Sambungan artikel PERTAMA
oleh: Muh. Nurhidayat
Majalah Percikan Iman dan tabloid MQ adalah contoh media cetak Islam yang sulit eksis karena tidak adanya kaderisasi dalam pengelolaanya. Kedua media terbitan jaringan media MQ Bandung itu sekarang tidak terlihat lagi di pasaran. Padahal keduanya sempat menjadi media yang boleh dianggap laris dan banyak dibaca ibu-ibu muslimah Indonesia.
Namun ketergantungan yang besar terhadap kharisma KH. Abdullah Gymastiar—sebagai penulis utama—telah membuat Percikan Iman dan tabloid MQ tidak mampu melakukan kaderisasi. Ketika AA Gym—terlihat mulai—jarang menulis lagi, kedua media cetak itu pun sulit diketahui lagi eksistensinya.
Demikian pula dengan 2 majalah Islam mainstream di Indonesia, Al Muslimun dan Media Dakwah. Sebenarnya masih banyak kaum muslimin yang masih ingin menikmati laporan-laporan dunia Islam maupun artikel-artikel dakwah yang berbobot dari kedua majalah tersebut. Tetapi Al Muslimun dan Media Dakwah telah lama ‘meninggalkan pembacanya’ dengan berhenti terbit. Padahal keduanya telah puluhan tahun rutin ‘menyapa’ khalayaknya. Hal ini juga karena tidak ada yang meneruskannya.
Kedua, masalah konflik internal. Suratkabar harian tertua dan sempat puluhan tahun terbanyak tirasnya di Makassar, Pedoman Rakyat, tidak dapat diselamatkan lagi pada 2007. Penyebabnya adalah konflik internal yang melanda generasi ke-3 dari para pendirinya. Karena tidak menemukan kata mufakat dalam perselisihan tersebut, para generasi ke-3 pendiri Pedoman Rakyat lebih memilih menutup suratkabar yang lahir pada 1949 itu, meskipun masih banyak memiliki pembaca setia (bahkan boleh dibilang pembaca fanatik), terutama dari kalangan dosen, guru, dan para pimpinan instansi pemerintah, serta para tokoh agama (ulama maupun pendeta) di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Dalam pengamatan penulis, tidak ada media cetak Islam yang ‘menghilang’ dari pembacanya karena adanya konflik internal.
Ketiga, masalah jatuhnya nilai saham. Di AS, sebagian besar media cetak ‘menceburkan diri’ ke dalam bursa efek yang secara ekonomi bukanlah merupakan sektor ril. Sehingga banyak suratkabar negara Paman Obama yang gulung tikar setelah tidak mampu menghadapi gejolak bursa efek. Ketika nilai saham jatuh, maka bangkrutlah media-media cetak tersebut. Meskipun secara ril masih memiliki jutaan pembaca setia.
Contoh korporasi/jaringan media cetak AS yang mengalami nasib seperti ini pada tahun 2008 adalah Freedom Communications, Journal Register Company, Minneapolis Star Tribune, Philadelphia Newspapers LLC, The Sun Times Media Group, serta Tribune Company.
Pada tahun 2009 Tucson Citizen (koran tertua di Arizona), The San Diego Union-Tribune, dan sejumlah koran lainnya pailit juga karena jatuhnya nilai saham dalam dinamika sektor non-ril bursa efek, meskipun pada sektor ril-nya tetap dibaca banyak orang.
Dalam hal ini, jelas tidak ada media cetak Islam yang bangkrut karena ‘berjualan’ saham. Sebab saham konvensional (bukan sukuk) merupakan bentuk permodalan non-ril dan tidak nyunnah.
Keempat, masalah perubahan ideologi, visi, dan misi.
Media cetak Islam sebenarnya diuntungkan dengan komunitas Muslim yang menjadi pembaca setia (bahkan boleh dibilang fanatik). Selama tidak merubah ideologi, visi, dan misinya, maka insya Allah media Islam akan tetap eksis. Ketika media (cetak) Islam melakukan perubahan ideologi, visi, dan misinya, maka sama artinya dengan ‘meninggalkan pembacanya’. Fenomena ini akan ‘dibalas’ pembaca dengan meninggalkan media tersebut. Mereka enggan lagi membacanya, apalagi mau membeli dan berlangganan.
Fenomena ini menimpa harian Pelita. Semasa orde baru, Pelita membawa aspirasi politik PPP (parpol ‘Islam’ di masa tersebut). Pelita bersaing ketat dengan harian Suara Karya (milik partai penguasa orde baru, Golkar) dalam membangun opini publik. Suratkabar kebanggaan kaum muslimin yang pernah diawaki Hartono Ahmad Jaiz dkk. ini tercatat aktif meng-counter pemikiran neolib yang mulai diimpor ke Indonesia pada dekade 70-an oleh Nurcholis Madjid dkk.
Namun pasca reformasi, Pelita ‘meninggalkan pembacanya’ dengan merubah ideologi, visi, dan misinya. Kabarnya, Pelita berubah jatidirinya setelah diakuisisi seorang tokoh parpol sekuler. Sehingga para pembaca setia yang berbasis masjid dan pesantren pun enggan membaca—apalagi berlangganan—Pelita. Sehingga koran tersebut kini masih terbit namun tidak eksis lagi. Seorang jurnalis muslim senior menilai eksistensi Pelita sebagai media cetak yang (maaf) “la yahya wala yamut” (orang Indonesia menyebut: hidup segan, mati pun tak mau).
Nasib lebih tragis dialami majalah Islam Panji Masyarakat. Pada masa orde baru, Panji adalah salah satu majalah Islam mainstream yang sangat eksis. Namun setelah reformasi 1998, media cetak itu ‘meninggalkan pembacanya’ dengan merubah ideologi dari media Islam menjadi media umum. Harapannya, Panji dapat menambah jumlah pembacanya. Panji ingin mengikuti kesuksesan pasar majalah Tempo dan Gatra. Tetapi kenyataannya, Panji seakan gamang dengan perubahan ‘ruh’-nya. Akibatnya, jumlah pembaca tidak bertambah, malah pembaca setia—dari kalangan Islam terpelajar—pun meninggalkannya. Kini majalah tersebut hanya tinggal kenangan sekaligus ibrah bagi para pengelola media Islam lainnya, agar istiqamah dalam menjaga ideologi, visi, serta misi media.
Strategi Kebangkitan Media Cetak
Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan media cetak agar dapat tetap terbit teratur (survive), bahkan bisa bangkit dan menjadi eksis di tengah pesatnya perkembangan internet.
Pertama, memperkuat positioning dan segmentasi pembaca.
Positioning sangat penting bagi media cetak di era konvergensi ini. Sebab suratkabar/majalah tanpa kekhususan identitas dan isinya akan ditinggalkan pembaca karena masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi mulai dari yang sangat umum hingga sangat khusus di internet.
Dengan adanya positioning identitas dan isi, media cetak secara otomatis juga menghasilkan segmentasi pembaca yang khusus pula, dan mereka sangat setia menjadi pembaca, pembeli, bahkan pelanggan media cetak tersebut meskipun internet telah datang ‘menyerang’ media cetak dari berbagai sisi kelebihannya.
Contoh media cetak Indonesia yang secara sadar memperkuat positioning dan segementasi pembacanya adalah harian Kompas. hingga kini Kompas tetap menjadi suratkabar harian terbanyak oplahnya di Indonesia. Dengan positioning sebagai koran serius dan semi-ilmiah, Kompas berhasil membangun segementasi pembaca dari kalangan menengah ke atas yang sebagian besar berpendidikan tinggi (minimal S-1). Mereka adalah pembaca setia Kompas yang umumnya berlangganan dan merasa bangga (bisa dianggap sebagai prestise) ketika mengkonsumsi informasi dari media cetak yang didirikan Jakob Oetama dan PK. Ojong itu.
Karena alasan prestise itulah, pakar linguistik Universitas Hasanuddin, Ayub Khan (2015) berkomentar, banyak dosen muslim di Indonesia senang berlangganan—dan tentu saja membaca—Kompas, meskipun mereka tahu bahwa koran tersebut dikelola oleh kelompok dengan ideologi, visi, dan misi Katolik.
Positioning adalah hal penting yang banyak dilupakan oleh—sebagaian besar—media cetak Islam. Padahal positioning yang baik dapat melahirkan segmentasi khalayak yang jelas.
Harian Republika mungkin bisa dijadikan contoh kasus masalah positioning paling fenomenal yang menimpa media cetak Islam. Koran ini dilahirkan oleh ICMI pada 1993 silam, dengan semangat dakwah yang menggebu-gebu. Begitu prospektifnya ketika dilahirkan, sampai banyak kalangan memprediksi suratkabar ‘Islami’ itu bakal menggantikan popularitas Kompas.
Namun sayang, Republika beberapa tahun setelah ‘dilahirkan’, mulai dianggap tidak mampu mempertahankan positioning-nya dengan baik. Kaum muslimin terpelajar yang pada awalnya bangga membaca—dan membeli/berlangganan—Republika, lama kelamaan menjadi heran atas melencengnya koran tersebut dari ‘ruh’-nya. Pelencengan tersebut nampak dengan maraknya reportase maupun artikel yang tidak sejalan dengan aqidah Islam sendiri.
Pakar studi keislaman dari Universitas Ibnu Khaldun yang pernah menjadi jurnalis Republika generasi awal, Adian Husaini (2003), menyayangkan koran itu telah berubah haluan, dari media cetak pembela Islam, menjadi media pengusung aliran-aliran yang menyimpang dari agama Nabi Muhammad saw.
Akibatnya, jangankan mampu menggantikan—atau setidaknya mengimbangi—popularitas Kompas. Republika malah banyak ditinggalkan kaum muslimin terpelajar. Seorang mantan pimpinan PWI pusat, mengungkapkan, koran bentukan ICMI itu selama beberapa waktu terus merugi. Seorang tokoh Islam pun terpaksa mem-backup dana dalam waktu yang tidak singkat, demi menjaga Republika agar bisa tetap survive.
Salah satu media cetak Islam nasional yang dianggap eksis setelah memanfaatkan prinsip positioning dan segmentasi pembaca adalah majalah Suara Muhammadiyah (SM). Meskipun—dalam kacamata studi jurnalisme—media ini bukan lembaga pers murni, SM mampu bertahan di tengah ‘kejamnya’ era konvergensi yang telah ‘membunuh’ banyak media cetak kelas dunia.
Media cetak milik orrmas Islam tertua di Asia Tenggara ini berfokus pada reportase dan kajian seputar dunia Islam yang diselingi dengan berita-berita aktivitas dakwah para kader Muhammadiyah di dalam maupun luar negeri. Dengan menjadikan kultur ke-Muhammadiyah-an sebagai identitasnya, SM membidik para anggota/kader Muhammadiyah sebagai pembaca utamanya. Meskipun oplahnya tidak terlalu banyak, SM bisa tetap eksis hingga kini.
Kedua, meningkatkan kualitas reportase berita-berita khas.
Salah satu kriteria umum nilai berita adalah kedekatan (proximity). Kedekatan geografis (bagi media cetak lokal) dan kedekatan psikologis (bagi media cetak segmentasi khusus, seperti media Islam) merupakan modal bagi media cetak untuk bisa eksis. Sehingga kualitas reportase berita dan artikel yang khas tentang kedekatan (geografis maupun psikologis) itu, insya Allah dapat memperpanjang usia media cetak.
Mengapa demikian?
Karena setiap orang senang mencari/memperoleh informasi tentang orang-orang lain yang dianggap dekat darinya, baik secara geografis maupun secara psikologis.
Kesenangan orang mengetahui informasi tentang orang-orang yang dekat secara geografis dimanfaatkan secara cerdas oleh JPNN. Jaringan media yang berpusat di Surabaya ini sukses mengelola koran harian lokal dengan konsep Radar-nya di 133 kota seluruh Indonesia. Keberhasilan konsep Radar ini akhirnya ditiru oleh 2 jaringan media pesaingnya, KKG dan MNC. KKG membuat konsep Tribun yang eksis di 18 kota. Sementara MNC dengan konsep Koran Sindo-nya dapat eksis di 9 kota.
Ternyata keampuhan peningkatan kualitas berita-berita khas segmentasi khalayak lokal (memanfaatkan kedekatan geografis) tidak hanya dirasakan oleh pengelola media cetak daerah di Indonesia saja. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia. Sebagai contoh, di tengah gencarnya penetrasi internet, salah satu raja media dunia, Warren Buffett pada 2012 membeli 63 koran di seluruh AS milik jaringan General Media, yang totalnya mencapai USD 142 juta (sekitar Rp 1,56 trilyun). Buffett menganggap berinvestasi di media cetak lokal tidak akan pernah rugi secara bisnis.
Bagi media cetak Islam, umat butuh suguhan informasi tentang orang-orang seiman yang dekat secara psikologis, meskipun jauh dari segi geografis. Sejujurnya, hal ini yang secara konsisten diberikan Republika sejak pertama kali dilahirkan pada 1993 silam. Media cetak bentukan ICMI tersebut aktif melaporkan keadaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, baik keadaan suka maupun duka. Bahkan setiap Jumat, Republika membuat suplemen berisi feature tentang dunia Islam dengan tema-tema kontemporer.
Mungkin hal inilah yang masih turut menyelamatkan Republika sehingga tetap eksis di Indonesia, meskipun jumlah oplahnya masih jauh di bawah angka yang diimpikan pada masa kelahirannya.* (BERSAMBUNG)
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo, mantan pengurus KAMMI Daerah Sulsel