Periode 1945–1975 menandai transformasi penting pendidikan Islam di Banten, di mana pesantren dan madrasah beradaptasi dengan modernisasi serta kebijakan negara, meskipun masih ada kesenjangan penelitian yang perlu diisi
Oleh: Jemmy Ibnu Suardi
Hidayatullah.com | PADA Periode 1945-1975 merupakan fase penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Banten, terutama pasca-kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini, lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pesantren mengalami transformasi signifikan akibat dinamika politik nasional dan lokal (Djumhur & Danasasmita, 1983). Kebijakan pemerintah pusat tentang pendidikan agama, termasuk Undang-Undang Pendidikan No. 4 Tahun 1950, turut memengaruhi struktur kurikulum madrasah di Banten (Noor, 2015).
Beberapa pesantren tua seperti Pesantren Caringin dan Pesantren Cadasari memainkan peran sentral dalam mempertahankan tradisi keilmuan Islam sambil mengadopsi elemen modernisasi (Zamakhsyari, 1982).
Studi kasus menunjukkan bahwa madrasah-madrasah di Serang dan Pandeglang mulai memperkenalkan mata pelajaran umum sejak akhir 1950-an sebagai respons terhadap tuntutan zaman (Fadilah, 2018).
Pendidikan Islam di Banten periode ini tidak terlepas dari konteks budaya Sunda-Banten yang khas. Penelitian mengungkapkan bagaimana tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berpengaruh terhadap model pengajaran di beberapa pesantren (Ricklefs, 2007).
Namun, terdapat kesenjangan penelitian mengenai peran perempuan dalam pendidikan Islam Banten era ini, di mana sumber-sumber primer masih terbatas (Smith, 2020).
Dokumen arsip menunjukkan bahwa periode 1960-an merupakan masa sulit bagi pendidikan Islam di Banten akibat ketidakstabilan politik (Arifin, 2009). Namun, justru pada masa Orde Baru awal (akhir 1960-an hingga 1975) terjadi institutionalisasi madrasah melalui kebijakan standardisasi yang dipromotori Kementerian Agama (Hefner, 2009).
Studi-studi yang ada cenderung terfokus pada aspek institusional tanpa banyak mengungkap praktik pedagogis sehari-hari di ruang kelas. Selain itu, sumber-sumber lokal seperti dokumen pesantren atau catatan murid dari periode ini masih belum banyak dieksplorasi (Abdullah, 2016). Tren penelitian terbaru mulai beralih ke pendekatan sejarah lisan untuk mengisi kesenjangan ini (Bruinessen, 2013).*
Peminat Sejarah dan Kebudayaan Banten




