Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Kurikulum Ideologi Gender dan Pengaruhnya pada Keluarga Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Maret 2024 15:16 3:16 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Maret 2024 16:35
Bagikan
Orang tua berunjuk rasa menolak pendidikan inklusif bertentangan dengan agama mereka, terutama soal LGBT/ Foto: Jacob King/PA
Bagikan

Indonesia harus menolak ideologi gender dan kurikulum didasarkan atas konsep Comprehensive Sexuality Education (CSE), karena merusak sendi-sendi keluarga

Oleh: Dr. Bagus Riyono, MA

Hidayatullah.com | AKHIR-AKHIR ini istilah gender sangat populer dan menjadi pembicaraan di semua sektor kehidupan. Bahkan, dalam agenda sustainable development goals dari PBB, salah satu goal dari tujuh belas yang diagendakan oleh PBB adalah gender equality (United Nations, n.d).

Indonesia juga secara nasional sudah akrab dengan istilah gender mainstreaming sehingga pusat studi wanita di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sekarang berubah nama menjadi pusat studi gender.

Wacana gender ini harus diwaspadai karena sudah berkembang menjadi sebuah gerakan yang mengancam kesehatan, terutama pada remaja, baik secara fisiologis maupun psikologis.

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Secara umum, gender dipahami sebagai sebuah konstruksi sosial tentang jenis kelamin.  

Pada awalnya, pria dan wanita menurut istilah gender ini dipahami sebagai sifat atau perilaku yang cenderung maskulin atau feminin. Namun, belakangan ini identitas gender menjadi sesuatu yang menggantikan jenis kelamin, sekaligus dimanifestasikan secara biologis dengan manipulasi tubuh seseorang.

Pemikiran yang akhirnya berkembang di seluruh dunia dan menjelma menjadi sebuah gerakan bernama “ideologi gender”, yang melahirkan paham dan praktik-praktik yang berusaha mengubah cara pandang masyarakat tentang seksualitas.

Salah satu paham yang saat ini semakin gencar dipropagandakan adalah gender tidak terbatas pada pria dan wanita, tetapi ada yang disebut sebagai gender ketiga (nonbinary).

Gender ketiga ini didefinisikan sebagai bukan pria dan bukan wanita. Istilah gender ketiga tidak memiliki konsep yang jelas/definitif sehingga tidak dapat dipahami secara pasti apa yang dimaksudkan.

Dampak dari ketidakjelasan konsep gender ketiga ini menimbulkan berbagai penyimpangan pada orientasi seksual seseorang. Di antara penyimpangan itu, antara lain; homoseksual (gay dan lesbian), biseksual, transgender, dan yang terakhir adalah pedofilia.

Untuk menjustifikasi perilaku mereka yang menganut ideologi gender ini, mereka mempropagandakan apa yang disebut sebagai sexual rights yang mereka klaim sebagai bagian dari human rights.

Sexual rights adalah sebuah deklarasi yang menyatakan semua manusia memiliki hak untuk beraktivitas seksual yang tidak boleh dibatasi oleh agama, pemerintah, maupun orang tua.

Seiring fenomena ini, berkembang pula gerakan kebebasan wanita yang dikenal sebagai women‘s liberation movement. Istilah lain untuk women‘s liberation movement adalah women’s right movement yang kemudian dikenal sebagai gerakan feminisme.

Gerakan feminisme menuntut kesamaan hak dan posisi antara laki-laki dan perempuan. Gerakan ini menjelma menjadi gay rights movement yang memperjuangkan perilaku homoseksual.

Tahun 1970-an, kelompok homoseksual berhasil mempengaruhi Asosiasi Psikologi Amerika/American Psychological Association (APA) untuk mengubah status homoseksual yang semula dianggap menyimpang menjadi “sesuatu yang dianggap normal”.

Perpaduan antara gerakan homoseksual, feminisme, dan gender ini kemudian melebur menjadi gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, and Transgender) yang tahun 2015 berhasil memengaruhi Mahkamah Agung Amerika untuk melegalkan perkawinan sejenis.

Kurikulim Pendidikan Seks

Untuk mempropagandakan ideologi gender dan sexual rights ini, para pendukung gerakan ini telah menyusun sebuah “kurikulum pendidikan seksual untuk anak-anak” yang disebut Comprehensive Sexuality Education (CSE).

CSE ini berisi tentang petunjuk tentang cara-cara beraktivitas seksual bagi anak-anak. Selain itu, CSE juga menyebarkan paham tentang gender ketiga (nonbinary), yaitu bahwa setiap individu bisa memilih untuk menjadi laki-laki atau perempuan tanpa harus sejalan dengan jenis kelaminnya secara biologis.

Saat ini CSE sudah dilegalkan oleh pemerintah Amerika dan bahkan oleh PBB untuk dipropagandakan kepada seluruh negara di dunia yang menjadi anggota PBB.

Di AS sendiri banyak warga yang menentang CSE. Salah satunya Family Watch International, organisasi yang memihak dan memperjuangkan hak-hak keluarga, termasuk hak melindungi anak-anak mereka.

Di Kanada, terdapat kasus yang cukup memprihatinkan terkait dengan isu ini. Seorang ayah telah dipenjarakan karena memanggil anak perempuannya sebagai “she”,  padahal anak perempuan tersebut merasa dirinya laki-laki.

Ideologi gender ini jelas-jelas bertentangan dengan ideologi negara Indonesia yang sudah mengkristal di dalam Pancasila.

Langkah Konkrit

Ideologi gender telah menciptakan kebingungan tentang jenis kelamin yang berdampak sangat luas. Sampai sebuah film dokumenter di AS mengungkapkan masyarakat Amerika –baik yang terdidik maupun tidak terdidik–  sudah tidak lagi bisa mendefinisikan wanita (woman).

Kebingungan-kebingungan yang diciptakan oleh ideologi gender ini telah terbukti memakan korban dan akan semakin banyak korban yang berjatuhan jika tidak disadari.

Sebagai langkah konkret untuk menghadang pengaruh ideologi gender ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, tolak kurikulum pendidikan seksual yang didasarkan atas konsep Comprehensive Sexuality Education (CSE).

Kedua, kuatkan sistem hukum Indonesia agar tidak disusupi oleh ideologi gender ini yang sering menggunakan kamuflase Hak Asasi Manusia (HAM).

Ketiga, perlu disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat tentang hakikat HAM yang sesungguhnya, yaitu untuk menjunjung tinggi kemuliaan manusia.

Keempat, perlu sosialisasi yang meluas pada keluarga Indonesia melalui ormas-ormas yang peduli terhadap isu ini agar mereka waspada terhadap propaganda merusak ini.

Kelima, diperlukan kemauan politik yang tegas dengan mendasarkan pada nilai-nilai pancasila untuk menghadang masuknya ideologi gender ke Indonesia. Semoga Allah melindungi kita dari pemikiran-pemikiran yang menjerumuskan ini.*

Psikolog, pengaja di di Universitas Gadjah Mada. Artikel dipresentasikan dalam Seminar Nasional Mendampingi Remaja Memasuki Masa Pubertas dengan Sehat dan Selamat, pada 23 September 2023 di Fakultas Psikologi UGM

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Comprehensive Sexuality EducationCSEHeadlineideologi genderkeluarga IndonesiaKurikulum genderkurikulum LGBT
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Ingatkan Wajib Sertifikasi Halal Berlaku 17 Oktober
Tulisan selanjutnya Psikolog: Kebanyakan Medsos Masuk Gangguan Mental

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?