Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Apa Benar Ahok Fasis?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Juli 2016 10:13 10:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Juli 2016 10:13
Bagikan
Ahok juga sempat menyampaikan amarahnya ke sebuah media lain.
Bagikan

Oleh: Edy Mulyadi

 

ADA dua kata yang jadi lebih populer, khususnya di jagad media sosial (maksud saya, termasuk di pemberitaan media online) akhir-akhir ini. Kata pertama, Ahok. Kedua, fasis. Uniknya lagi, dua kata ini kok disandingkan. Jadilah kalimat “Ahok Fasis” bertebaran di medsos.

Beberapa netter menulis dengan tanda tanya (?) di belakang  “Ahok Fasis”, menjadi “Ahok Fasis?”. Tapi, sebagian lain lugas-lugas saja, tanpa embel-embel apa pun. Seperti tanpa beban. Mungkin mereka yang disebut belakangan ini yakin betul, bahwa Ahok memang fasis.

Tapi, ada lagi yang menambahkan kata “neo” di depan fasis. Jadilah “neofasis.” Nah, ini menarik. Paling tidak, begitulah yang ditulis Ale Raya dalam Kompasiana yang diberinya judul Citra Dirinya Neofasis & Arogan, Dimanakah Tempat Ahok? Artikel menarik ini bisa diklik di http://www.kompasiana.com/anakjalanraya/citra-dirinya-neofasis-arogan-dimanakah-tempat-ahok_578ee468f37e616612e66a94.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Lewat artikelnya, Ale membandingkan Ahok dengan Gubernur DKI yang legendaris, Ali Sadikin. “Ahok jelas bukan Bang Ali” tulisnya dalam subjudul artikel itu. Dia juga menyebut sejumlah tokoh China negeri ini dengan berbagai latar belakang dan jasa-jasanya kepada Indonesia.

Ale juga menyebut Rizal Ramli, Menko Maritim dan Sumber Daya yang membatalkan reklamasi Pulau G. Nah, Ahok yang meradang karena pembatalan itu, mulai mencari gara-gara dengan Rizal Ramli yang memang sudah ‘badung’ sejak mahasiswa.

“Jadi, Ahok salah alamat dan kualat mencoba melawan Rizal Ramli, yang mungkin di tahun 1978 Ahok masih pakai celana buntung dan pegang balon mainan warna-warni sambil minum susu kaleng, di saat yang bersamaan Rizal Ramli sudah dikejar-kejar Soeharto karena menentang kediktatoran dan ketidakadilan, dan untuk nilai-nilai kebenaran itu Rizal dipenjarakan oleh rezim fasis Soeharto, ” tulis Ale dalam salah satu paragrafnya.

Untungnya, Rizal Ramli menanggapi santai berbagai manuver Ahok, termasuk upayanya lapor ke Presiden. “Jangan cenganglah jadi orang. Masa segala macem mau diaduin sama Presiden,” kata Rizal Ramli usai Rakor di Kentor Kementerian Kalutan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Rabu (16/7/2016).

Dibanding Ahok, Rizal Ramli sudah menyuarakan sejak tahun 1978-an. Padahal, siapa pun tahu, penguasa Orde Baru selama hampir 32 tahun, juga di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena berbagai kebijakan ekonominya yang cenderung neolib.

Tapi, sudahlah. Saya tidak ingin membahas tulisan Ale Raya, termasuk mengapa dia menambahkan kata “neo” pada “fasis” yang kemudian dilekatkannya pada Ahok. Tapi, seperti saya tulis pada pembuka artikel ini, betapa kata Ahok dan fasis belakangan jadi lebih pupuler, inilah yang menarik perhatian saya.

Nasionalis?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan fasis sebagai prinsip atau paham golongan nasionalis ekstrem yang menganjurkan pemerintahan otoriter. Kalau menurut Oxford Dictionary, fasisme adalah extreme totalitarian right-wing nationalist movement. Terjemahan bebasnya kurang lebih, gerakan nasionalis sayap kanan totaliter ekstrim.

Kedua kamus itu mencantumkan kesamaan ciri fasisme, yaitu nasionalisme ekstrim dengan disertai kesewenang-wenangan. Sementara menurut KBBI, otoriter adalah “berkuasa sendiri dan sewenang-wenang”. Sedangkan totaliter adalah pemerintah yang menindas hak pribadi dan mengawasi segala aspek kehidupan warga negaranya.

Berpegang pada kedua kamus tadi, mohon maaf, saya kok tidak sependapat jika dikatakan Ahok fasis. Ingat, baik KBBI maupun Oxford mengaitkan fasis dengan nasionalisme ekstrim. Nah, sampai di sini kan sudah tidak pas. Mana bisa Ahok disebut nasionalis, apalagi diembel-embeli ekstrim? Lha wong pada kasus reklamasi pantai utara Teluk Jakarta dia justru gigih membela pengembang, kok. Untuk membela pengembang, Ahok bersedia melawan siapa saja, dan menabrak serenceng peraturan dan perundangan.

“Ahok itu Gubernur DKI apa karyawan pengembang,” tanya Rizal Ramli yang keheranan karena sikap Ahok yang bagai “maju tak gentar membela yang bayar.” Ehmm…

Ahok otoriter, ya. Ahok sewenang-wenang dan kasar, yes. Ahok kejam dan terbiasa melibas orang miskin (bukan kemiskinan), jawabnya YA dengan huruf besar. Ahok mulutnya seperti toilet, ya juga. Tapi kalau disebut Ahok fasis, ya jelas no, lah! Alasannya, ya itu tadi. Dia sama sekali tidak nasionalis. Merah putih sepertinya sudah luntur dari dadanya.

Dia bisa dan biasa memaki rakyatnya. Ahok tidak segan-segan menyebut seorang ibu yang mempertanyakan Kartu Jakarta Pintar (KJP) dengan sebutan “maling.”  Mana mungkin pejabat yang nasionalis tega memaki-maki rakyatnya, di depan umum pula?

Kebiasaan memaki rakyat, apalagi rakyat kecil, inilah yang membuat Rizal Ramlli berang. Buat dia, silakan saja orang memaki elit, bahkan pejabat. Tapi jangan sekali-kali memaki rakyat. Ini pula yang menjelaskan, mengapa belakangan sang Menko menunjukkan sikap tidak suka kepada lelaki yang berambisi menduduki kursi gubernur untuk periode berikutnya itu. Padahal, sebelumnya RR, begitu dia biasa disapa, bersikap netral dalam hajatan Pilkada DKI.

Ahok memang luar biasa. Mantan Bupati Belitung Timur ini juga sering mengeluarkan pernyataan sadis. Misalnya, “Tuhan aja gua lawan”. Bahkan mamanya pun bakal dia usir kalo nyusahin. Di video yang tersebar luas, Ahok secara terbuka mengatakan ajaran kristen itu konyol. Ahok juga bilang orang miskin jangan belagu. Orang miskin adalah PKI.  Saking pedenya sebagai pejabat yang ‘bersih’, Ahok mengklaim dirinya manusia setengah dewa.

Tapi yang paling mengerikan, Ahok sempat berpikir akan mengisi water canon tank dengan bensin. Dia mau menyemprot para demontran dengan bensin. Dia juga tegas menyatakan tidak ragu menembak 1.000 demonstran di depan kamera televisi.

Sebagai penutup, by the way, ada persamaan antara Ahok dan Hitler, lho. Selain sikapnya yang tidak segan-segan memusuhi rakyatnya,  mereka sama-sama doyan mereproduksi kebohongan. Keduanya yakin benar, bahwa kebohongan yang dilakukan berulang-ulang, akhirnya (bisa) dianggap sebagai kebenaran.

Nah, dengan seabrek kelakuan minus seperti itu, saya tidak tahu harus memberi Ahok label apa. Tapi yang pasti, stempel fasis tidak cocok dilekatkan kepadanya. Maksudnya, kalau kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Oxford Dictionary, lho…. *

Penulis direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokBasuki Tjahaya PurnamaGubernur DKI Jakarta
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua MUI Ma’ruf Amin Jalani Perawatan di RS Pusat Otak Nasional
Tulisan selanjutnya Amerika Jatuhkan Sanksi Atas 3 Tokoh Al-Qaeda Berbasis di Iran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?