Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

“Antara Hidup dan Mati” 1848 dan 2015

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Agustus 2015 12:41 12:41 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Agustus 2015 12:41
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mochamad Fauzie

“ANTARA Hidup dan Mati” adalah lukisan Raden Saleh untuk mengatakan secara simbolik tentang apa yang sejatinya terjadi dalam Revolusi 1848 di Paris, saat mana lukisan dibuat.

Lukisan tersebut menggambarkan dua ekor singa sedang mengeroyok satu ekor kerbau. Tidak lain dimaksudkan sebagai Kaum Penguasa dan Kaum Borjuis yang bahu-membahu mengeroyok Kaum Miskin atau Kaum Pekerja (hasil semiosis Mochamad Fauzie dalam tesis “Resistensi Raden Saleh terhadap Kolonialisme dan Romantisisme dalam Seni Lukis”, Jakarta, 2014).

Diletakkan dalam konteks situasi di Jawa dalam tahun 1848, lukisan tersebut mengekspresikan “bayang-bayang” pelukisnya, ialah bentuk ketaksadaran dalam teori psikoanalisis Carl Gustave Jung, yang mengangankan pemberontakan bumiputera (kerbau) terhadap kolonialis (singa, hewan buas dari daratan asing).

Dikatakan ‘mengangankan’, sebab pada faktanya Jawa sedang mengalami ‘tidur panjang’. Perlawanan di Jawa sedang dalam anti-klimaks sejak berakhirnya Perang Diponegoro pada 1830 sampai dengan 80 tahun kemudian yang kelak ditandai oleh kiprah HOS Tjokroaminoto dkk.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Sebaliknya, sejak 1830 kekuasaan kolonialis Belanda menjadi lebih terorganisisir dan semakin kuat, ditandai dengan pemberlakuan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang membuat Belanda kaya-raya.

Jika ditafsirkan dengan semiotika poststrukturalis di mana makna selalu tertunda mengikuti penyematan konteks, tidakkah beralasan untuk meletakkan lukisan ini dalam konteks nasib Indonesia hari ini? Dan kerbau di dalam lukisan lukisan Raden Saleh bukanlah sembarang kerbau, melainkan jenis kerbau Afrika yang terkenal ganas. Telah menjadi pengetahuan populer, bahwa angka pemburu di Afrika yang terbunuh oleh kerbau jauh lebih tinggi tenimbang yang tewas oleh binatang buas lainnya. Tambahan lagi, kerbau dapat mengalahkan singa bukanlah angan-angan atau isapan jempol, seperti dapat disaksikan dalam foto-foto Oliver Matheson yang dimuat dailymail.co.uk Desember 2013 yang lampau, atau lihat di sini: http://foto.tempo.co/read/beritafoto/12194/Perkelahian-Kerbau-dengan-Singa/1.

Hidup dan mati 2

 

Sampai di sini saja, tampaknya talenta seni dan kecendekiaan Raden Saleh sukar untuk diingkari. Di antara karya-karyanya seperti mengandung pesan ke masa depan, sebab intelektualitas dan kesadarannya melampaui pencapaian bumiputera sejamannya. Tentang Raden Saleh, silakan baca juga: https://hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2013/12/09/7673/raden-saleh-penghianat-atau-pahlawan.html .

Penulis adalah peneliti Raden Saleh dan karyanya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ini Desakan MUI Kepada Pemerintah Terkait Tragedi Tolikara
Tulisan selanjutnya Ayo Cerdas dengan Memanfaatkan Waktu Sesuai Syariat Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026

Berita
2 Juli 2026 20:20
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

Terbaru

  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
  • MUI dan BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi Dakwah
  • Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?