Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sultan Salim I Penyelamat Daulah Utsmaniyah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 April 2016 10:15 10:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 April 2016 10:15
Bagikan
ilustrasi: Pasukan Sultan Salim I
Bagikan

Oleh: Zainal Mutaqin

 

KAGUM dan rindu,  itulah perasaan yang saya ketika membaca sekilas sembilan  tahun kepemimpinan seorang Sultan Salim I, cucu penakluk Konstatinopel Muhammad Al-Fatih yang menghabiskan waktunya di atas kuda mengembalikan Negara-Negara Islam yang direbut Pasukan Salib dan dari pasukan Syiah Safawiyah dikala kepemimpinan bapaknya Sultan Bayazid  sedang lemah.

Baca: Dinasti Safawi dan Konversi Syiah di Iran (1)

Keadaan genting ini diperparah oleh kerjasama Daulah Safawiyah yang berhaluan Syiah yang dipimpin Ismail as Safawi  dengan kerajaan Kristen dan  Alfonso de Albuquerque pemimpin pasukan laut Portugal    untuk menghilangkan  Daulah Utsmaniyah dari peta dunia setelah jatuhnya Islam di Andalusia  dan rencana jahat mereka untuk menggali makam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Tahun 913 H/1507 M Ismail As Safawi menginvasi kerajaan kecil Dzil Qadariyah yang ada dibawah Turki Utsmani karena ketamakannya  dan dendam karena   lamarannya untuk putri Raja Dzil Qadariyah Bozkort Beik ditolak. Di kota itu Ia menghancurkan kuburan ulama-ulama Sunni dan membakar sisa tulang belulangnya.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Kemarahan Salim I memuncak ketika mengetahui kejahatan Ismail As Safawi itu. Ia menyiapkan 100.000 tentara yang langsung ia pimpin sendiri ditemani anaknya yang masih berusia 12 tahun Sulaiman Al-Qanuni menuju ibu kota Daulah safawiyah Tabriz, meskipun tanpa restu dari bapaknya Sultan Bayazid dan penasihat istana.

Penyebabnya kehawatiran Sultan Bayazid akan jarak yang  jauh, matahari yang terik, dan musuh yang penuh tipu muslihat.  Namun Sultan Salim muda  tidak bergeming, ia berangkat dengan pasukannya.

Mengetahui Pasukan Turki Utsmani  telah bergerak dengan 100.000 tentaranya, Ismail As Safawi –seperti karakter penganut Safawi licik– membakar pepohonan yang menyediakan bahan makanan  yang tumbuh di sepanjang jalan yang dilalui pasukan Sultan Salim I agar pasukan muslimin kelelahan dan kelaparan sebelum perang. Mereka  lalu melakukan manuver-manuver lainnya dari berbagai arah mengulur waktu untuk menghabiskan energi pasukan Islam.

Maka tepat pada tanggal  2 Rajab 920 H/23 Agustus 1514 M. Sekali lagi ingat baik-baik tanggal dan tahun  ini. Inilah peristiwa Perang Chaldiran (Battle of Chaldiran), peperangan pasukan Muslimin dengan pasukan Syiah Safawiyah.

Peperangan yang tidak seimbang ini demenangi oleh pasukan Sultan Salim I, pasukan Syiah Safawiyah terdesak, tercerai-berai, dan melarikan diri, termasuk  pemimpin mereka Ismail as Safawi, setelah kaki dan tangannya terluka ia mengganti baju dengan pakaian tentaranya untuk mengelabui pasukan muslim sehingga selamat dari kematian.

Dengan lantunan takbir, lembah Chaldiran menjadi saksi sujud syukur Sultan Salim I atas pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.

Belum basah darah yang menempel di pakaian pasukan Muslimin , mereka melanjutkan perjalanan ke Kota Tabriz yang merupakan Ibu Kota Daulah Safawiyah dimana Ismail as Safawi melarikan diri kesana. Begitulah karakter Sultan Salim I yang tak kenal kata “lelah” dalam kamus hidupnya.

Dinasti Safawi dan Konversi Syiah di Iran (2)

Amanah memimpin kaum Muslimin selama 9 tahun ia habiskan diatas kuda menyelamatkan Negara-Negara Islam yang terjajah baik oleh Syiah atau pasukan Kristen dengan membawa putra mahkota yang masih belia usia 12 tahun yang nantinya mewarisi tahta selama 46 tahun dengan segudang jasanya untuk umat Islam.

Mengetahui kedatangan pasukan Sultan Salim I, Ismail As Safawi melarikan diri karena takut kepalanya dipenggal meninggalkan istri- istri dan anak-anaknya di belakangnya. Bersembunyi di sebuah kota bernama Khoy.

Tepat hari Jum’at, 8 Tajab tahun 920 H, pasukan Muslimin menguasai Kota Tabriz. Adzan dilantunkan dan sholat Jum’at pertama kali dilaksanakan setelah Syiah menghapus ritual wajib itu dari masyarakat Sunni di sana.

Setelah itu beliau tidak pernah istirahat, selalu ada di atas kudanya selama sembilan tahun dari satu perang ke perang lainnya  untuk menyatuka kembali negeri- negeri Islam yang tercerai berai dan dari rencana busuk kaum Safawiyah yang bekerja sama dengan pasukan Kristen Eropa untuk menggali dan memindahkan makam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.  Tidak heran jika  sejarawan menyebutnya sebagai penyelamat Daulah Utsmaniyah.

Dinasti Safawi dan Konversi Syiah di Iran (3)

Allah menghendaki lain, ketika tubuh sang pemberani itu dihinggapi penyakit disebabkan kelelahan karena terlalu banyak melakukan perjalanan, jihad  dan  terik matahari. Sudah saatnya ia turun dari kudanya dan mereguk manisnya balasan dari yang maha kuasa atas perjuangannya.

Maka tepat tanggal 9 Syawal 926 H, penyelamat kubur Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wassalam ini menemui Sang Khaliq dengan menghadiahkan anaknya Sulaiman Al-Qanuni untuk umat Islam yang telah ia didik dalam perjalanan yang panjang di atas punggung kudanya, tentang betapa pentingnya Islam dan Muslimin.

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa merahmatimu wahai Sultan Salim I. Semoga kisahmua menjadi teladan bagi kita generasi yang  lemah ini. Amin.*

Penulis anggota MIUMI Batam. Sumber sebagian ringkasan Kisah Sultan Salim I 100, Min Udzamil Islam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Daulah UtsmaniyahMuhammad al FatihSultan Salim ISyafawiyahsyiahTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perlukah Berhutang untuk Menikah?
Tulisan selanjutnya Kroasia Dipuji Karena Gelar Konferensi Internasional Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?