Dakwah bukan soal hasil cepat atau lambat, melainkan keteguhan hati menjaga keikhlasan dalam setiap fase—baik saat sepi merintis maupun ramai oleh keberhasilan.
Oleh:Ahmad Firdaus
Hidayatullah.com | DAKWAH bukan sekadar perjalanan menyampaikan kebenaran. Ia adalah perjalanan rasa—yang hanya dipahami oleh mereka yang menjalaninya. Di antara sekian banyak rasa itu, ada dua yang paling kontras namun sama-sama indah: kenikmatan merintis dan kenikmatan menyaksikan keberhasilan.
TIDAKsemua da’i merasakan keduanya. Bahkan, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena tidak kuat menanggung fase pertama.
Merintis dakwah adalah fase paling sepi. Seorang da’i ditugaskan di tempat baru, dikenal pun belum. Mengajak orang sering ditolak. Kegiatan yang dihidupkan belum diminati. Bahkan, yang datang terkadang hanya anak-anak yang masih belajar adab—ribut, keluar masuk, dan belum memahami kesungguhan majelis ilmu.
Namun justru di situlah letak kenikmatannya. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika seseorang tetap datang, tetap mengajak, dan tetap berharap—meski belum melihat hasil. Rasa itu adalah perpaduan antara sabar, tawakal, dan ikhlas.
Di fase ini, seorang da’i tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Tidak ada keramaian, tidak ada pujian, tidak ada pengakuan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa Allah melihat setiap langkahnya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Para ulama telah lama mengingatkan bahwa nilai sebuah amal bukan pada besarnya hasil, tetapi pada lurusnya niat. Amal yang dilakukan dalam kesunyian, jauh dari sorotan manusia, sering kali lebih dekat kepada kejujuran hati.
Merintis dakwah ibarat menanam di tanah kering. Tidak ada jaminan akan tumbuh, tetapi tetap ditanam. Justru dalam proses itulah hati menemukan ketenangan.
Ramainya Keberhasilan, Besarnya Ujian
Berbeda dengan merintis, keberhasilan menghadirkan suasana yang ramai. Pendukung mulai berdatangan. Kegiatan perlahan hidup. Anak-anak yang dahulu belum tertib kini mulai duduk tenang. Wajah-wajah baru bermunculan. Bahkan, nama seorang da’i mulai dikenal.
Di titik ini, kebahagiaan hadir dalam bentuk yang nyata. Ada rasa haru melihat perubahan, dan syukur atas buah kesabaran panjang.
Namun di balik itu, tersimpan ujian yang jauh lebih halus. Jika pada fase merintis seorang da’i diuji dengan kesabaran, maka pada fase keberhasilan ia diuji dengan keikhlasan.
Riya bisa masuk tanpa terasa. Ujub dapat tumbuh perlahan. Hati mulai tergoda untuk merasa bahwa semua ini adalah hasil usaha diri, bukan semata karunia Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Barang siapa beramal agar didengar orang lain, Allah akan memperdengarkan (aibnya). Dan barang siapa beramal karena riya, Allah akan menampakkan (niatnya).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di sinilah banyak yang tergelincir. Tidak sedikit yang kuat di awal, tetapi melemah ketika berhasil—bukan karena kurang ilmu, melainkan karena tidak siap menghadapi “ramainya hasil”.
Dua Nikmat, Dua Jalan Menuju Allah
Merintis dan berhasil bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya adalah bagian dari satu perjalanan yang sama.
Merintis mengajarkan kita untuk:
- Bergantung kepada Allah
- Bersabar tanpa hasil
- Ikhlas tanpa pujian
Sementara keberhasilan mengajarkan kita untuk:
- Bersyukur tanpa kesombongan
- Tetap rendah hati
- Menjaga niat di tengah keramaian
Yang berbahaya bukanlah tidak berhasil, tetapi kehilangan Allah di salah satu fase tersebut.
Tidak Semua Menyaksikan Hasil
Ada satu kenyataan yang sering dilupakan: tidak semua yang menanam akan melihat panen. Sejarah dakwah para nabi membuktikan hal itu. Ada yang berdakwah ratusan tahun dengan pengikut yang sedikit. Ada pula yang hasil dakwahnya baru terlihat setelah ia tiada.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ
“Sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan Kamilah yang akan menghisab.” (QS. Ar-Ra’d: 40)
Hal itu tidak mengurangi nilai perjuangan mereka sedikit pun. Karena dalam dakwah, yang dinilai bukanlah hasil, melainkan kesetiaan dalam berjalan.
Lebih Baik Sepi Bersama Allah
Pada akhirnya, seorang da’i harus jujur kepada dirinya sendiri: apakah ia berdakwah untuk melihat hasil, atau untuk memenuhi panggilan Allah?
Jika harus memilih, maka lebih baik berjalan di jalan sepi bersama Allah, daripada berjalan di jalan ramai namun kehilangan-Nya.
Namun, jika Allah menganugerahkan keduanya—proses merintis yang ikhlas dan keberhasilan yang disyukuri—maka itulah nikmat yang sempurna. Dakwah bukan tentang cepat atau lambatnya hasil, tetapi tentang tetap berjalan—dalam sepi maupun ramai.*
Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bulukumba 2017–2022. Paoteko, 25 Maret 2026




