Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Mari Sikapi “Islam Nusantara” Secara Adil [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juni 2015 15:55 3:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juni 2015 16:30
Bagikan
Salah satu ritual 1 Suro, hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura (Suro) yang bertepatan dengan 1 Muharram (Tahun Baru Islam) dalam kalender hijriyah
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Adif Fahrizal

Agenda Liberalisasi?

TERLEPAS masih kaburnya wacana “Islam Nusantara”, berdasarkan definisi-definisi di atas ada benang merah bahwa wacana ini harus dipahami dalam konteks hubungan antara ajaran Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al Qur`an dan Sunnah -”Islam universal” dalam istilah  Azyumardi Azra- dengan realitas sejarah dan sosial-budaya serta kondisi lokal Nusantara. Dalam kaitannya dengan hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa Islam memang mengalami perjumpaan dengan budaya masyarakat penganutnya yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Perjumpaan Islam dengan budaya yang beraneka ragam menghasilkan corak budaya yang beraneka ragam pula antara umat Islam di satu wilayah dengan wilayah lainnya meskipun tetap ada benang merah dan  pembagi bersama yang mempersatukan perbedaan-perbedaan tersebut yaitu prinsip tauhid.

Berangkat dari sini kita bisa mengasumsikan bahwa “Islam Nusantara” yang diwacanakan belakangan ini sesungguhnya ada pada ranah kebudayaan yaitu kebudayaan Islam khas Nusantara yang berbeda -meskipun juga memiliki persamaan- dengan kebudayaan Islam di wilayah-wilayah Dunia Islam lainnya.

Baca Juga

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka

Walaupun sama-sama berbicara tentang Islam dalam ranah kebudayaan, jika kita cermati definisi-definisi “Islam Nusantara” di atas ada perbedaan signifikan antara definisi “Islam Nusantara” dari intelektual kampus (UIN) yang diwakili Azyumardi Azra dengan definisi “Islam Nusantara” dari intelektual pesantren yang diwakili K.H. Afifuddin Muhajir dan Ahmad Baso.

Dalam definisi  Azyumardi “Islam Nusantara” didefinisikan pertama-tama sebagai “Islam yang distingtif” yang dibedakan dengan “Islam universal”. Menilik definisi ini tampak adanya asumsi bahwa ada dua jenis Islam, yaitu “Islam yang distingtif” -dengan “Islam Nusantara” sebagai bagian darinya- dan “Islam universal” yang kedua-duanya diposisikan secara -kurang lebih- setara.

Terlihat bahwa tidak ada dimensi normatif dalam definisi ini. Tidak ada tendensi untuk membedakan antara ajaran Islam yang sebenarnya atau seharusnya sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur`an, Sunnah, dan kitab-kitab para ulama dengan praktik keberislaman masyarakat, seolah kedua-duanya sama-sama sah disebut sebagai “Islam”.

Jika mengikuti cara berfikir ini maka tidak ada bedanya antara masyarakat yang menjalankan shalat lima waktu dengan masyarakat yang menganggap shalat bisa diganti dengan sekadar mengingat Allah misalnya, karena kedua-duanya sama-sama perwujudan dari “Islam” dan tidak ada yang boleh disebut lebih benar dari yang lain. Baik keyakinan bahwa shalat lima waktu wajib hukumnya maupun keyakinan bahwa shalat lima waktu bisa diganti dengan sekadar dzikir saja sama-sama dianggap sebagai penafsiran semata yang tidak mutlak kebenarannya (Untuk kritik lebih lanjut atas wacana “Islam Nusantara” versi intelektual kampus ini ada di artikel saya sebelumnya “Islam Nusantara”. Makhluk Apakah Gerangan?).

Berbeda dengan definisi dari Azyumardi yang mewakili kalangan intelektual kampus, definisi “Islam Nusantara” dari Kiai Afifuddin dan Ahmad Baso sebagai wakil dari kalangan intelektual pesantren masih memiliki dimensi normatif. Kiai Afifuddin membatasi “Islam Nusantara” sebagai “faham dan praktik keislaman di bumi Nusantara” sedangkan Ahmad Baso membatasi “Islam Nusantara” sebagai “ma’rifatul ulama-i-l-Indonesiyyin” atau “majmu’atu ma’arifil -l- ulama-i-l-Indonesiyyin”. Kedua-duanya tetap disandarkan pada teks syariat (Kiai Afifuddin) atau adillatihat tafshiliyyah (dalil-dalil yang terperinci) (Ahmad Baso) hanya saja ia merupakan usaha untuk menjawab permasalahan yang timbul dari realitas historis dan sosial-budaya Nusantara.

Dengan demikian tersirat asumsi dasar bahwa “Islam Nusantara” dalam pengertian ini tidak setara dengan Islam itu sendiri sebagaimana yang terkandung dalam nash. “Islam Nusantara” hanyalah pengejawantahan dari teks syariat atau dalil-dalil terperinci yang meliputi Al Qur`an, hadits, ijma’, dan qiyas dengan mempertimbangkan realitas Nusantara yang bisa jadi berbeda dengan realitas di negeri-negeri lainnya.

“Islam Nusantara” adalah sekadar produk ijtihad yang bisa benar dan bisa salah, yang penilaian benar atau salahnya harus dikembalikan pada hal-hal yang sifatnya ushul (pokok) dalam agama.

Melihat perbedaan definisi tersebut kita bisa melihat bahwa wacana “Islam Nusantara” yang diusung satu kalangan bisa berbeda secara signifikan dengan wacana “Islam Nusantara” yang diusung kalangan lainnya sekalipun menggunakan istilah yang sama. Di sinilah perlunya kita menyikapi wacana ini dengan bijak. Anggapan bahwa “Islam Nusantara” hanya kedok bagi agenda liberalisasi Islam memang ada benarnya jika yang dimaksud adalah “Islam Nusantara” dalam versi intelektual kampus. Akan tetapi jika anggapan ini dialamatkan kepada wacana “Islam Nusantara” menurut versi intelektual pesantren maka ia menjadi tidak tepat.

Dengan kata lain mencap “Islam Nusantara” sebagai sebuah proyek liberalisasi Islam adalah kesimpulan yang terburu-buru hasil dari over-generalisasi dan simplifikasi masalah.* (bersambung)

Penulis adalah mahasiswa S2 Sejarah Universitas Gajah Mada

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ArabindonesiaislamIslam Nusantaraislamisasinusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemberdayaan Ekonomi BMH di Pakowa Bunta Sabet Juara I Propinsi
Tulisan selanjutnya TV Belanda Nekad Tayangkan Kartun Nabi Muhammad

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Berita
1 September 2026 09:01
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

18 April 2026 09:01
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?