Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Eforia Industri Start Up Digital 4.0, Lalaikan Garis Perjuangan Ekonomi Bangsa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Januari 2023 15:41 3:41 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Januari 2023 15:35
Bagikan
Bagikan

Tumbuhnya berbagai start up digital yang lazim kita kenal dengan Unicorn atau  Decacorn, disebut pakar keblinger seperti Rheinald Kasali sebagai ‘Trenda Disruption Era’

Oleh: Agus Maksum

Hidayatullah.com | INDUSTRI 4.0 yang ditandai dengan semakin tergantungnya kita pada teknologi digital membuat lifestyles kita berubah cara komunikasi berubah hubungan sosial kita berubah menjadi social media minded. Trend start up digital pada Industri 4.0 bukan soal teknologi yang menjadi masalah, tapi soal model bisnisnya.

Model bisnis yang mengarah pada unicorn, decacorn menghasilkan disrupsi, yang artinya kematian pada bidang-bidang bisnis yang di masukinya, Ojek pangkalan mati oleh Gojek, Taxi mati oleh Go-Car, Grab dsbnya atau setidaknya mereka jadi sub ordinat agar tetap hidup atau bertahan hidup.

Para pebisnis online dan toko-toko retail terdisrupsi oleh marketplace yang membawa konsep bisnis harvesting yang mengarah Unicorn Decacorn. (Unicorn/ Decacorn adalah istilah untuk valuasi sebuah perusahaan dalam mendapatkan suntikan modal investasi, bukan nilai profit/ laba yang di hasilkan perusahaan.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Bisnis tidak seharusnya membunuh kompetitor (mendisrupsi kompetitor), apalagi di negara Pancasila NKRI tercinta kita punya prinsip ekonomi yang tertuang di dalam konstitusi pasal 33 UUD 45, seharusnya dan selayaknya menjadi acuan bagi siapa saja pelaku bisnis dan regulatornya khususnya penyelenggara negara.

Prinsip kita adalah Ekonomi Pancasila, apa itu Ekonomi Pancasila terjelaskan dan tertuang di dalam pasal 33 UUD45 :

Pertama, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Kedua, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Ketiga, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Penjelasan pasal ini ada dalam penjelasan UUD45 pasal 33 sbb :

Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggauta-anggauta masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang.

Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.

Perekonomian berdasar atas demokrasi, kemakmuran bagi segala orang. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai negara.

Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan orang seorang yang berkuasa dan rakyat yang banyak akan ditindasnya. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh di tangan orang seorang.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Bertumbuhnya berbagai start up digital yang lazim kita kenal dengan Unicorn / Decacorn adalah sebuah trend yang di sebut oleh para pakar keblinger seperti Rheinald Kasali sebagai Trenda Disruption Era.

Sebuah pengertian disruption yang menyesatkan anak bangsa khususnya kelompok milenial yang kurang pemahaman terhadap Ekonomi Pancasila yang akhir- akhir ini sudah di lupakan.

Hal ini terbukti pada prakteknya mematikan kompetitor dengan menggunakan kekuatan modal/kapital, lalu semua potensi ekonomi baik UKM, Industri rumahan dan keuangan melalui fintech di kuasai oleh sebuah entitas bisnis perorangan atau keompok perusaan asing.

Termasuk big datanya terkumpul pada satu entitas bisnis tersebut dI mana PT (perusahaan) tersebut sahamnya di kuasai oleh segelintir orang asing, keaadan ini patut kita pertanyakan, di mana letak kesesuaiannya dengan Ekonomi Pancasila? di mana letak visi Indonesia merdeka di jalankan dalam trend bisnis disruption era yang sesat ini.

Bukankah model bisnis unicorn decacorn yang bersifat disrupsi ini sesuatu yang radikal? Di kenalkan dan di pahamkan secara salah pada masyarakat dalam istilah tradisi kaum intelektual, ada di sebutan “para pelacur intelektual”.

Mereka memberikan konsep pemahan ekonomi bangsa yang sesat dengan melacurkan ilmu pengetahuan melalaikan moral intelektual, keluar dari jalur paham konstitusi bangsa tanpa merasa berdosa.

Sungguh mereka yang merubah konsep ekonomi bangsa, jadi keblinger dan sesat sangat besar dosanya bagi bangsa ini ke depan bahkan sekarang.

“Para pelacur intelektual” pada umumnya bergelar profesor dan fasih berbicara layaknya pakar sungguhan di bidangnya, padahal mereka hanya membaca trend dari data global sebagai modal utamanya.

Industri 4.0 tidak seharusnya membawa model bisnis disrupsi yang mengarah pada unicorn, decacorn yang pada akhirnya “exit strateginya” akan melemparkan “buble economy” di tengah-tengah masyarakat.

Di tengah kegamangan masyarakat kita terhadap apa yang sedang terjadi pada roda ekonomi kita dengan berbagai jargon disrupsi, lalu bos start up perusahaan DISRUPSI ini di jadikan sebagai model kesuksesan kelompok milenial, yang telah buta pada arah ekonomi bangsa yang di cita-citakan pada waktu kita merebut kemerdekaan.

Lebih parah kesuksesan para owner start up digital di jadikan sebagai parameter output kesuksesan bisnis kelompok milenial dan salah satu tokoh yang telah tega menjual produk yang di branding sebagai “milik anak bangsa” sahamnya telah di miliki asing hingga 90%, tokoh ini di malah dijadikan menteri pendidikan?

Teknologi 4.0 (teknologi digital) tidak ada masalah bagi kita, teknologi bisa kita isi dengan value, termasuk value ekonomi Pancasila yang mengembangkan ekonomi bangsa dengan menerapkan nilai-nilai pasal 33 UUD45. Kita bisa kembangkan platform economic community yang tidak bersifat disruption yang mematikan kompetitor.

Model bisnis begini biasa saya sebut sebagai platforn economic community digital 4.0. Konsep mengenai ini akan saya tuliskan secara tersendiri.*

Pegiat Start Up digital berbasis economic community platform

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Digital 4.0ekonomiera disrupsiHeadlineIndustri Start Upunicorn
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kucing Thailand ‘Bermata Berlian’ Viral di TikTok
Tulisan selanjutnya Pengobatan Akupuntur Bisa Bantu Atasi Gangguan Kesuburan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Terbaru

  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?