Lembang Bandung, Jawa Barat, al-Mubaraki mengingatkan tantangan dakwah yang kian kompleks saat ini.
Mulai dari persoalan internal berupa kebodohan sebagian umat Islam terhadap agama, adanya perpecahan umat, hingga kepada upaya musuh-musuh Islam yang tak henti meniupkan api kebencian mereka.
“Umat Islam harus segera sadar atas ancaman Syiah dan Yahudi,” ucap al-Mubaraki.
“Belum lagi maraknya aliran-aliran menyimpang lainnya,” imbuh al-Mubaraki.
Selanjutnya, al-Mubaraki menitip harapan agar para dai dan ulama berperan maksimal dalam mengeratkan persatuan umat Islam.
Menurutnya, umat Islam harus bercermin dari perjalanan dakwah dan menuntut ilmu Nabi Musa kepada Khidir. Meski terdapat sejumlah perbedaan di antara keduanya, hal itu tak menghalangi Musa untuk tetap berguru dan mengambil manfaat dari Khidir, sebagaimana Khidir tak merasa terganggu untuk tetap mendakwahi dan mengajari Musa ketika itu.
“Seribu kawan itu masih sedikit sedang satu musuh itu sudah terlalu banyak dalam urusan dakwah ini,” tutup al-Mubaraki.*/Masykur Abu Jaulah