Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Anak-anak Merundung, Masyarakat Lalai, Pemimpinnya Rusak

Ahmad
Terakhir diupdate: 20 Juli 2025 08:11 8:11 am
Ahmad
Dipublikasikan 20 Juli 2025 08:10
Bagikan
Bagikan

Perundungan bukan sekadar kenakalan remaja, tapi bukti nyata gagalnya sistem sekuler membentuk generasi berakhlak

Hidayatullah.com | KASUS perundungan anak kembali mencuat ke permukaan, memperlihatkan wajah gelap dari kehidupan generasi muda saat ini.

Mirisnya, perundungan yang terjadi bukan lagi sekadar ejekan atau tekanan verbal, melainkan telah berubah menjadi kekerasan fisik yang mengarah pada kriminalitas. Tragisnya, pelakunya adalah anak-anak usia sekolah, bahkan teman sebaya korban sendiri.

Salah satu contoh memilukan terjadi di sebuah SMP di kawasan Cicendo, Bandung, pada Juni 2023. Seorang siswa menjadi korban penganiayaan oleh teman-teman sekelasnya. Ia dipukul, ditendang, bahkan diancam menggunakan obeng.

Lebih menyayat hati, aksi ini direkam dan disebarkan di media sosial, menandakan runtuhnya rasa empati di kalangan pelajar.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

“Korban ditendang, dipukul, bahkan diancam dengan obeng oleh temannya. Bahkan kejadian itu direkam dan videonya viral di media sosial.” (Kompas.com, 10 Juni 2023)

Belum kering air mata publik atas peristiwa itu, dua tahun kemudian muncul kasus yang lebih mengerikan. Seorang anak dipaksa minum tuak dan merokok, lalu diceburkan ke sumur oleh teman-temannya.

“Korban dipaksa minum tuak dan merokok, lalu diceburkan ke sumur.” (CNN Indonesia, 26 Juni 2025).

Kondisi korban mengenaskan: wajahnya penuh luka dan darah, sementara para pelaku tertawa lepas seolah tak merasa bersalah sedikit pun.

Dua kasus ini hanyalah pucuk dari fenomena gunung es perundungan anak yang semakin marak dari tahun ke tahun. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa kekerasan di kalangan anak-anak bukan lagi soal “kenakalan remaja”, tapi gejala dari krisis moral dan kegagalan sistemik.

Tindakan hukum memang telah dilakukan. Dalam kasus Bandung, orang tua korban melaporkan 11 pelaku, lima di antaranya ditetapkan sebagai Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH). (Kompas.com, 9 Juni 2023; RRI.co.id, 10 Juni 2023).

Dalam kasus sumur, tiga pelaku ditangkap, termasuk satu orang  dewasa. (CNN Indonesia, 26 Juni 2025)

Namun, apakah sanksi hukum mampu menghentikan kekerasan dari akarnya?

Fakta justru menunjukkan sebaliknya. Kasus-kasus ini mencerminkan kegagalan regulasi, lemahnya sistem sanksi, dan problematika definisi “anak” dalam sistem hukum. Lebih dalam, ini menunjukkan sistem pendidikan yang tidak mampu membentuk karakter anak, bahkan membiarkan mereka mengenal dan mengonsumsi hal-hal haram seperti tuak.

Krisis ini merupakan buah pahit dari sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini tak mempedulikan nilai akidah dan tak menjadikan syariat sebagai landasan membentuk manusia beradab.

Padahal Islam sangat menekankan kehormatan sesama Muslim dan melarang perundungan dalam bentuk apa pun. Rasulullah ﷺ bersabda:

    «بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم»

 “Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”    (HR. Abu Dawud no. 5004 – Shahih)

Setiap tindakan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

    فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ، وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”     (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Islam menjadikan baligh sebagai titik awal tanggung jawab hukum, bukan sekadar angka usia yang arbitrer. Nabi ﷺ bersabda:

    رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Diangkat pena (tidak dicatat dosa) dari tiga golongan: dari orang tidur hingga ia bangun, dari anak kecil hingga ia baligh, dan dari orang gila hingga ia sadar.”  (HR. Abu Dawud no. 4403; Tirmidzi no. 1423 – Shahih)

Artinya, sebelum baligh, anak harus disiapkan secara serius agar kelak menjadi mukallaf yang paham tujuan hidup, peka terhadap halal-haram, serta siap menanggung tanggung jawab moral dan hukum di hadapan Allah ﷻ.

Di sinilah pentingnya sistem pendidikan Islam yang menanamkan akidah sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tapi pembentukan pola pikir dan pola sikap Islami.

Tanggung jawab pendidikan bukan hanya di tangan orang tua, tapi juga masyarakat dan negara. Negara harus menyusun kurikulum, sistem informasi, dan sistem sanksi yang semua berlandaskan syariat.

Tak cukup menyusun regulasi atau memperberat hukuman. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma secara menyeluruh. Negara tidak boleh netral terhadap moral. Negara harus hadir sebagai pelindung akidah dan penjaga akhlak rakyatnya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali رحمه الله:

“Rusaknya rakyat disebabkan karena rusaknya penguasa. Dan rusaknya penguasa disebabkan karena rusaknya ulama. Maka rusaknya ulama karena mereka mencintai harta dan kedudukan.”   (Ihya Ulumuddin, 1/13).

Jika kita ingin menghentikan perundungan dari akarnya, solusinya bukan tambal sulam sistem sekuler. Solusi sejati adalah transformasi menuju sistem Islam yang menyatukan pendidikan, moral, dan hukum dalam bingkai syariat.

Dengan itulah akan lahir generasi bukan hanya cerdas, tapi juga bertakwa dan berkepribadian Islam yang kokoh.*/Dea Choirina, Mahasiswi, pemerhati isu anak dan Pendidikan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bulliyinggenerasi berakhlakkekerasankenakalan remajaperundungan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pak Zuhdi menjelaskan bahwa insiden tamparan yang terjadi pada 30 April 2025 terjadi karena murid melemparkan sandal hingga peci beliau terlepas.
Tulisan selanjutnya Pinsakonas Pandu Hidayatullah Silaturahmi ke Kwarnas Pramuka, Bahas Persiapan Jamnas III Pinsakonas Pandu Hidayatullah Silaturahmi ke Kwarnas Pramuka, Bahas Persiapan Jamnas III

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat

Berita
12 Juli 2026 17:41
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh
Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times
Dua Anggota Basij Tewas Dalam Serangan di Mashhad Iran

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?