Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Tafakur dan Kemanfaatan Hidup

Ahmad
Terakhir diupdate: 26 Maret 2016 07:29 7:29 am
Ahmad
Dipublikasikan 26 Maret 2016 10:00
Bagikan
Bagikan

“Lawanlah nafsu bicara dengan menutup mulut. Hadapilah persoalan pelik dengan tafakur,” demikian ungkap Imam Syafi’I yang dikutip Imam Ghazali dalam kitabnya al-Munqidz min al-Dholal.

 Jika seseorang merasa hidupnya tak ada harapan, sebaiknya dia bersegera untuk bertafakur, terutama tentang akhirat. Hal ini menurut Imam Ghazali akan memudahkan hati untuk insaf, semakin teguh keyakinan bahwa akhirat lebih utama dan kekal, serta muncul harapan besar bahwa Allah pasti menolong.

Beberapa pekan lalu, saya sempat bersua seorang pengusaha di daerah Yogyakarta. Awalnya ia merasa percaya diri dengan kemampuan marketing dan manajemen bisnisnya. Tetapi, setelah diterapkan, semua perencanaan yang secara manajemen modern telah memadai itu, tidak bersahabat dengan kenyataan. Gagal-lah dia.

Tentu hatinya sangat terpukul, mendapati kenyataan seperti itu. Tetapi, ia tidak marah, kecewa dan murka. Ia terus bertafakur, berpikir usaha apa yang tepat. Tidak berhenti disitu, ia juga bertafakur apa yang kurang ya dalam pandangan Allah. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya ia temukan, yakni tidak mendekat kepada Allah Ta’ala.

Akhirnya, ia bersedekah, bantu anak-anak yatim dan peduli terhadap tetangga yang berkebutuhan serta tidak lupa sholat Dhuha setiap hari. Apa yang terjadi, kini sang pengusaha berkseimpulan bahwa mentaati Allah adalah kunci sukes dari bisnis yang dibangunnya.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Tidak lagi dia berpendapat bahwa bisnis yang bagus adalah dengan menyediakan gadis-gadis cantik dengan rambut yang dicat dan diurai disetai pakaian tidak patut sebagai cara menarik perhatian calon pembeli.

Idealnya seorang Muslim, menurut Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin membiasakan diri bertafakur dengan model sebagai berikut.

Pertama, apakah sesuatu yang saya akan lakukan diridhoi Allah atau tidak?

Kedua, jika ternyata suatu jalan itu tidak disukai Allah, bagaimana cara kita menjauh dan terhindar darinya?

Oleh karena itu, insan beriman mesti selektif terhadap dirinya agar terlepas dari segala hal yang tidak mengundang keridhoan-Nya.

Sayidah Aisyah adalah sosok yang patut kita teladani. Istri Rasulullah itu amat ketat dalam menjaga dirinya, bahkan terhadap larangan-larangan yang dianggap kebanyakan manusia sepele, soal mainan.

Diriwayatkan, Aisyah radhiyallahu anha pernah mendengar bahwa keluarganya memiliki permainan dadu di rumahnya. Aisyah langsung berkirim surat kepada mereka dan berkata, “Jika kalian tidak membuangnya keluar, maka aku akan mengeluarkan kalian dari rumahku.” (HR. Bukhari).

Seolah tidak mau kehilangan waktu, bermain-main di dalam rumah pun Sayyidah Aisyah menolak. Dan, kalau kita pelajari ulama terdahulu, memang mereka sangat selektif dalam memanfaatkan waktu, utamanya untuk ibadah dan tafakur.

Kemudian kita bisa belajar dari kisah Imam Syafi’i. Ulama kelahiran Gaza itu mampu tidak tidur semalam suntuk dalam tafakur dan berhasil memecahkan 70 masalah fiqih; dan sepanjang itu, Imam Syafi’i tidak batal hingga melaksanakan sholat Shubuh dengan wudhu’ sholat Isya’.

Dalam soal ucapan misalnya, kebanyakan orang bermain-main dengan banyak bercanda. Baik melalui lisan maupun tulisan via group-group di aplikasi chatting smart phone. Fudhail bin Iyadh biasa menghitung apa yang diucapkannya dari minggu ke minggu. Mengapa bisa? Boleh jadi karena terinspirasi dengan kebiasaan Nabi Isa Alayhissalam, yang disebutkan, “Bicaranya adalah dzikir dan diamnya adalah berpikir.”

Dalam Ihya’ Ulumuddin Imam Ghazali juga memberikan kita panduan, bahwa seorang Muslim patut berpikir kemudian mengevaluasi pada setiap aktivitas anggota tubuhnya. Terhadap lisan misalnya, “Sesungguhnya lisan itu menghadap kepada mengumpat, berdusta, menyucikan diri, menertawakan orang lain, berbantah-bantahan, berenda-gurau  dan terjun pada apa yang tidak penting dan lain-lainnya dari yang disukai.”

Buya Hamka dalam bukunya Pribadi Hebat menegaskan bahwa “Lidah mewakili kebatinan kita.” Oleh karena itu kendalikan lidah dengan tafakur. Al-Jahiz berkata, “Sebaik-baik perkataan adalah sedikit, tetapi bermanfaat daripada banyak bicara, tetapi kosong.”

Pada akhirnya, tafakur memang benar-benar kita butuhkan untuk selamat dunia-akhirat. Ibn al-Jauzi dalam bukunya Shaid al-Khatir menuliskan, “Orang yang memikirkan akhir kehidupan pasti akan menaruh kewaspadaan, dan orang yang meyakini lamanya perjalanan tentu akan melakukan persiapan.”

Ada ungkapan penting yang amat patut kita renungkan, bahwa “Tidak ada tafakur yang lebih berfaedah daripada membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya dan menyalami artinya.” Dan, kita bisa lihat bagaimana antusiasme ulama terdahulu dalam membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.

Kemudian, sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban menyebutkan, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.”

Ini karena berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun.

Abu Darda’ seorang sahabat yang terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia menjawab, “tafakur.”

Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan. Dengan tafakur, kita bisa melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita, mengetahui tipu daya setan, serta kelengahan dan kelalaian diri yang merasa benar dalam ketidakbermanfaatan sepanjang hari seumur hidup. Oleh karena itu, mari bertafakur. Jika sulit memulainya, awalilah dengan terbiasa membaca Al-Qur’an yang disertai keinginan kuat memahami makna dan maksudnya. Insya Allah ada pertolongan-Nya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:lalaiNafsutafakurtipu daya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sejuk Ukhuwah Islam di Sudan [2]
Tulisan selanjutnya KH Hasyim Muzadi: HAM di Indonesia Belum Dipancasilakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?