Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Pemimpin yang Baik Menurut Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Oktober 2023 11:15 11:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Oktober 2023 11:13
Bagikan
Bagikan

Memilih pemimpin bukan hanya masalah politik, maka setiap Muslim memiliki tanggung jawab memilih pemimpin yang baik dan adil

Oleh: Bahrul Ulum

Hidayatullah.com | ISLAM sangat memperhatikan masalah kepemimpinan, karena ia merupakan suatu panggilan yang sangat mulia. Menurut Imam al-Ghazali, memperjuangkan kebaikan ajaran agama dan mempunyai kekuasaan politik (penguasa) adalah saudara kembar.

Agama adalah dasar perjuangan, sedangkan penguasa kekuasaan politik adalah pengawal perjuangan. Sedang perjuangan yang tak didasari (prinsip) agama akan runtuh, dan perjuangan agama yang tak dikawal kekuasaan akan sia-sia.” (Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer,  jilid II, hal. 913).  

Karena itu  tidak ada yang namanya pemisahan antara agama dan politik, karena politik bagian dari risalah Islam yang sempuran (Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Tarbiyah Politik Hasan Al-banna: Referensi Gerakan Dakwah di Kancah politik, Jakarta : Arah Press, 2007).

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Tentu yang memperjuangkan agama adalah mereka yang memahami agamanya dengan baik. Kekuasaan bukan sekedar untuk mendapatkan kekuasaan dunia, tetapi kekuasaan tersebut dipakai untuk memperjuangkan agama.

Karena itu memilih pemimpin yang baik merupakan kewajiban yang tidak bisa dianggap sederhana.

Kreteria pemimpin yang baik menurut Islam di antaranya, shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), dan fathonah (cerdas). Kejujuran adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Karena jika seorang pemimpin pernah ketahuan berbohong, maka pengikutnya akan menunjukkan mosi tidak percaya. Perpecahan dan pertempuran internal akan menjadi senjata yang dapat menghancurkan kelompok itu sendiri.

Amanah juga menjadi syarat mutlak bagi calon pemimpin. Dalam pengertian pemimpin haruslah seorang yang bertanggungjawab.

Jika ia sudah dipercaya untuk mengemban suatu amanah maka harus dijalankan dengan maksimal hingga selesai. Hal ini penting agar dapat dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT dan yang memberikan amanah.

Yang tak kalah penting yaitu seorang pemimpin hendaknya adalah orang yang cerdas. Hal ini penting karena ia akan memimpin banyak orang. Sehingga jika ia mengalami suatu masalah, maka dengan kecerdasannya dapat segera mencari jalan keluar.

Setelah memiliki ketiga kreteria tersebut, seorang pemimpin juga harus memiliki wawasan yang luas. Nabi ﷺ lebih memilih Khālid bin Wālid dan ‘Amr bin Ash mengisi jabatan pimpinan daripada Abu Hurairah.

Padahal Khalid dan ‘Amru baru masuk Islam dibanding Abu Hurairah. Rasulullah memilih Khalid dan ‘Amr karena keduanya dianggap cakap memimpin dan mampu menjaga amanah serta memiliki wawasan yang luas.

Sebaliknya, Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan haditsnya dan banyak mendampingi Rasulullah ﷺ tidak diberi jabatan apa-apa karena tidak memiliki kreteria tersebut (Al Mawardi, al–Ahkam al–Sulṭhaniyah, hal. 18).

Penetapan Rasulullah ﷺ tersebut menunjukkan bahwa memilih pemimpin bukan hal yang sederhana. Pemimpin selain memiliki kompetensi pokok dalam hal agama juga harus memiliki pemahaman terhadap wilayah yang dipimpinnya.

Kemudian, kecakapan tersebut juga terintegrasi dalam mengaplikasikan syariat yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia, seperti keharusan menghindari perbuatan yang merusak dan amoral semisal minum khamr dan zina (prostitusi), (QS: Al-Maidah, 90-93; Ali-Imran, 219; Al-Isra’, 32; Al-Nur, 2).

Selain itu seorang pemimpin harus memiliki kasih sayang yang tinggi. Pribadi seperti ini ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat mulia. Misalnya, Karen Arsmtrong mengakui bahwa Umar bin Khatab mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya.

Umar ketika memimpin penaklukan Yerussalem terjadi sangat damai dan tanpa tetesan darah. Ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran symbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau pengambilalihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerusalem memeluk Islam (Karen Arsmtrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, hal. 228).

Demikian juga Thomas W. Arnold mengakui keagungan dan kelembutan Abu Ubaidah Ibnu Jarrah. Ketika Abu Ubaidah membebaskan Yordania dan mendapat perlawanan dari bangsa Romawi, masyarakat setempat mendukung Abu Ubaidah.

Para pemimpin kaum Kristen meminta umat muslim membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi. Mereka berkata, “Kalian wahai kaum muslimin lebih kami cintai dari pada Romawi meskipun agama mereka sama dengan kami. Kalian lebih bisa memenuhi janji, lebih ramah, lebih bisa menahan tangan dari berbuat dzalim, dan lebih baik dalam hal melindungi kami, tetapi mereka (Romawi) selalu memaksa kami” (Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam,   hal. 48).

Dari penjelasan di atas, maka setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk memilih pemimpin yang baik dan adil. Memilih pemimpin seperti itu bukan hanya masalah politik, tetapi juga menjadi bagian integral dari tanggung jawab moral dan etika setiap Muslim.

Sebaliknya, Nabi Muhammad ﷺ mengancam kelompok yang mendukung pemimpin yang dzalim. “Dari Ka’ab bin ‘Ujrah (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah ﷺ menghampiri kami, kami berjumlah sembilan, lima, dan empat. Salah satu bilangan (kelompok) dari Arab sementara yang lain dari ‘Ajam. Beliau bersabda: Dengarkan, apa kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin, barangsiapa yang memasuki (berpihak kepada) mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta menolong kedzaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan tidak akan mendatangi telagaku.” (Riwayat Tirmidzi, Baihaqi, Hakim).

Rasul tidak menganggap orang yang memilih dan mendukung pemimpin yang pendusta dan dzalim sebagai golongannya. Karenanya, beliau mengingatkan umatnya agar tidak mendukung pemimpin seperti itu karena resiko di akhirat sangat besar.*

Penulis adalah dosen dan Sekretaris Bidang Pemikiran Islam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinememilih pemimpinMuslimpemimpin adilpolitiksifat pemimpin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Libya Usir Dubes Negara-Negara Pendukung ‘Israel’
Tulisan selanjutnya ‘Israel’ Tayangkan Iklan Propaganda di Youtube

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?