Sambungan dari kisah pertama
PADA malam berikutnya, para tamu itu kembali disambut sejuk oleh para calon ulama tersebut. Kali ini lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika.
Sebidang halaman berumput diterangi lampu-lampu jalan di kompleks universitas itu, menjadi saksi silaturahim para tamu dengan sekitar 50 mahasiswa. Zaim Hasbullah, pembawa acara yang terampil dan humoris menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah atas kehadiran rombongan dari Indonesia.
Sesuai rencana, Zaim meminta satu per satu tamu yang hadir menyampaikan pemaparan sesuai bidang yang ditekuni, masing-masing 15-20 menit.
Ketua DPP Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq memaparkan materi “Kepemimpinan dalam Islam”. Ia mengutip ulama yang banyak menulis tentang kepemimpinan, politik, negara dan kekhalifahan, Abu Hasan Ali bin Habib Al-Mawardi Al-Bashri alias Al-Mawardi, yang hidup antara tahun 364 sampai 450 H.
Dalam karyanya, Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, ulama itu menulis bahwa kepemimpinan dan negara bertugas utama menjaga agama dan kehidupan beragama seluruh rakyatnya. Jadi kepemimpinan sangat berkait dengan urusan iman.
“Pemikiran yang memisahkan Islam dengan kepemimpinan atau negara adalah pemikiran yang menyesatkan,” demikian ditegaskan oleh Nashirul.
“Para ulama telah mengatakan, kepemimpinan dalam Islam ditegakkan dalam rangka melanjutkan risalah kenabian,” ujarnya dikutip hidayatullah.or.id.
Ada beberapa tugas utama kepemimpinan dalam Islam yang disampaikannya. Di antaranya, pertama, memastikan rakyat senantiasa dalam kebenaran dan memastikan syariat Islam jalan. Kedua, kepemimpinan mengantarkan masyarakat menjadi makmur, sejahtera, dan damai sentosa.
Kemudian, kepemimpinan mengantar masyarakat untuk menjalankan kewajiban terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Intinya, menurut kesimpulannya, fungsi kepemimpinan berpengaruh pada kehidupan manusia dunia dan akhirat.
Pesan-pesan Hangat
Seperti malam sebelumnya di PPI, pada acara kali ini pematerinya juga Babeh Dzikrullah, Asih Subagyo, dan Ustadz Wahyu Rahman.
Dzikrullah menyampaikan, dari berbagai pengalaman dan pemahamannya selama menjadi wartawan, ia menarik satu kesimpulan.
“Media massa yang paling kuat dan paling berpengaruh di dunia ini hanya satu, Al-Qur’anul Karim,” kata pria yang pernah mengemban amanah sebagai pemimpin redaksi majalah Suara Hidayatullah ini, sembari mengajak para mahasiswa untuk bersemangat, bangga dan percaya diri bila sudah menjadi wartawan-wartawan Al-Qur’an.
“Karena tidak ada berita yang lebih layak diberitakan kepada manusia melebihi Al-Qur’an,” tegasnya.
Asih Subagyo memaparkan materi kewirausahaan. Menurutnya, dengan berbagai tantangan yang ada di Sudan, jika para mahasiswa berhasil berbisnis di sini, “Insya Allah kalian akan berhasil pula berbisnis di Indonesia,” katanya semangat.
Pembicara terakhir, Wahyu Rahman memaparkan soal kader dai dan gerakan dakwah. Ia mengingatkan seluruh mahasiswa yang hadir, sehebat apapun ilmu dan keterampilan seorang kader dakwah, tidak akan menjadi kekuatan yang berarti bila bekerja sendirian.
“Hiduplah dan bekerjalah secara berjamaah. Semua jamaah yang menegakkan Tauhid, Syariat Islam dan kepemimpinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, silakan bergabung dan kuatkan barisannya. Nanti Allah yang akan mempersatukannya selama kita sama-sama ikhlas mencari ridha Allah. Tapi kalau yang dicari cuma dunia, tidak akan bersatu itu!,” katanya.
Tak terasa, penyampaian keempat pembicara itu mengantarkan waktu mendekati tengah malam. Usai sesi tanya jawab, acara ditutup dengan ramah tamah.
Hidangan nasi bungkus, buah-buahan, dan minuman segar pun disantap bersama-sama. Sambil lesehan di atas terpal, terjalin keakraban antara rombongan DPP Hidayatullah dengan para mahasiswa.
Sementara mereka yang belum puas dengan materi “muhadharah”, tampak menanyakan berbagai hal kepada para tamu sesuai bidang yang diminatinya.
Malam yang hangat itu pun berlalu dalam dekapan ukhuwah. Semoga suasana demikian selalu terjaga dan Allah kekalkan dalam Islam.*