Oleh: Maya Ummu Azka
Diakui atau tidak, media telah menjadi alat kontrol masyarakat. Terlebih dalam era kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat. Berbagai arus informasi mengepung dari segala penjuru, kapanpun dan di manapun.
Apa yang dipropagandakan secara masif oleh media, itulah yang akan menjadi opini umum di masyarakat. Sesuatu yang remeh bisa jadi besar ketika media mengangkat dan membesarkannya. Salah satu contoh adalah bagaimana Presiden AS, Barrack Obama memanfaatkan media sebagai ajang mendongkrak popularitas. Bahkan tak dapat dipungkiri kemenangannya merupakan buah keberhasilan kampanye melalui media. Kemudian langkah inipun digunakan oleh Tim Sukses Jokowi untuk memenangkan kursi orang nomer satu di Indonesia.
Dimana Posisi Media?
Setia[ media pasti mengklaim netral, namun faktanya jelas terlihat adanya keberpihakan. Baik keberpihakan pada otoritas penguasa ataupun penyandang dana.
Naasnya, hingga kini Yahudi masih menjadi pemegang kekuasaan atas media massa, baik skala internasional maupun lokal. Ini sejalan dengan Protokol ke 12 Gerakan Zionis.
Theodore Hertzl (wartawan Yahudi), peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional, dalam konferensi di Swiss tahun 1897 pun mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.”
Penguasaan Yahudi terhadap media massa bisa terlihat dari fakta banyaknya kantor-kantor berita yang dikuasai atau menjadi corong mereka. Misalnya: Reuters (Inggris) yang dibentuk Julius Powell (Yahudi), AFP (Prancis) dan AP (AS), ABC yang Dirut Pelaksananya Leonard Goldenson dan Direktur Entertainmennya Stuart Bloomberg (Yahudi), CBS yang oleh didirikan William S. Paley (Yahudi Rusia), Fox News yang didirikan Rupert Murdoch (Yahudi Australia) pada 1996.
Termasuk pula media sosial Facebook yang didirikan oleh Mark Zuckenberg, seorang Yahudi.
Peran Insan Media Muslim
Di Indonesia, apapun ide perjuangan penegakkan syariat senantiasa diterima kurang simpati oleh media massa mainstream. Bahkan mereka senantiasa berusaha mengaburkan ide islam dan menebar opini negatif terhadapnya.
Media sebagai alat propaganda yang efektif diharapkan mampu memberikan pencerdasan politik di tengah masyarakat, bukan menjadi corong kepentingan rezim neolib, penjajah asing atau malah menebar gaya hidup yang merusak.
Keberadaan media di tengah kebobrokan sistemik saat ini sangat dibutuhkan untuk mengarahkan masyarakat pada Islam sebagai pegangan kebenaran. Jika opini Islam ini disebarkan secara masif pada akhirnya akan membangun kesadaran masyarakat.
Memang benar, media besar dunia saat ini dikuasai Yahudi yang berideologi kapitalisme. Namun kita tidak boleh diam saja dan berputus asa. Justru kondisi ini harus dijadikan cambuk bagi para insan media muslim untuk berdakwah melalui media secara cerdas dengan lebih kencang.
Bukankah Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ۬ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّڪُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىۡءٍ۬ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ (٦٠)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Anfal [8]: 60).
Keimanan pada Allah menuntut insan media muslim mengerahkan segenap daya dan kekuatan dalam menyuarakan kebenaran Islam di kancah perang opini ini. Keimanan pula yang mendorongnya untuk mengoptimalkan peran media sebagai mikrofon untuk memperbesar gaung dakwah. Dan itu jua lah yang seharusnya membentengi insan media muslim dari iming-iming kenikmatan dunia yang akan menggerus idealisme mereka.
Untuk itu, insan media muslim harus senantiasa mengasah kepekaan berpikir serta membangun kesadaran politiknya. Dalam artian memahami problematika masyarakat serta meyakini syari’ah dan khilafahlah solusi tuntas atas seluruh permasalahan itu. Dengan demikian, ujung-ujung pena mereka akan selalu siap menjadi amunisi yang senantiasa menyuarakan kebenaran dan mengungkapkan kebathilan. Allahu a’lam bi shawwab.*
Penulis peminat masalah sosial keagamaan