Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Tips Mendidik Anak di Era Digital: Belajar dari Nabi Muhammad

Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan dan membagikan tips bagaimana mendidik anak, tinggal bagaimana kita mengembangkannya sesuai dengan era digital saat ini

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 23 September 2024 16:39 4:39 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 23 September 2024 18:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Di era digital ini, tantangan dalam mendidik anak semakin kompleks. Informasi yang melimpah ruah dan mudah diakses menjadi berkah sekaligus ancaman. Bagaimana kita, sebagai orang tua, dapat membimbing anak-anak kita agar tetap tumbuh dengan nilai-nilai Islami di tengah derasnya arus informasi? Nabi Muhammad SAW, dengan kasih sayangnya yang luar biasa terhadap anak-anak, memberikan kita banyak pelajaran berharga yang relevan untuk diterapkan, bahkan di zaman serba digital ini.

Daftar isi
  • Tips Membimbing Anak
    • Menyaring Informasi
    • Menggunakan Teknologi secara Bijak
    • Mendidik Anak dengan Meneladani Nabi
    • Menunjukkan kasih kepada Anak-anak
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Tips Membimbing Anak

Terlepas dari kesibukan Rasulullah, beliau memprioritaskan untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak, mengajarkan kepada kita bahwa mengasuh anak-anak dapat dan harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, sesibuk apa pun kita. Sikap Nabi Muhammad SAW ini terangkum dalam sebuah ayat Al-Quran:

“Dan dengan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS Ali Imran: 159).

Menyaring Informasi

D era di mana informasi mudah diakses dan melimpah sangatlah penting untuk mendekati anak dengan bijaksana dan penuh pengertian.

Orang tua menghadapi tantangan besar dalam membantu anak-anak mereka memilah informasi yang benar dan menolak yang salah. Penting untuk mengajari anak-anak berpikir kritis dan membedakan antara sumber yang dapat dipercaya dan yang tidak, terutama saat mereka bertanya tentang Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Ibnu Abbas pernah ditanya bagaimana ia memperoleh ilmunya yang luas. Ia menjawab, “Dengan lidah yang selalu bertanya dan hati yang memahami.” (Imam Ahmad dalam kitab Fadail Al-Sahabah, 2/970).

Jawaban ini menegaskan bahwa kombinasi antara pertanyaan dan pemahaman mendalam sangat penting dalam memperoleh pengetahuan.

Pernyataan Ibnu Abbas menunjukkan pentingnya kombinasi dua kualitas: lidah yang secara aktif mencari pengetahuan melalui pertanyaan, yang merupakan naluri dalam diri setiap anak, dan hati yang memahami dan menyimpan apa yang dipelajarinya.

Ketika kedua kualitas ini hadir bersama-sama, seseorang dapat memperoleh banyak pengetahuan. Namun, jika salah satu dari kedua sifat tersebut tidak ada, maka sifat ketakwaan akan berkurang, begitu pula dengan tingkat pengetahuan seseorang sesuai dengan apa yang hilang.

Pernyataan Ibnu Abbas ini juga merupakan bantahan terhadap para filsuf dan ateis tertentu yang menganggap bahwa bertanya adalah tujuan akhir dari ilmu. Mereka terus mengajukan banyak pertanyaan tetapi tidak berusaha benar-benar mencari jawaban.

Bahkan ketika jawaban diberikan, mereka tidak berusaha memahami maknanya; sebaliknya, mereka berusaha melemahkan jawaban tersebut dengan memunculkan pertanyaan tambahan yang tak terhitung jumlahnya, yang pada akhirnya melemahkan kekuatan dan koherensi dari jawaban asli.

Akar penyebab dari perilaku ini adalah karena hati mereka tidak memiliki pemahaman yang diperlukan untuk memungkinkan pengetahuan berakar, dan mereka tidak memiliki kepastian untuk menjangkarkan pengetahuan tersebut. Akibatnya, hati mereka dipenuhi dengan keraguan, kebingungan, kegelisahan, dan kontradiksi.

Menggunakan Teknologi secara Bijak

Orang tua dapat memanfaatkan momen-momen keingintahuan dan hasrat akan pengetahuan dan pembelajaran untuk membantu anak-anak mereka mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan lebih akurat tentang kehidupan dan ajaran Nabi.

Hal ini termasuk mendorong mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bijaksana, mengeksplorasi perspektif yang berbeda, dan mencari informasi yang kredibel. Nabi sendiri berkata, “Sebaik-baik kalian adalah mereka yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Hadits ini menekankan pentingnya mencari ilmu dan membagikannya kepada orang lain, sebuah prinsip yang dapat diterapkan untuk mengajarkan anak-anak tentang Nabi di era digital. Jadi, bagaimana orang tua dapat lebih mudah memperkenalkan Nabi tercinta kita kepada anak di era konflik teknologi dan informasi ini?

Kuncinya terletak pada menggabungkan ajaran tradisional dengan alat-alat modern. Orang tua harus terlibat dengan anak-anak mereka dengan menggunakan teknologi secara bijak, baik melalui menonton video pendidikan yang disajikan oleh para ahli yang dapat dipercaya, membaca e-book interaktif, atau menjelajahi aplikasi yang dirancang untuk mengajarkan tentang Nabi dengan cara yang menarik. Di saat yang sama, orang tua harus memastikan bahwa informasi tersebut akurat dan berakar pada sumber-sumber Islam yang otentik.

Yang lebih penting lagi, orang tua harus menerapkan karakter Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari mereka karena anak belajar dengan meniru.

Mendidik Anak dengan Meneladani Nabi

Seiring bertambahnya usia anak-anak, terutama sekitar usia 6 atau 7 tahun, mereka mulai mengembangkan pemahaman tentang benar dan salah. Pada masa kritis inilah Nabi Muhammad SAW memberikan teladan sempurna untuk membimbing anak-anak dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Abdullah bin Amr bin ‘Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Yang Maha Pengasih (Allah SWT) menyayangi orang-orang yang penyayang. Jika kalian menyayangi orang-orang yang ada di bumi, Dia yang ada di langit akan menyayangi kalian.”(Sunan Abu Dawud)

Ketika Rasulullah melihat seorang anak melakukan kesalahan, beliau akan mengoreksinya dengan kebaikan dan pengertian, tidak mengomel dengan nada tinggi atau mempermalukan anak.

Umar bin Abu Salamah berkata: “Saya adalah seorang anak laki-laki yang berada di bawah asuhan Rasulullah, dan ketika tangan saya biasa berpindah-pindah di piring, beliau pernah berkata kepada saya, ‘Wahai anakku, sebutlah Nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang terdekat olehmu’”. (HR Bukhari Muslim dalam Musnad Ahmad)

Cara Rasulullah mengoreksi sikap Umar bin Abu Salamah yang sederhana ini tidak hanya membimbing sang anak, namun juga menanamkan nilai-nilai kesadaran dan etika, yang dilakukan dengan cara yang dapat menjaga harga dirinya.

Merenungkan perilaku Nabi Muhammad yang penuh kasih dan lembut terhadap anak-anak mengajarkan kita untuk menghindari tindakan yang dapat membuat Allah tidak senang dan merusak hubungan kita dengan anak-anak yang berada di bawah pengasuhan kita. Kasih sayang Nabi Muhammad kepada anak-anak digambarkan dengan indah dalam banyak tindakannya.

Sebagai contoh, beliau pernah mencium cucunya, Al-Hasan bin Ali, di hadapan Al-Aqra’ bin Habis At-Tamim. Al-Aqra’ berkata, “Saya memiliki sepuluh anak dan belum pernah mencium salah satu dari mereka.” Nabi Muhammad lantas memberi peringatan: “Barangsiapa yang tidak berbelas kasih kepada orang lain, maka ia tidak akan diperlakukan dengan penuh belas kasihan.” (HR Bukhari)

Hadits ini menggaungkan prinsip Al-Quran bahwa “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik” (Al-A’raf:56), yang menunjukkan bahwa belas kasihan akan menghasilkan belas kasihan.

Interaksi Rasulullah SAW dengan anak-anak juga mengajarkan kita bahwa menunjukkan kasih sayang dan perhatian adalah bentuk ibadah dan kepatuhan terhadap Sunnah. Menunjukkan kasih sayang, menggendong dan memeluk bayi, serta mencium anak adalah sunnah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR Tirmidzi)

Anak-anak adalah sumber kegembiraan, rahmat, dan anugerah dari Allah. Mereka membawa berkah bagi keluarga mereka dan melembutkan hati yang paling keras sekalipun, seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah berulang kali.

Menunjukkan kasih kepada Anak-anak

Yang terpenting, kita harus mengasihi anak-anak kita karena mereka yang paling memahami bahasa kasih. Nabi Muhammad mencontohkan hal ini dalam banyak cara. Salah satunya, beliau akan mempersingkat shalatnya jika mendengar suara tangisan bayi, karena tidak ingin menyusahkan ibu dari bayi tersebut. Pada kesempatan lain, beliau salat dengan menggendong seorang anak, mengangkat anak tersebut ketika beliau berdiri dan meletakkan anak tersebut ketika beliau bersujud.

Perilaku lembut ini mencerminkan kasih sayang dan kepedulian beliau yang mendalam terhadap anak-anak, sesuai dengan tuntunan Al-Quran untuk “berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang-orang miskin” (Al-Quran 2:83).

Nabi Muhammad juga sangat toleran dan pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan anak-anak. Beliau akan bermain dengan mereka, memberi mereka tumpangan di atas untanya, dan menyuapi mereka kurma. Beliau memahami bahwa anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan senang mengeksplorasi hal-hal baru.

Dalam setiap interaksinya, Rasulullah mencontohkan pentingnya kasih sayang, cinta, dan kesabaran kepada anak-anak. Dengan mengikuti teladan beliau, kita dapat mengajarkan anak-anak kita tentang karakter mulia beliau dan memastikan bahwa mereka tumbuh dengan rasa cinta yang mendalam, rasa hormat, dan hubungan yang erat dengan iman mereka. Al-Quran mengingatkan kita, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21).

Mari kita wujudkan teladan ini dalam pendekatan kita dalam mengasuh anak-anak, saat kita membimbing mereka dengan kasih sayang dan kebijaksanaan yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakmendidik anakNabi MuhammadparentingRasulullah SAWTips
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nama Pendeta Cabul Abbé Pierre Dihapus dari Ruang Publik di Prancis
Tulisan selanjutnya Makin Banyak Orang Barat Tak Punya Teman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Berita
31 Agustus 2026 21:38
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?