Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Bisnis Startup Bahasa Arab Bantu Pengungsi Suriah Mandiri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Februari 2016 07:00 7:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Februari 2016 07:00
Bagikan
In this Thursday, Jan. 21, 2016 photo, a Syrian refugee boy holds up a placard in Arabic, during class at a remedial education center run by Relief International in the Zaatari Refugee Camp, near Mafraq, Jordan. UNICEF, the U.N. agency for children, estimates that more than half the refugee children in the region, or more than 700,000, are not in school. Some drop out to work and help struggling families, or because they missed too much school and can't catch up. Others are told there's no room in crowded local schools. Writing on sign in Arabic reads: Giraffe. (AP Photo/Raad Adayleh)
Bagikan

Hidayatullah.com– Sebuah bisnis startup baru di AS bernama ‘NaTakallam ’ yang berarti “kita bicara” dalam Bahasa Arab ini yang bertujuan untuk membantu kesulitan para  pengungsi Suriah menjadi mandiri dengan menjual kemampuan bahasa Arab mereka, kini semakin populer, ungkap founder NaTakallam  seperti dikutip oleh AlArabiya.net, Jumat (19/02/2016)

Situs NaTakallam  memungkinkan semua orang dari seluruh dunia untuk berlatih bahasa Arab dan terhubung dengan pengungsi Suriah – yang mana mereka berada di negara-negara yang memegang kebijakan tertentu sehingga mereka sulit bekerja secara legal.

“Anda tidak hanya belajar dialek Suriah, tapi juga mendengar cerita dari partner bicara Anda, dan Anda juga membangun persahabatan- Anda mendapatkan cerita langsung dari mana mereka berasal,” Aline Sara, pendiri NaTakallam , mengatakan kepada Al Arabiya English.

Tiga pendiri NaTakallam , yang lulus dari Columbia University di New York dan memiliki akar Timur Tengah, mengatakan bahwa sejauh ini mereka telah mendaftar sekitar 25 mitra percakapan asal Suriah, dan berharap mendapatkan dana untuk perkembangan ke depan.

Selain membantu pengungsi untuk bertahan hidup dengan menghasilkan uang –yang mana biaya setiap satu jam percakapan dikenai 15$ – platform ini juga memberikan partisipan rasa sosial untuk berbagi kepada sesama.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Anda dapat memberi mereka [pengungsi] uang, makanan dan tempat tinggal tapi itu hanya akan habis begitu saja- padahal penting juga menyediakan mereka sesuatu yang bisa dikerjakan dan alasan untuk menjadi orang yang memberi manfaat,” tambahnya.

Rasha Jamal Ishak, yang sedang belajar sastra Inggris di Suriah sebelum melarikan diri ke kota Lebanon utara Tripoli ketika perang sipil pecah, sekarang bekerja sebagai salah satu dari ‘mitra percakapan’ di platform tersebut.

Ia mendaftar di NaTakallam  setelah mendengar dari temannya. Hal itu dia lakukan untuk mendapatkan keuntungan baginya baik secara finansial maupun mental.

“Mencari pekerjaan sebagai seorang pengunsi amat sulit, setiap kali kami melihat dan mencari pekerjaan, kami tidak menemukan apa-apa, dan mereka memandang rendah kepada kami sebagai orang yang tidak punya kualifikasi dan standar rendah.”

Sejak awal perang sipil Suriah pada 2011, sekitar 6,5 juta warga Suriah mengungsi dari negara tersebut, sementara 5 juta lainnya mencari suaka di negara-negara tetangga seperti Turki, Lebanon dan Yordania.

Sara juga menambahkan, para pengungsi tidak hanya melihat negara mereka hancur berkeping-keping, karena mungkin masih ada keluarga mereka yang terjebak di sana. Mereka terluka karena apa yang mereka lihat, alami, dan juga kehilangan orang yang mereka sayangi,

“Bahkan orang lain rata-rata, merasa terjebak karena tidak ada yag bisa dikerjakan dengan sejumlah kemampuan Anda itu saja rasanya sulit sekali, yag mana saya juga yakin siapapun yang pernah memburu pekerjaan juga bisa merasakannya,” timpalnya.

Dialog umum yang terjadi antara kedua belah pihak biasanya seputar seni, sastra hingga kehidupan sehari-hari.

“Ada komponen antarbudaya yang signifikan untuk ‘NaTakallam ‘ yang benar-benar membawa Anda kepada mereka secara langsung, tak terkekang oleh campur tangan luar yang merupakan masalah besar hari ini,” katanya kepada AlArabiya.

Menurut Sara, orang Suriah sangat antusias menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bukan ‘Dais’ (ISIS) atau pengungsi tak berdaya, seperti yang sering ditampilkan oleh media mengenai gambaran para pengungsi.

Rasha, mengatakan bahwa platform ini “memberi saya arti penting sebagai seorang yang berpendidikan yang bekerja keras dan pada akhirnya saya bisa menggunakan pendidikan saya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

Ikatan antara tutor dan murid pada umumnya terjalin hangat, karena struktur platform longgar dan suasana yanng informal.

“Sekarang saya memiliki banyak teman dari seluruh dunia,” katanya.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bahasa ArabnaTakallam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Usulkan RUU Anti-Penyimpangan Perilaku Seksual
Tulisan selanjutnya “Jilbab Halal”: Menebar Bujuk Rayu dan Rasa Takut [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?