Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Surat dari Madaya: “Kenapa Tidak Ada Seorang pun yang Peduli?” [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Februari 2016 21:15 9:15 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Februari 2016 20:48
Bagikan
Pada titik ini penderitaan yang sebenarnya penduduk Madaya dimulai.
Bagikan

SEORANG penduduk kota Madaya, Suriah, menceritakan kehidupan di jurang kelaparan. Amar, seorang sarjana hukum yang berasal dari  kota Madaya, menceritakan kisahnya pada Samya Kullab, Al Jazeera, Senin (01/02/2016).

01 Februari 2016

“Saya lahir di Madaya. Saya hidup di lingkungan sederhana yang indah, dimana semua orang saling mengenal dan saling menyukai. Daerah tempat tinggal kami merupakan tempat pertama yang orang-orang lalui jika ingin menuju pusat kota Madaya.

Selama pengepungan, apa yang kami alami sama seperti apa yang dialami keluarga lain di Madaya. Kami berada dalam perjuangan terus-menerus untuk bertahan hidup. Banyak dari kami yang menghabiskan dua atau tiga hari tanpa makanan. Saya seorang pria dewasa, tetapi saya hanya berbobot kurang dari 50 kg. Kadang-kadang rasanya seolah-olah saya hidup dalam mimpi.

Saya telah melihat anak kecil sekarat karena kelaparan dan merasa tidak berdaya. Saya telah menyaksikan dunia di sekitarku hancur. Orang Madaya tidak memiliki susu, roti ataupun uang. Dan Madaya semakin dingin.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Sebelum PBB masuk ke Madaya beberapa hari yang lalu, satu kilogram gula berharga $300. Saya takut bantuan tidak akan cukup bagi kami bahkan untuk 20 hari. Dan setelah itu apa?

Tetapi biarkan saya memulainya dari 2011, permulaan dari revolusi Suriah. Pada saat itu, saya masih menjadi mahasiswa hukum di Universitas Damaskus. Saya bermimpi untuk mendapat karir yang bagus dan membuat keluargaku bangga.

Pada awalnya, revolusi dimulai dengan serangkaian unjuk rasa: orang-orang meminta kemerdekaan mereka. Beberapa teman dekatku, yang merupakan rekan sesama mahasiswa dan satu universitas ikut serta. Mereka berkorban dengan jujur.

Tapi kemudian rezim yang mengambil alih revolusi, mengubah unjuk rasa damai menjadi pertempuran bersenjata dengan menembak dan membunuh orang yang tidak bersalah.

Beberapa orang di Madaya merasa terpaksa mengangkat senjata dan membela diri mereka. Mereka pikir mereka sedang melindungi kehormatan mereka. Tetapi sekitar bulan November 2014, rezim mulai mengubah siasat mereka; mereka menerapkan kebijakan kelaparan dengan mengepung kota kami dan melancarkan serangan udara dengan bom barel mematikan. Saya melihat seluruh keluarga mati dalam serangan itu.

Selama masa itu, harga makanan mulai meningkat. Karena wilayah kami terletak di dekat perbatasan Lebanon-Suriah, Hizbullah juga bekerja sama dengan rezim Bashar al Assad untuk mengepung kami dari semua sisi, dengan rencana masuk ke kota. Pertempuran dimulai pada awal Juni 2015 di Zabadani, yang merupakan kota sebelah Madaya.

Saat itu, penduduk Zabadani mulai mundur ke Madaya untuk menghindari bombardir dan pertempuran. Madaya telah menderita karena kelangkaan suplai makanan, tapi dengan masuknya penduduk Zabadani, populasi kami tumbuh secara dramatis, sementara suplai kami terus menyusut.

Beberapa bulan kemudian, (Free Syrian Army) menyetujui genjatan senjata dengan pihak rezim dan Hizbullah (milisi Syiah. Red). Penduduk sipil diharuskan membayar sejumlah besar uang agar bisa keluar dari kota.

Saya melihat seorang pria mengais tumpukan sampah untuk mencari secuil makanan. Saya melihatnya lebih dekat dan mengenali dia sebagai tetanggaku Toufic, seorang apoteker.

Tetanggaku yang lain, seorang pria tua, membayar sekitar $3.000 agar dapat keluar dari kota dengan aman. Tetapi kebanyakan dari kami tidak mempunyai uang sebesar itu. Di bulan-bulan berikutnya, rezim memperkuat pengepungan mereka di sekitar kota. Minggu ke minggu, kami menyaksikan persediaan kami semakin habis. Pada titik ini penderitaan yang sebenarnya penduduk Madaya dimulai.*/Nashirul Haq AR (BERSAMBUNG)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bashar al assadMadayapengepungansuriahSuriah Terkini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Innalillah… Dua Ketua MUI Sorong dan Kalsel Meninggal Dunia
Tulisan selanjutnya Jumlah Muslim Inggris Melebihi 3 Juta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?